
Sore ini rumah orang tua Enggar sedikit ramai, pasalnya ibu-ibu selingkungan hunian di situ sedang melakukan pertemuan pengelolaan sampah 3R (Reduce-Reuse-Recyle).
“Eh, hari rupanya ada Neng yang cantik, temannya Erika ya?” seorang ibu menyapa Ayuna. Ibu-ibu lain jadi ikut memperhatikan keberadaannya.
“Namanya Ayuna Bu, temannya Mas Enggar.” Erika yang memperkenalkan. Erika adalah adik bungsu Enggar yang sudah menikah dan tinggal tak jauh dari rumah orangtuanya.
“Ini teman atau calonnya Nak Enggar sih?” Ibu lainnya ikut menggoda. Sebagian besar wanita di sana tak ayal jadi ikut memindai paras cantik Ayuna.
“Cantik ya, Neng ini mirip artis Nikita Willy!”
“Wah, kalau sudah merasa cocok jangan kelamaan PDKTnya. Langsung dilamar saja Bu Naima!” ada pula yang langsung memprovokasi bu Naima, mamanya Enggar. Bu Naima hanya bisa tersenyum.
“Kalau sudah dibawa ke rumah, artinya sudah saling cocok atuh, langsung gercep aja keburu habis musim hujan!”
Astaga ibu-ibu ini, kalau sudah ngumpul memang selalu heboh tingkah mereka. Apalagi ada objek empuk yang dijadikan bahan untuk dibully.
Wajah Ayuna merona merah dipuji sekaligus diledek, tapi tak bisa berbuat apa-apa, sebagai tamu ia takut salah bicara.Di sampingnya Erika senyam-senyum mendapati Ayuna jadi salah tinghah.
Tak lama kemudian Bu Naima berbicara membuka forum mereka hari itu. para ibu rumah tangga yang sadar lingkungan mulai menyimak dan dengan halus Erika mengajak Ayuna masuk ke dalam.
“Habis deh, Yuna digodain ibu-ibu di luar. Kirain dia pacarnya Mas Eng, lho!” Erika melapor pada kakaknya yang nongkrong santai di halaman belakang. Lelaki itu menatap Ayuna sejenak.
“Sorry ya Dik,” ujar Enggar tersenyum, merasa tak enak.
__ADS_1
“Maklum ibu-ibu kalau sudah ketemu ya rame begitu lah! Hari Ayuna yang jadi sasaran, salahkan saja dirimu sendiri, kenapa cantik…!” Erika tertawa sambil melirik kakak lelakinya. Enggar pura-pura tidak mendengar, asik dengan berita onlinenya.
Ayuna memang cantik, semenjak tak lagi tinggal di pesisir pantai, empat bulan ini kulitnya semakin kinclong saja. Walaupun tak dipoles skincare, kehalusan kulit wajahnya begitu alami di usia seorang wanita memang sudah menunjukkan keelokannya.
Komentar ibu-ibu tadi ada benarnya juga, senyum Ayuna mengingat orang pada artis sinetron muda Nikita Wilky, kelebihannya Ayuna bertubuh lebih tinggi semampai.
Ayuna mungkin tidak pernah menyadari, Saka melarikannya atas tindakan naluriah dan akal sehatnya yang tidak bisa membiarkan keelokan gadis itu sekadar buat dijadikan Tuan Takur istri kelima. Dan Ayuna juga tak mengerti, bagaimana Edwin bisa lupa diri melihat kemolekan tubuhnya malam kejadian naas itu.
“Apakah Mas Enggar itu anak nomor tujuh?” Ayuna menglihkan perhatian, teringat nama lengkap kakaknya Erika. Ayuna iseng saja mencari di goegle kamus bahasa Jawa.
“Banyak yang bertanya begitu, sebenarnya kata sapta itu milik kami bertiga saudara. Namaku Erika Saptarini, sapta adalah nama tengah yang bermakna doa dan harapan Ayah dan Ibu terhadap anaknya.” Jawab Erika meluruskan, pertanyaan semacam Ayuna juga sering dilontarkan oleh orang lain.
”Begitu ya?” Ayuna baru paham sekarang.
Erika menggantung kalimatnya, dan Ayuna menunggu dengan kening berkerut.
