
Saka melonjak bangun dan terduduk di sofa dengan kepala yang sedikit pening. Dirinya tertidur seperti orang tak sadarkan diri hingga menjelang senja begini.
Kamar hotel model apartemen itu senyap, angin sore yang berhembus dari pintu kaca yang terbuka di belakang sofa menggerakkan tirai serut. Sekali mengedarkan pandangannya, tak menemukan sosok semampai itu di dapur mini atau kamar mandi yang pintunya terbuka
Ayuna? Saka setengah melompat ke depan pintu kamar, mendorong pintunya sekali sentak. Tak ada gadis itu di sana, hanya telpon genggam Ayuna yang jadul tergeletak di kasur. Di mana pemiliknya?
Sayup suara ombak memecah karang, berdebur terdengar sampai ke tempatnya berdiri. Saka bergegas mencapai balkon yang pintu kacanya terbuka.
Garis laut dan panorama pesisir Jakarta terpampang di kejauhan. Hotel ini memang berada di teluk Jakarta, tak sengaja dipilihnya dan tak bermaksud menyeret Ayuna kepada kenangan akan desanya nun jauh di sana. Sesaat kemudian lelaki itu menyadari situasi yang terjadi.
“Ayuna pasti jalan ke pantai, hah!” Saka berbicara sendiri sambil memasang sepatunya. Menggapai ponsel dan mencabut kunci slot kamar. Begitu keluar dari lobby hotel, ia di sapa oleh satpam menanyakan apakah hendak memesan taksi untuk pergi.
“Saya mau jalan ke pantai sebentar Pak, lihat sunset.” Jawabnya sekenanya.
“Oh! Pantainya jauh dari hotel Mas, tapi kalau mau lihat lautnya dan sunset masih bisa dari siring beton samping hotel. Mari Saya tunjukkan arahnya,” sahut si bapak Satpam dengan ramah. Saka mengikuti beliau ke pintu kecil di pagar tembok, arahnya ke samping hotel bukan ke gerbang masuk.
“Silakan Pak, pintu ini memang disediakan untuk akses ke siring bila pengunjung mau menikmati angin laut.”
__ADS_1
“Terimakasih Pak,” Saka diarahkan mengambil arah ke kiri, sepanjang sisi hotel terdapat jalan beton dibatasi siring batu. Di bawah sana terlihat sebagian sisi cekungan laut Jakarta dengan beberapa pola karang, menyebar tak beraturan dengan dasar pasir putih berbatu.
‘Ayuna!” Saka bergegas mencapai sosok semampai itu berdiri tak jauh dari kelokan ke sisi lain bangunan hotel. Ada rasa takut melintas di kepala Saka manakala memantau sekitar, di mana tinggi siring batu tak sampai sepinggang orang dewasa, memandang ke bawah agak ngeri bagi mereka yang takut ketinggian.
“Kamu sudah lama di sini? Sudah yok, Kita balik. Ini anginnya cukup kencang Ay,”
“Aku kangen desaku….” Ayuna menoleh sebentar lalu kembali memandang garis laut di kejauhan.
“Hmhhh….besok kita ke pantainya. Jalannya agak memutar tapi bisa naik taksi dari depan hotel.” Saka berinisiatif menggandeng lengan Ayuna membawanya kembali menuju pintu kecil di pagar tembok.
Di kamar Saka memutar otak bagaimana mengisi kekosongan yang mendera Ayuna. Saat ini tidak ada kesibukan dan tidak punya kenalan yang bisa mencairkan kesepian.
“Malam ini pergi keluar ya, cari handpone buat Kamu” akhirnya Saka mendapatkan ide ketika melihat Ayuna memutar-mutar benda pipih, telpon jadulnya.
“Handphone?” Ayuna mengerutkan kening.
“Ya, Kita sekalian cari makan di luar, cari udara segar.”
__ADS_1
Dan setelah mandi membersihkan diri, pukul tujuh malam keduanya sudah berada di lobby hotel. Memesan taksi online setelah bertanya pada petugas hotel lokasi kuliner dan etalase smartphone sekitaran hotel.
“Gimana Ay? Lebih nikmat makan di sini kan daripada menu hotel? Berasa makan di rumah lho,” Saka sudah tandas menghabiskan kepiting asam manisnya, sedangkan Ayuna masih proses menyantap nasi goreng seafood pedas.
“Kepiting di masak semacam itu kebisaannya Uwa Ratna. Tapi kalau keseringan Uwa Mirja suka mengeluh pegal di pundaknya.” ucap Ayuna seiring dengan jalan pikirannya yang selalu saja terpaut pada Ibunya, pada desanya dan keluarga Uwa Mirja.
“Begitu ya?” Saka lega gadis ini mulai interaktif dengannya. Setelah ini ia akan memilihkan smartphone supaya aktivitas online bisa membunuh waktu dan Ayuna tak tenggelam terus dalam kepedihannya.
Ayuna yang menyimak dalam diam agak terhenyak ketika di etalase yang berjejer tak jauh dari kawasan pantai, Saka mengatakan ponsel yang dipilihkannya adalah untuk Ayuna. Padahal harga barang itu cukup tinggi untuk kantong Ayuna
“Ini untuk kebutuhan belajarmu, nanti kumasukkan nomor wali kelas paket.” Saka menunjukkan kemasan tas tangan berisi barang yang mereka, lalu mengajak Ayuna segera balik ke hotel.
“Kau masih ingat akun teman-temanmu waktu SMA? Barangkali mereka ekskis di sosial media,” malam itu mereka duduk bersama di sofa karena Saka membuat akun Ayuna pada aplikasi hijau dan aplikasi pink panta. Ditunjukkan cara memfollow akun dan memantau status figur yang diinginkan.
“Temanku di Sosmed? Nanti saja lah, terimaksih sudah merepotkan membeli ponsel ini,” Ayuna tersenyum canggung menerima benda pipih berwarna peach dengan casing yang mcukup menarik.
"Baru 3 kontak yang tersimpan ya?" Ayuna melihat laman pesannya. Herdi, Saka Guna dan wali kelas paket C, bu Isma. Gadis itu lalu berpindah ke aplikasi lain, yang sudah menampilkan postingan beberapa publik figur artis dan selebriti.
__ADS_1
Saka agak termangu melihat wajah di hadapannya sedikit bercahaya. Bisa kah dirinya membantu gadis ini menumbuhkan harapan lagi untuk masa depan? Dapatkah dirinya meyakinkah Ayuna untuk berpikir positif dan mengenyahkan segala kelebatan pikiran kelam ? Ah. Ayuna, Berjanjilah padaku kamu akan baik-baik saja.