
Hari ketiga di Jakarta.
“Non Ayuna jatuh pingsan, saya izin membawa ke rumah sakit Pak?” suara pak Burhan sopir yang biasa mengantar-jemput Ayuna, di ujung telpon. Saka terkejut dan segera meninggalkan ruang kerjaanya, turun menuju Salon Kecantikan & Spa milik Ayuna.
Sementara Ayuna yang tak sadarkan diri sudah dalam keadaan terbaring dengan mata terpejam di salah satu bed perawatan, seorang lelaki lebih dulu berada di sana siap menggendongnya untuk di bawa ke mobil .
“Lepaskan istriku Mas,” ujar Saka dengan tekanan suara dan tangan sedikit mengepal, Enggar yang sudah memposisikan diri segera menegakkan tubuh mendengar apa yang baru saja di katakan oleh pemilik perusahaan tepatnya bekerja itu.
Tak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya, Enggar menatap bertanya ke arah Saka tapi tidak ditanggapi. Saka hanya bergerak cepat mencapai tubuh Ayuna lalu mengendongnya di bawah tatapan mata Enggar dan beberapa orang anak buah Ayuna yang juga tak kalah kaget karena baru mengetahui status bos mereka sekarang.
Di mobil Saka berusaha membuat isitrinya tersadar dengan memanggil namanya serta meremas-remas jemari Ayuna yang terasa dingin dalam genggamannya. Ayuna sedikit merespon tapi tetap saja matanya memejam dengan rapat.
Saka berpikir Ayuna terkena Vertigo lagi, itu sebabnya ia tak mau membuka mata walaupun sudah siuman dari tak sadarkan diri. Sensasi berputar akan sangat terasa pada saat penderita vertigo membuka mata dan melihat sekelilingnya.
Di rumah sakit Saka langsung memutuskan istrinya dirawat inap, meskipun setelah di periksa di IGD dokter jaga menyatakan pasien bisa dibawa pulang. Akan tetapi di apartemen pun Saka bingung merawatnya sendirian.
Ayuna pingsan karena maagnya kambuh, selain itu Saka tahu persis tiga hari setelah kepulangan mereka dari pernikahan yang mendadak, Ayuna hampir tak berisitirahat melayani keinginannya. Gencarnya frekwensi bercinta yang dituntut oleh Saka membuat istrinya keletihan.
“Bagaimana keadaan Ayuna?” Enggar yang sore itu menyusul ke rumah sakit berusaha bertanya dengan wajar.
“Maag dan kelelahan, tiga hari yang lalu kami menikah di kabupaten tempat kediaman keluarganya, pulang pergi dengan dua kali penerbangan transit. Ayuna langsung bekerja padahal belum cukup beristirahat,” sahut saka menatap lurus pada rekan kerjanya, mengabaikan kekecewaan yang bisa terbaca pada pada sepasang mata Enggar.
Bukannya dirinya tak mengerti dengan kekecewaan Enggar, akan tetapi apa lagi yang harus dijelaskan sedangkan menikahi Ayuna pun adalah sesuatu yang tak direncanakan jauh hari.
Saka juga tak mungkin mengakui bahwa dirinya terganggu oleh niat Enggar yang disampaikannya untuk mendekati Ayuna, terlebih kemesraan yang sempat ditunjukan pada Ayuna membuatnya sampai menenggak alkohol.
“Turut senang mendengar kabar kalian ini, walaupun mengagetkan sekali. Hubungan kalian benar-benar terlihat seperti saudara sepupu, itu sebabnya aku sempat ingin lebih dekat dengan Yuna.”
__ADS_1
Ungkapan Enggar yang jujur itu terdengar seperti menyindir di telinga Saka. Dipasangnya senyum kecut, Saka mengakui dalam hati bahwa dirinya hampir terlambat menyadari tidak ingin kehilangan Ayuna.
“Kupikir akan mengikatnya dalam hubungan setelah permasalahan keluarganya selesai, sampai sekarang Ayuna belum bertemu dengan ibu kandungnya,” Saka berdalih agar tidak sikap posesive dan agresifnya tidak terlalu nyata di mata Enggar.