“Belum memiliki menantu cantik seperti Kamu ini dan Mas Enggar juga sering ditagih oleh ibu biar segera memberikan beliau cucu, ya kan Mas Eng?” Erika mengerling pada Enggar. Sedari tadi kakak Erika berada di situ tidak melibatkan diri dalam obrolan.
Lelaki berusia tigapuluh tahun itu menarik napas sambil geleng-geleng kepala lalu beranjak menjauh. Lagi-lagi merasa tak enak karena adiknya menyindir status lajangnya di hadapan Ayuna.
Erika terkekeh berhasil menggoda sang kakak, pikirannya sudah teracuni seperti ibunya. Setiap kali Enggar berinteraksi dengan seorang gadis, maka Erika akan memunculkan harapan bahwa secepatnya kakaknya itu juga mengakhiri masa jomblonya.
Hari ini Enggar membawa dan memperkenalkan Ayuna sebagai sepupu bos pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Siapa tahu proses pedekate oleh kakaknya kepada Ayuna sedang berjalan?
__ADS_1
Sayangnya Erika tidak tahu, di balik senyumnya Ayuna justru takut di dekati Laki-laki. Nasib malang akibat perbuatan si brengsek Edwin sudah membuat kepercayaan dirinya lenyap.
Malam itu setelah Erika pulang ke rumahnya sendiri, Ayuna makan malam bersama Enggar dan Bu Naima.
“Kalau Kita tidak datang, Ibu sendirian di rumah ini lho Dik,” Enggar membuka percakapan, lalu menceritakan keluarganya, bahwa dia tertarik kuliah teknik perkapalan dimulai dari pekerjaan sang ayah yang seorang pelaut.
Ayahnya bekerja sebagai ABK bagian mesin, sekarang sudah tidak melaut lagi. Memasuki usia enampuluh tahun, Ayah Enggar dikaryakan di pelabuhan mengurusi logistik awak kapal dan tinggal di mess milik perusahaan.
“Awalnya Enggar juga mau masuk sekolah teknisi ABK, tapi nggak Ibu izinkan. Kasihan nanti anak istrinya cuma bisa ketemu berapa hari dalam dua atau tiga bulan. Apalagi kalau ikut rute kapal luar negeri, bisa-bisa setahun nggak pulang!’ sambut bu Naima sambil terkekeh, mengingat dulu dia bersitegang dengan ayahnya Enggar mempersoalkan pilihan masa depan putra mereka.
“Belajar dari pengalaman sendiri sering ditinggal suami berlayarya, Bu? Tapi nyatanya suami Erika TNI Angkatan Laut, gimana itu Bu?” Enggar tertawa mengungkapkan ironisme yang terjadi dalam keluarganya.
“Itu namanya Jodoh adalah Takdir Allah! Ya dijalani saja, yang penting anak laki-laki Ibu nanti nasib istrinya lebih beruntung daripada Ibumu ini,” ujar Bu Naima bijak.
“Berarti Ibu terbiasa ditinggal sendiri mengurus anak-anak sejak Mas Enggar dan Mba Erika kecil ya Bu?” Ayuna bertanya, mencoba terlibat dalam percakapan. Sejak tadi ia menyimak dan mulai sedikit paham.
“Sejak nikah hingga kondisi hamil pertama, kedua dan ketiga Ibu selalu ditinggal. Sedihnya itu pas lagi ngidam pun pengen makan apa gitu, suami nggak ada.” Bu Naima mejawab dengan tersenyum kecut.Tak bisa melupakan masa-masa sedih dulu.
“Ibu salah satu contoh Wanita Tangguh. Sifat beliau menurun ke Erika, Adik Mas Enggar itu sangat mandiri. Superwomen deh pokoknya,” Enggar memuji ibu dan adiknya dengan rasa bangga.
Ayuna diam-diam merekam obrolan mereka malam ini di sudut hatinya. Dicobanya membandingkan dengan kondisinya sekarang juga sedang sendirian menghadapi sepenggal episode hidup. Teladan dari keluarga Enggar barangkali bisa memupuk kekuatannya, Ayuna merasa terinspirasi.
Benar kata Saka, banyak wanita dengan berbagai cobaan hidup dan mereka tidak menyerah begitu saja.
__ADS_1
Ayuna lantas teringat pada Saka Guna, lelaki muda yang ngotot menjauhkannya dari kubangan duka. Lelaki yang sangat perhatian padanya sampai berinisiatif meminta tolong kepada Enggar untuk memantau keadaannya di belantara Jakarta.