Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.19 Kedatangan Enggar


__ADS_3

“Yuna….!”


“Eh, Aris?” Ayuna menoleh pada pemuda yang menyapanya.


“Serius banget, lagi ngapain?” Aris menghentikan langkah memperhatikan Ayuna dengan lembaran buku dan pulpen di meja tamu. Gadis itu merasa suntuk berada di kamar mengerjakan tugas mapel ekonomi


“Ada tugas Ekonomi dari bu Isma,”


“Tentang apa?” Aris menunda langkahnya, lalu mengambil tempat duduk. Dia sudah mendengar cerita Ayuna bahwa sekarang gadis itu menjalani paket sekolah lanjutannya. Sudah satu minggu ini pertemanan mereka terjalin diantara sesama penghuni kost.


“Pasar Tradisional dan UMKM. Aku sudah download bahannya sih, tapi tetap saja bingung, He….” Ayuna nyengir menyadari dirinya agak lambat merampungkan tugas mingguan bu Isma.


“Pasar tradisional? Di daerah sini ada pasar rakyat yang cukup besar, Kamu mau lihat? Ayo kutemani, biar jadi tambahan informasi primer untuk tugas Kamu itu.” Aris menawarkan bantuannya. Kebetulan sabtu pagi ini jadwal kuliahnya kosong, bisa digunakan untuk sekedar jalan santai dan cuci mata di pasar.


“Nnnggg…nggak papa Kamu temani Aku?”


“Iya lah….Aku juga pengen jalan juga kok, Ayo!”


Jadi lah mereka pagi itu merambah hiruk pikuknya orang berjualan di pasar tradisional, ditingkahi para pembeli yang kebanyakan ibu-ibu. Bagian depan pasar adalah toko-toko berjejer, area belakang merupakan los lapak untuk pedagang ikan, ayam, telur serta sayur-mayur.


Pasar rakyat yang buka setiap hari itu mereka capai dengan satu kali naik angkot, cukup mudah bila lain kali mau ke pasar lagi .


Ayuna tak punya tujuan membeli apa pun, jadi hanya mengekor ke mana Aris membawanya.

__ADS_1


“Kita di sini saja ya,” Aris mengajak duduk di pedagang emperan jajanan pengganjal perut, si penjual menyediakan tempat duduk bagi pembeli yang mau menikmati dagangannya makan di tempat.


“Kamu jarang ke pasar tradisional?” Aris menginterogasi berdasarkan pengamatannya sekilas bahwa Ayuna memang tidak familiar di tempat semacam itu.


“Desa ku jauh sekali dari pasar, hanya pedagang bermotor yang datang seminggu dua kali. Sewaktu tinggal di Banua aku kan nggak ngurusi perdapuran,” Ayuna menjawab seadanya. Aris memang pernah bertanya kenapa ia bisa sampai berada di Jakarta dan di tinggalkan sepupunya menetap di kost. Ayuna menirukan bagaimana Saka mengarang cerita tentang identitas mereka sebagai saudara bersepupu.


Selebihnya sisi lain berisi nasib buruknya, Ayuna merasa tak perlu mengungkapkan semua itu.


“Kakakku berjualan kelontongan di pasar tapi bukan Jakarta sebelah sini. Orangtua kami membeli dua buah ruko, satunya yang menjadi bagiaku disewakan dan dibayarkan untuk tempat kost” Aris membuka histori dirinya kemudian mengalirlah cerita singkat bagaimana kehidupan sederhana Aris beserta keluarganya yang berasal dari jawa barat.


"Sebenarnya Aku tidak terlalu minat kuliah, pengen dagang juga karena sudah punya tempat. Tapi abah dan mama tidak setuju. menurut abah, laki-laki harus punya bekal pendidikan dan wawasan lebih luas, berbeda dengan kakak yang perempuan dibolehkan langsung terjun berjualan."


Ayuna jadi pendengar yang baik saja, sekarang ia jadi lebih mengenal Aris selain statusnya sebagai mahasiswa diploma tiga. Aris berusia sama dengannya menginjak duapuluh tahun, postur tubuhnya nya pun sejajar dengan Ayuna.


“Bagaimana sudah dapat gambaran tentang kondisi pasar tradisional?” Aris bertanya dalam perjalanan pulang.


