
Pagi sudah meniti menuju siang, si kecil Kaffi melompat riang berlari dari pangkuan Ayuna.
“Ompa….Ompa!” teriaknya menyongsong sosok tubuh tegap yang menghampiri mereka. Ayuna hanya duduk di tempatnya, membiarkan putri majikannya itu berlari di jalan mulus beraspal.
Istana kediaman papa-mama serta kakek-nenek Kaffi memiliki halaman luas berumput hijau yang di kiri kanannya membentang jalan berapal, di sisi barat berujung pada tempat parkir yang mampu menampung sepuluh buah mobil. Sedangkan jalan aspal di sisi timur berakhir pada servis area.
“Hai Kaffi, sini sama Om!” Saka menggendong keponakan imutnya lalu duduk menjejeri Ayuna di undakan teras berlantai marmer. Ayuna sedikit menggeser tubuhnya, tak tahu harus menyapa atau bicara apa. Hari ini baru bertemu kembali dengan Saka setelah tiga bulan yang lalu pemuda itu membawanya ke istana kediaman ini.
“Kita jalan yok Ompa! Ayooo….Afi mau es krim!” Kaffi merengek sambil merangkulkan tangannya pada leher Saka. Bocah itu tak punya alasan lain selain cemilan dingin yang menurutnya lezat, padahal di rumahnya ini selalu tersedia es krim dalam box-box beraneka rasa.
Ayuna merasa aneh juga melihat betapa akrabnya Kaffi yang berumur lima tahun itu dengan laki-laki ini, padahal kebersamaannya dengan Saka terhitung jarang. Kaffi lahir pada saat Saka masih kuliah, lalu saat Kafi batita pemuda itu ,lulus dan memilih bekerja jauh dari keluarga besarnya.
“Ayo Ay, kita bawa kaffi jalan sebentar. Kasian dia bosen di rumah terus,” Saka berucap sambil berdiri. Ayuna meraih tangan Kaffi berjalan mengiringi laki-laki itu, ternyata mereka diantar oleh sopir keluarga.
Rupanya kedatangan Saka tidak menggunakan mobil pribadinya seperti waktu mengantar Ayuna dulu. Cuti kali ini ia mengambil penerbangan perintis lalu naik taksi bandara ke kota kelahirannya ini. waktu tempuh penerbangan ditambah perjalanan darat menghabiskan sekitar empat jam. Jauh tidak menguras stamina dibanding naik mobil selama delapan jam. itulah yang ditangkap Ayuna dari percakapan Saka dengan Pak Anang sopir keluarganya.
Saka singgah di toko swalayan memenuhi keinginan keponakannya lalu mereka menuju sebuah kafe yang saat ini mulai tumbuh memarakkan suasana kota kabupaten. Saka memilih tempat duduk outdoor supaya kaffi bisa bergerak di sekitar mereka.
“Bagaimana pelajaranmu Ay?” Saka menatap gadis di hadapannya, mengajukan pertanyaan yang menuntut jawaban. Sedari tadi ucapannya atau pertanyaan basa-abasi hanya dijawab dengan gumaman atau anggukan kepala.
__ADS_1
“Sudah dua kali pertemuan, diberi tugas mingguan oleh Bu Isma dan video-video tematik pembelajaran.” Ayuna membalas tatapan itu sejenak lalu mengalihkan lagi pada kaffi yang bermain mencabuti bunga rumput. Perasaan sungkan masih kental dirasakannya bila harus bertatapan dengan Saka.
Sekolah lanjutan Paket C yang dipilih Ayuna memungkinnya tetap bisa bekerja mengasuh Kaffi. Tidak sulit bagi Saka mendapatkan fasilitas itu walaupun sudah melewati awal tahun pembelajaran. Keluarganya dikenal oleh hampir seluruh isi kota ini, apalagi yang diperjuangkannya memang sepantasnya diberi kesempatan lagi untuk mengecap pendidikan.
“Kamu bisa mengikuti atau merasa ada kesulitan?”
“Bisa kok, Tuan. Tugasnya itu kebanyakan meringkas bahan bacaan atau menjawab soal tematik”
“Tuan? Kamu juga memanggilku seperti itu?” Saka mengerutkan alisnya.”Kamu kan dulu memanggilku Abang?” lanjut pemuda itu setengah tak menerima. Pendengarannya terasa janggal dipanggil demikian.
