Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.32 Double Target


__ADS_3

Makan Malam yang  mengundang kolega beserta keluarga digelar di ballroom hotel bintang lima. Sebagian besar yang hadir adalah pengusaha senior karena yang mengundang adalah ayahanda Saka.


Agenda  formal hanya berfokus pada pengenalan profil  perusahaan milik Saka, selanjutnya acara dikemas lebih cair. Dengan latar belakang instrument lembut yang menemani para pengusaha senior itu saling berinteraksi. 


Kini Saka terjebak pada suasana di meja Pak Handoko,  Buyer  yang paling dominan melakukan transaksi perbatubaraan dalam hubungan kontrak dengan Ayahanda Saka.


“Om akan dukung kamu Saka, 100 % dari proyeksi pengembangan bisnismu tadi akan kita realisasikan secepatnya! Syaratnya kamu mau membimbing putri Om Radhita belajar bisnis yang lebih maskulin kaya begini…!”


Handoko begitu bergairah menyimak bidang usaha Saka yang lumayan membutuhkan investasi besar sekaligus tantangan. Tak bisa dipungkiri Handoko adalah rekanan ayahanda Saka yang potensial untuk digaet juga oleh perusahaan milik Saka Guna.


Hanya pengusaha besar dan  matang yang akan menggunakan jasa  pengiriman batubara maupun  bahan tambang lainnya dalam jumlah dan kapasitas armada yang besar serta masa kontrak yang panjang.


“Saka sepertinya  kurang minat berpartner dengan investor feminin papi, jangan dipaksakan. Radith juga malas hanya jadi figuran,”


Seorang gadis dengan tarikan bibir agak kaku menyanggah Handoko. Siapa lagi kalau bukan Raditha Mayora Handoko, yang duduk berseberangan dengan Saka Guna. Integritas dirinya seperti terganggu manakala sang papi menempatkannya Saka sebagai  tutor-nya.


Saka tersenyum samar menerima reaksi yang tak bersahabat. Egonya tergelitik untuk menaklukkan sikap apatis seorang gadis selevel Radhita Mayora. Gadis berdagu runcing dengan sepasang mata hitam yang berkilat penuh percaya diri.


“Begini saja, baiknya Saka mebuat satu proyeksi khusus buat putri Pak  Handoko. Dengan kata lain, mereka bisa berbagi strategi untuk menggoalkan target  masing-masing. Lebih adil dan dan menciptakan  adrenalin bersaing sehat!”


Ayahanda Saka mau tak mau ikut menimpali demi membangun suasana yang lebih cair antara sepasang anak muda yang belum sepakat mengambil peran dalam konteks kerjasama yang diusung.


“Aku akan siapkan bila seperti itu yang dihendaki Pa Handoko dan putrinya,” ucap Saka menyanggupi.


“Dengan catatan, aku terlibat dari NOL!  Sejak pemilihan aset, perumusan supaya investasi bisa kembali dan sampai pendekatan ke pangsa pasarnya,”


Radhita ngotot menyodorkan totalitasnya, terkesan sekali tipikal gadis yang memiliki karakter kuat menumbuhkan benih penasaran di dalam benak Saka.


Saka sejujurnya kurang sreg jalan bareng dengan karakter yang menuntut semacam ini, bahkan dalam bisnis pun. Akan tetapi yang dipertaruhkan di sini bukan hanya kredibilitasnya secara pribadi, taruhannya tentu saja kapasitasnya menjalankan usaha dalam jejaring investor.


Selain itu yang diperjuangkannya adalah masa depan perusahaan yang memang membutuhkan peengembangan dan berorientasi pada perluasan usaha pula ke depannya.


Malam ini egoisme Saka terpicu menerima tantangan putri pa Handoko, dalam arti target kerjanya sekarang bukan hanya menghasilkn goal kontrak  miliknya, tetapi ditambah pula dengan goal kontrak milik Radihta Mayora. Dampaknya adalah mulai besok, segala agenda bisnisnya harus menhadirkan sosok gadis itu!


Saka pulang ke apartement lewat tengah malam dan mendapati Ayuna sudah terlelap dengan nyaman. Dengkuran halusnya menahan Saka untuk tidak lebih lama menempelkan bibir di pipi istrinya yang berbaring miring.


“Ay, aku akan lebih sibuk demi perusahaan, semoga kamu bisa mengerti sayang?” suara yang pelan, tetapi getaran rasa yang diucapkan barangkali tersampaikan. Ayuna bergerak memeluk tubuh suaminya seolah menandakan sikap ikhlas yang dirajutnya.


Penerimaan atas segala kondisi yang disuguhkan oleh Saka pada dirinya bagai tabir tipis, sejujurnya Saka bisa menilik kebahagiaan utuh yang didamba sang istri.