“Baiklah, ditunggu undangan pestanya Bos,” Enggar mengangsurkan tangan menyalami dengan gentle, lelaki itu menyadari di mana posisinya. Saka jauh lebih dahulu hadir dan memiliki kedekatan dalam hidup Ayuna, statusnya sebagai saudara sepupu pun tidak dilarang dalam hukum pernikahan.
Enggar pun tak dapat memastikan apakah pendekatannya yang gencar ke Ayuna akhir-akhir ini, yang membuat Saka terusik dan tak ingin didahului.
“Tak ada pesta, Kami menjalaninya seperti ini saja dulu.”
Ketetapan yang kemudian disampaikan Saka mungkin terdengar aneh, tapi Enggar tak berkomentar lebih jauh. Dirinya menjaga hubungan professional dalam ikatan kerja dengan Saka.
Setelah Enggar pamit, Saka mendekati bed di mana Ayuna masih tertidur. Sambil memandangi wajah wanita yang sedikit pucat itu, Saka berpikir bagaimana harusnya menyikapi status suami-istri yang sudah tereskpos di hadapan Enggar dan beberapa karyawan di salon kecantikan Spa.
Rasanya sulit mencari alasan yang masuk akal untuk meminta orang di sekeliling mereka di Jakarta untuk tutup mulut, tetapi Saka menganggap perlu mengkondisikan apa yang bisa terjadi di luar kendalinya setelah hari ini. Sejujurnya Saka tetap memilih hubungan pernikahannya tidak perlu dipublikasikan mengingat keluarga besarnya sendiri masih belum mengetahui kebenaran ini.
“Permisi Pak? Pasien mau diobservasi.” Teguran perawat mengenyahkan ketermenungan lelaki itu. Dipersilakannya dua orang tenaga medis yang mengunjungi istrinya seraya mengundurkan diri menjauh.
Ayuna juga terbangun, kemudian menyahuti beberapa kondisi yang dipertanyakan kepadanya. Tak berapa lama kembali mereka hanya berdua di ruang perawatan itu.
“Abang menungguiku sejak tadi?” Ayuna melontarkan pertanyaan sambil beusaha menegakkan punggung.
“Iya, waktu kamu tidur tadi Mas Enggar menemaniku sebentar. Dia datang menghawatirkanmu,” ucap saka tersenyum melihat reaksi Ayuna yang langsung memasang muka cemas. Setelah mereka menikah Saka berulang kali menyatakan rasa cemburunya kepada kakak Erika yang sempat mendekatinya itu.
“Dia sudah tahu kita menikah.” lanjut Saka. Tatapannya menikam manik mata sang istri untuk memindai responya. Ayuna justru sedkit berbinar, beban yang ditanggungnya terlepas begitu mendengar ucapan sang suami.
" Abang bicara apa saja ke Mas Engg?"
__ADS_1
Ayuna jadi ingin tahu bagaimana sang suami mengadapi rivalnya. Setidaknya setelah ini Ayuna tak perlu bingung menghadapi gelagat Enggar yang beberapa hari ini terus berupaya mendapatkan hatinya, tanpa tahu Ayuna sudah ada yang memiliki.
“Cepat lah pulih, kita mungkin perlu mengundang rekan kantor untuk makan malam. Aku akan menjelaskan situasi kita, agar tidak menjadi bahan pertanyaan simpang siur. Kamu harus lapang dada Ay, status kita belum bisa kusampaikan pada keluarga di Banua.”
Saka mengelus lembut anak rambut Ayuna di keningnya. Gadis itu hanya tersenyum mencoba memahami apa yang sedang dijalaninya, sementara di dalam hati kecilnya terdapat kegalauan yang dipertanyakan pada diri sendiri.
Apakah alam semesta belum ikhlas menggoreskan takdir pernikahan di lembar kehidupannya? Sehingga dirinya pun belum bisa berbahagia sepenuhnya, ketika seluruh kerabat keluarga belum juga hendak dikabari oleh Saka ?
__ADS_1