“Trimakasih ya, sudah ditemani. Untung tadi sempat mengambil beberapa foto, Bu Isma menyarankan doumentasi juga bisa disertakan melengkapi uraian tugas itu.” Ayuna sangat senang sekaligus lega.


Begitu mereka tiba di kost, gadis itu segera menggarap tugasnya mumpung situasi sebuah pasar tradisional masih terekam jelas di otaknya. Sedangkan Aris mengatakan akan menyelesaikan cucian baju kotornya.


Kos-an mereka menyediakan mesin cuci dan ruangan terbuka bertembok keliling keperluan cuci jemur bagi penghuni. Akan tetapi Induk kost tidak mengizinkan peluang semacam dapur kecil karena riskan kotor oleh sampah bahan makanan dan kegiatan masak.


“Yes, sudah terkirim,” Ayuna bergumam sendiri setelah satu jam berlalu ia berhasil mengirim tugasnya dalam file image ke bu Isma. Berarti tertinggal tugas UMKM yang masih harus di kerjakannya minggu ini.

__ADS_1


Tak disadarinya sosok seorang lelaki sedang berjalan masuk dari pintu ruang tamu yang selalu terbuka. Akses masuk hanya akan di kunci pada pukul 10.00 Wita, selebihnya sampai pukul 12.00 ada petugas harian selain Mba Retno yang membukakan pintu, bila penghuni melapor pulang di atas pukul sepuluh malam.


“Mas Enggar?” Ayuna terkejut ketika melihat lelaki yang dikenalinya itu. Enggar sudah berdiri di dekatnya, tersenyum dan minta izin duduk di kursi tamu itu.


“Saka memintaku untuk menengok keadaanmu di sini,” Enggar menjelaskan tujuannya. Ayuna manggut-manggut mengerti. Sudah hampir sepuluh hari Saka pergi dan hanya sesekali mengirimi pesan ke Ayuna.


Beruntung ada Aris dan Mbak Retno sebagai teman barunya di sini, jadi Ayuna tidak melulu berada di kamar.


“Kamu betah di sini?” Enggar melanjutkan bertanya.


“Ya, lumayan Mas. Ini barusan mengerjakan tugas sekolah.” Ayuna mengemasi perlengkapan tulisnya. Enggar agak terdiam, sampai saat ini dirinya masih bingung bagaimana bisa Saka membawa sepupunya ke Jakarta sementara sekolahnya pun belum selesai dan harus tinggal sendirian di tempat kost pula!


“Sebenarnya Aku juga sekalian menjemput Kamu, sudah kumintakan izin ke Saka. Kebetulan Ibu sendirian di rumah, Kamu bisa menginap sehari-dua hari supaya kenal juga dengan kota Bekasi.”


“Bang Saka memperbolehkan saya ke rumah keluarga Mas Eng?” Ayuna terheran.


“Betul, menurut Saka dia belum bisa pulang karena menunggu penyelesaian pendirian perusahaan. Dia kepikiran kalau Kamu bosan di kos-an,”


“Oh….” Ayuna terdiam, sesaat berpikir apakah ia harus mengikuti usul berkunjung ke rumah Enggar di pinggiran Bekasi. Di sisi lain hatinya terasa hangat karena ternyata Saka masih memperhatikan keadaannya di Jakarta.


“Baiklah Mas Eng, Saya bersiap-siap dulu ke atas.” Ayuna memutuskan mengikuti apa maunya Enggar dan Saka.


Tak lama kemudian mereka sudah meluncur meninggalkan kota Jakarta. Di mobil Enggar juga membuka obrolan tentang alasan kenapa kelas XI Ayuna putus sekolah, juga kekerabatannya dengan Saka. Gadis itu menjawab singat-singkat saja. Ia bingung harus merincikan seperti apa bila nantinya obrolan mereka bertambah jauh.

__ADS_1


Saka pernah mewanti-wanti agar tidak perlu banyak bercerita perihal kondisi mereka pada orang lain, cukup jelaskan bahwa Ayuna adalah adik sepupu Saka yang di boyongnya ke Jakarta. Bila nanti Saka berdomisili di Jakarta, maka Ayuna yang akan menjadi semacam sekretaris rumah tangga yang mengurusi kediamannya. Padahal Ayuna sendiri masih terlalu muda, usianya baru 20 tahun. Apakah skenario itu tidak terasa janggal jadinya?


__ADS_2