__ADS_1


Setelah satu langkah pengembangan perusahaan ini berhasil, Saka menanamkan niat mengambil langkah besar lainnya. Pengakuan atas status Ayuna di hadapan keluarga besarnya, Ayah-Bunda, Rosmaya dan Edwin!


 Kesokan harinya, Saka terkejut dengan sosok Raditha Mayora sudah berada di ruang tunggu kantornya.


"Apa kau akan memberiku ruangan tersendiri atau kita berbagi tempat di ruangan yang sama?"


Pertanyaan itu menegakkan kepala Saka begitu mereka sudah memasuki ruangan kerjanya.


"Maaf, aku tidak bisa. Kau bisa menempati plat yang masih kosong di sebelah kantor ini. Teknisnya bisa kau atur dengan Tyas, " ucap Saka tandas tak suka privacy-nya diusik.


Bagaimana mungkin dirinya bersedia berjam-jam bekerja dalam satu ruangan dengan putri pa Handoko? Apa pun bagi Saka, asalkan tidak menjadi gerah karena intervensi seorang Raditha. Termasuk menanggung sewa satu plat lagi untuk menambah kapasitas kantor yang sudah terdiri dari dua unit plat


"Baiklah kalau begitu. Oh ya aku belum mengucapkan secara khusus padamu.Terimakasih sudah mengakomodir kehendak papiku." Raditha mengulurkan jabat tangan yang disertai senyum elok. Saka berusaha tak kentara memalingkan wajah dari tatapan mata jernihnya.


Sungguh tak diduganya manuver gadis ini begitu cepat, baru tadi malam Saka menerima sikap apatisnya. Lalu pagi ini Raditha muncul dengan kerendahatian yang tak bisa dikatakan manipulatif.


"Kau tidak mengatakan akan membuat agenda denganku hari ini, apa ini kunjungan perkenalan dan hanya memastikan fasilitas yang tersedia untukmu?" ungkit Saka tanpa canggung. Sepertinya dirinya harus pasang sikap terhadap gaya agresif Raditha.


"Tuan Saka yang terhormat? Bukannya sudah kunyatakan tadi malam, aku mau mulai dari Nol bukan sebagai penanam investasi saja. Jika kerjasama kita nantinya bisa berakhir dengan sama-sama menguntungkan, maka jangan kaget setelahnya aku memilih keluar dan menjadi pesaingmu nomor satu!"


Raditha mengucapkan dengan lugas dan penuh keyakinan.


Saka menatap lurus gadis yang sedang menantangnya ini. Sebenarnya secara profesional Saka bisa menolak desakan sepihak ini, tapi egonya menterjemahkan berbeda.


Saka ibarat sungai terbesar dan terpanjang di Kalimantan. Arus di kedalamannya bisa sangat kuat namun tidak berdebur dan tidak menghempas seperti gelombang laut.


Ketenangan yang ditunjukkan di permukaan sesungguhnya menyimpan energi dan emosi terpendam, gadis putri Pak Handoko ini harusnya berhati-hati terhadapnya.


Sepulang Raditha Mayora dari kantornya, Saka memanggil Enggar dan Tyas ke ruangannya. Saka menetapkan target 3 x 24 jam untuk proses merumuskan seluruh pasal kerja sama beserta proyeksi keuangan sampai tahap finalnya nama Raditha Mayora resmi menjadi mitra bisnisnya.


Pukul sepuluh malam, Ayuna sudah ditunggu oleh Pak Burhan untuk diantar pulang ke apartement. Wanita berumur duapuluh tahun itu memilih naik ke lantai di mana kantor suaminya berada.


Pintu ruang kerja Saka yang terbuka didorongnya dan terlihat tubuh sang suami memunggunginya. Meja bundar untuk rapat internal itu menampakan kesibukan melalui dua buah laptop yang aktif, gelas kopi dan putung rokok yang berserak di asbak.


Ayuna mengurungkan niat mengajak pulang bersama, tubuhnya berbalik keluar dan berpapasan dengan Enggar.


"Kalian lembur?" lontarnya untuk memastikan apa yang sudah dilihat.


"Masih satu atau dua jam lagi Dik, kamu pulang lah istirahat." Enggar mengiyakan tanpa bertanya kenapa Ayuna tidak mendatangi suaminya.

__ADS_1


"Iya Mas Engg, titip pesan buat Bang Saka aku tadi ke sini." Ayuna mengangguk dan berlalu.


Enggar memandangi sosok Ayuna yang pergi dengan benak berkata-kata. Saka sepertinya tidak bercerita pada istrinya apa yang membuatnya bekerja seperti dikejar deadline.


Saka justru mengungkapkan keterusikannya pada Enggar, bagaimana pagi ini seorang gadis mulai mengambil peran penting dalam bisnisnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2