
Hari kedua Ayuna berada di sebuah hotel, pilihannya bukan melarikan kepedihannya kepada Enggar seperti yang mungkin diduga oleh suaminya.
Tak mungkin Ayuna mengetuk pintu rumah Bu Naima menjelang tengah malam, sementara pengalaman mengajarkannya ketika hampir setahun lalu menginjak ibukota. Waktu itu Saka membawanya ke hotel di pinggiran teluk Jakarta.
Hari ini Ayuna menghubungi Erika, minta waktu bertemu membicarakan bagaimana nasib Beuty Of Rules Salon & Spa bila salah satu pilihan akan diambilnya dari berbagai kemungkinan yang ada.
"Aku ingin kembali ke Kalimantan, menurutmu Salon & Spa bisa kau tangani sendiri atau sebaiknya bagaimana, Rik?"
"Balik ke Kalimantan, Yun?! " Erika sampai terperanjat oleh ucapannya.
"Iya, langkahku di Jakarta sampai di sini saja. Abang Saka tidak ada niat untuk membawa hubungan pernikahan kami menjadi lebih kuat,"
"Darimana kau bisa menyimpulkannya, Yuna? Sudah dibicarakan dengan Saka?"
"Dia selingkuh Rik, dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Selingkuh...?" Erika menatap tak percaya. Ayuna di depannya menampilkan ketenangan walaupun senyumnya getir.
"Kamu yang mantau kerjaan di Salon & Spa untuk berapa hari ini ya, Rik?"
"Tidak usah menghawatirkan itu, aku berharap kamu berpikir ulang untuk keputusanmu ini?"
"Iya, sudah kupikirkan matang-matang karena Bang Saka sudah melakukan banyak hal untukku yang belum kalian ketahui. Dia yang membawaku dari jeratan kawin paksa akibat hutang keluargaku di desa."
Ayuna butuh meluapkan tekanan jiwanya agar tetap waras. Biarlah curahan hatinya ini akan sampai ke telinga Enggar. Ayuna tak peduli lagi dan menarik napas sebelum melanjutkan.
"Dia pula yang menyelamatkanku dari nasib tragis perkosaan yang terjadi di Banua. Itulah sebabnya pernikahan kami sangat sulit diberitahukan kepada keluarga besarnya. Mungkin Bang Saka malu memperistri wanita yang pernah dilecehkan oleh iparnya sendiri..."
Erika terdiam mencerna ungkapan kisah yang baru kali ini didengarnya versi Ayuna yang sebenarnya.
Sebelumnya Saka pernah mempublikasikan pernikahan dengan Ayuna sebatas lingkungan kerja saja. Detail masalahnya tentu saja tidak diuraikan, ternyata serumit ini persoalan Saka dan Ayuna?
"Aku hamil Rik, apa kau tahu di mana ini bisa kugugurkan dengan aman?" kali ini Ayuna sudah terhisak, dada terasa sesak memilih jalan yang diutarakannya itu.
__ADS_1
"Jangan nekat Yuna! Anakmu sama sekali tidak berdosa kenapa harus dilenyapkan? Keselamatanmu beresiko dan apa tanggapan Saka nanti? Dia sudah mengetahui kan kehamilanmu ini?"
Erika setengah panik mendengar opsi aborsi. Dipeluknya tubuh Ayuna yang terguncang oleh tangis. Sebenarnya di relung hatinya Ayuna juga tak seberani itu, kekalutan dan rasa tersakiti yang membuat pikirannya sedikit kelam.
"Lebih baik ikut aku ke Bekasi, berpikir dengan tenang dulu sebelum mengambil keputusan."
Aku tidak mau kamu dan Bu Naima, terutama Mas Engg terlibat dengan Bang Saka." Ayuna menggeleng atas saran yang diajukan Erika.
Usul yang baik itu hanya bisa memperkeruh masalahnya dengan Saka. Ayuna sempat terpikir nge-kos lagi sambil memikirkan langkahnya ke depan, tapi Saka pasti mencarinya. Statusnya pun masih sebagai seorang istri.
"Aku ingin kembali ke desa, Bang Saka mungkin akan menyerah bila harus menyusul ke kampung kami yang terpencil..."
"Menghindar tidak selalu menjadi penyelesaian masalah Yuna, hadapi dan bicarakan baik-baik dengan Saka pilihan terbaik buat kalian?"
Percakapan Ayuna dan Erika berakhir di situ sampai waktunya adik Enggar itu pamit meninggalkannya.