“Nnnggg…Saya tidak berani, nanti dikomplain sama Ibu Ros” Ayuna membuat alasan masuk akal.
Saka terdiam sambil menyesap kopi hitamnya. Sebenarnya baru ini Saka dan Ayuna ngobrol lagi. Sewaktu membawanya ke sini sampai kepulangannya bersama Herdi, Saka tidak sempat menemuinya lagi. Hanya Herdi yang diajaknya jalan melihat situasi kota, sedangkan Ayuna langsung terjun kerja menjadi babby sitter Kaffi.
Saka menarik napas. Sepertinya jalinan pertemanan tujuh tahun yang lalu tak bisa di ulang, rentang waktu benar-benar menciptakan jarak dan kecanggungan di antara mereka. Tapi sudahlah, Saka merasa lega karena gadis di hadapannya ini sudah aman sekarang.
"Kuharap Kamu betah ya Ay, jalani dengan enjoy sekolah paket sambil jagain Kaffi. Oh ya, aku sudah mengirim kabar ke Uwa Mirja keadaanmu di sini." ucap Saka kemudian.
"Tuan sudah ada kabar mengenai ibu saya?" sekali ini Ayuna memandangnya penuh harap. Saka diingatkan ada janjinya yang belum dipenuhi.
__ADS_1
"Kamu fokus belajar saja, aku akan minta tolong Bu Sinah atau siapa yang bisa menelusuri keberadaan Bu Midah sekarang. Orang di kantor Ayah juga akan kumintai bantuan cari informasi. Setelah dari sini aku langsung ke kantor Ayah,"
ujar Saka berusaha meyakinkan Ayuna. Gadis itu terlihat mengangguk paham.
Laki-laki itu lantas berdiri setelah melihat sekilas arloji di tangannya. Nampak gagah dengan kharisma yang memesona. Sangat berbeda dengan sosok Abang Saka dengan tampilan remaja polos yang terekam di memori Ayuna.
“Ayo kaffi, kita pulang. Habis ini Kamu bobo siang ya?” Saka berucap pada bocah imut yang masih duduk di pangkuan Ayuna mencomoti satu-satu stik kentang goreng. Lelaki muda itu mendahului masuk ke mobil sambil menjawab pesan masuk di aplikasi hijaunya.
Ayahnya sudah menanyakan lagi di mana posisinya sekarang. Tujuan kepulangannya kali ini memang sudah diagendakan untuk pembicaraan serius dengan beliau.
Saka sebagai anak lelaki sangat diharapkan Ayahnya untuk segera merintis membangun perusahaannya sendiri. Sang Ayah tentunya ingin memiliki kesempatan menyaksikan dan mendukung proses itu, sejauh ini Saka sangat minim terlibat dalam perjuangan Ayahnya mengembangkan perusahaan milik keluarga.
"Apabila Kamu ingin mandiri, membuktikan dari nol hasil jerih payahmu sendiri jangan terus ditunda Nak, Ayah akan mendukung penuh dan berharap kamu ambil kesempatan secepatnya untuk itu."
Berulang-ulang sang pengusaha memicu putranya dan sepertinya sekarang inilah Saka merasa terpantik. Sudah dua tahun dinamika usaha pertambangan justru digelutinya dari luar, bekerja pada bendera perusahaan yang bukan milik keluarganya dan memilih lokasi yang jauh dari kota ini.
"Aku masih muda Ayah, wawasanku juga bertambah bekerja dengan orang lain." Saka berkelit berdalih menikmati masa mudanya, sang ayah pun tak mau kalah.
"Hahaha...Saka! Usia muda tidak bisa dibantah pasti akan terkikis tanpa terasa. Yang harus kamu hidupkan itu adalah jiwa muda, Nak! Dengan jiwa muda semangatmu berkarya tidak akan melihat apa dan di mana,"
__ADS_1
Ayahnya benar, tantangan selalu bisa didapatkan bila kita sudah memulai langkah, persoalannya Saka saja yang terlalu naif dua tahun ini.
Namun siang itu setelah mendrop Ayuna dan Kaffi, Saka pun langsung minta sopir mengantarkannya ke kantor Ayah yang terletak tak jauh dari kediaman mereka.