Di waktu yang sama, Saka juga baru meluncur di pinggiran kota Bekasi. Tujuannya menemukan Ayuna di rumah keluarga Enggar tidak berhasil.
Kemana Ayuna pergi? Tidak informasi apa pun ketika Saka menyinggahi kediaman yang pernah menjadi tempat kost istrinya. Saka paham betul Ayuna tidak memiliki banyak tujuan di belantara ibukota ini, dunianya selain Saka hanya seputar usaha Salon & Spa, keluarga Enggar dan kenalan waktu nge-kos.
Dunia yang sekecil itu pun nampaknya sudah berantakan akibat Saka yang tertangkap basah bersama Raditha.
"Ay, kamu di mana? Aku harus mencarimu ke mana? " Saka berbicara sendiri sedikit putus asa, akal sehatnya menolak jika harus memutari jalanan kota mencari istrinya tanpa arah.
Akhirnya Saka putar haluan pulang ke apartement dan siapa kira ternyata wanita itu didapatinya sudah kembali.
Ayuna memutuskan pulang ke apartement menuruti nasihat Erika, menghadapi permasalahan rumahtangga semampunya. Di kamar Ayuna sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper, ketika Saka masuk
"Aku mencarimu sampai ke Bekasi, jadi kamu menginap di mana selama dua malam ini, Ay?"
cecarnya dengan nada suara ditahan tidak meledak oleh rasa kesal. Bagaimana pun penyebab kekacauan ini adalah dirinya sendiri.
"Aku di hotel Bang, pengen melupakan apa yang kulihat tempo hari..."
__ADS_1
"Itu kesalahan Ay, hubunganku dengan Raditha hanya terdorong kedekatan dan tujuan yang sama urusan pekerjaan."
"Sudahlah Bang! Kesalahan yang sebenarnya adalah hubungan kita, Abang itu hanya sungkan mengakuinya!" Ayuna mengangkat mata menentang tatapan suaminya.
"Ay...?" Saka tak percaya Ayuna berani memvonisnya. Emosinya jadi terpantik.
"Aku mau pulang ke desa, secepatnya supaya tidak menghalangi hubungan Abang dengan gadis itu..."
"Kamu sedang hamil! Beraninya membawa anakku pergi, seperti Bu Midah menjauhkan kamu dari bapakmu, Ay?!" tandas Saka tajam.
Ayuna terpaku di tempatnya. Perasaannya campur aduk menerima kecaman sang suami. Bulir-bulir airmatanya mengalir tanpa isak tangis.
Sementara Saka menghempaskan tubuh ke sofa tunggal di kamar itu, menunggu reaksi istrinya yang duduk di karpet lantai dengan koper terbuka dan setumpuk lipatan baju-bajunya.
"Janin akan terganggu kalau kamu seperti ini Ay, aku minta maaf tidak tanggap di saat kau ingin memberitahukan positif hamil dua hari lalu."
Saka akhirnya mendekat dan merengkuh bahu Ayuna. Selalu saja kondisi wanita ini bila dalam keadaan tak berdaya maka akan meluluhkan Saka.
Sayang sekali, seperti kebanyakan pria di luar sana, Saka tak akan bisa mengerti perihnya hati wanita ketika didua kan. Ketika cinta berpaling ke lain hati.
"Abang mencintai Nona Raditha? Kalau Abang cinta dan nyaman dengan dia, lepaskan aku...huhuhu" Ayuna tergugu dalam dekapan. Ingin berontak dan melarikan diri, tapi kehamilan ini harus membuatnya berpikir lagi?!
"Bisakah kamu tenang dulu Ay? Nanti sore kita ke dokter ya, kita belum tahu kondisi anak kita,"
Dan lelaki menggunakan logika di atas perasaan. Saka memilih tidak menanggapi pertanyaan sensitif yang dirinya sendiri belum yakin jawabannya.
Bermain api, sudah jelas itu kesalahannya. Daya tarik seorang gadis seperti Raditha Mayora sulit ditepisnya setelah betjalan tiga bulan kebersamaan mereka berdua Tapi jika ditanya siapa sekarang prioritasnya, tentu saja istri yang sedang mengandung benihnya.
Bagaimana pun Ayuna meracau sekarang ini, Saka hanya perlu menggunakan pelukan untuk menguncinya hingga terlelap keletihan.
Diangkatnya tubuh semampai itu ke tempat tidur dan setelahnya ikut berbaring disebelahnya. Memandangi wajah yang menyisakan rembesan air mata itu, selalu saja Saka merasa luluh.Bukan hanya hatinya, bahkan sampai ke sendi-sendi.
????
__ADS_1