
Namanya Enggar Saptahadi. Berusia lima tahun di atas Saka, lelaki itu adalah sarjana teknik perkapalan yang akan bergabung dalam tim kerja di awal berdirinya perusahaan milik Saka Guna.
"Mas Enggar yang akan mendampingiku sejak awal ini, kami melakukan presentasi penawaran, Dia ahlinya urusan teknis dan kerja kapal." Saka menjelaskan posisi rekannya pada Ayuna ketika sudah berada dalam mobil Enggar yang melaju membelah jalan raya kota.
Menjelang siang itu mereka bertiga nongkrong di sebuah kafe, dengan Ayuna tidak terlalu terlibat dalam percakapan yang menjurus seputar rintisan usaha Saka.
"Pendirian badan usaha dan pengajuan modal sudah proses, setelah itu kita bisa realisasikan 25 pengadaan unit armada." ucap Saka sambil menyerahkan timeline yang sudah dikirimkan oleh notaris dan akuntan perusahaan keluarganya.
"Pak Saka sudah melakukan survey atau sudah terima penawaran tertentu?" Enggar bertanya setelah mencermati dua lembar PDF yang di tunjukkan melalui media hasil scan.
"Belum Mas Eng, Aku baru bergerak melakukan pendekatan ke pangsa pasarnya dulu, targetnya kita cari lesee di luar grup perusahaan keluarga kami."
"Wah, padahal sudah punya jalur tol, tinggal ikuti arus. kenapa masih ideal
mau mulai dari nol?" Enggar mencoba bercanda, yang ia sudah ketahui dari seorang yang menjembatani pertemuannya dengan Saka, latar belakang seorang Saka Guna Ramadhan adalah putra pengusaha senior di daerahnya.
"Hahaha....niatnya memang mau melepaskan imej itu Mas! Justru itu dua tahun ini aku ambil job di perusahaan orang lain supaya bisa dikit-dikit ngintip koneksi. Kamu siap temani perjuanganku kan ?" Saka menantang calon partner kerjanya.
"Tentu saja Bro! Kita bisa start dengan mengirim email ke salah satu atau beberapa produsen company, nanti kubantu menilai penewaran yang mereka ajukan."
"Siip...berarti atas nama praktisi profesional atau menggunakan bendera keluarga dulu ya?"
__ADS_1
"Oh ya, ngomong-ngomong Adik Yuna mau cari kos secepatnya atau bagaimana?" Enggar beralih pada Ayuna yang diam-diam diperhatikannya mulai jenuh di antara obrolannya dengan Saka.
"Benar itu Mas, Kita serius butuh segera mencarikan Ayuna kos-an karena minggu depan Aku harus balik dulu ke daerah." Saka yang menjawab, diliriknya Ayuna sedikit terkejut mendengar rencana Saka akan meninggalkannya minggu depan.
"Boleh kubantu, bisa pinjam ponselnya?" Enggar menggeser duduk lebih dekat ke samping gadis itu.
"Kita coba cari di postingan publik, kira-kira pilihannya di Jakarta sebelah mana ya?" Enggar mengedarkan pandangan pada kedua orang di hadapannya. Ayuna diam saja karena dia seratus persen buta tentang ibukota.
"Di sekitaran apartemenku saja Mas, biar dekat kalau nanti mau nengokin dia." lagi-lagi Saka yang menjawab dengan menyebutkan lokasi apartemen miliknya.
"Nah, ini ada beberapa titik yang bisa di survey setelah ini. Sekalian saja Kuantarkan Kalian ke sana," Enggar menunjukkan dan meneruskan postingan itu ke akun Saka. Ponsel Ayuna pun dikembalikan oleh lelaki itu kepada pemiliknya.
Ayuna kemudian mencermati beberapa promosi rumah dan kamar sewa yang ditawarkan melalui media sosial, sedangkan Enggar kembali melanjutkan diskusinya dengan Saka.
"Ayo, kita jalan Mas Eng. Masih ada waktu dua jam hunting kos-an buat adik sepupuku ini. Keburu nanti perut lapar lagi, baru kita makan siang " Saka berinisiatif melanjutkan agenda mereka.
Menjelang siang ketika Enggar kembali melajukan mobilnya membelah lalu lintas Jakarta mencapai kawasan yang menawarkan kediaman bagi para perantau muda dan single, sebuah kamar dengan fasilitas dasar sudah mencukupi sebagai tempat pulang setelah seharian beraktivitas kerja atau kuliah.
Dan Ayuna? Keberadaannya di ibukota yang katanya kejam ini, hanyalah sebuah kebetulan. Tanpa perencanaan, bahkan belum ada tujuan pasti di masa depan.
"Kita ambil yang ini saja ya Ay? atau Kamu masih pikir-pikir dulu?" Saka sudah merasa cocok dengan tempat kedua yang mereka datangi.
__ADS_1
Jenis tempat Kost yang lebih mirip rumah kediaman dan hanya berlantai dua. Ada ruang duduk outdoor dengan tanaman pohon yang meneduhkan, nyaman untuk menerima tamu. Dua buah kamar yang tersisa belum berpenghuni, terdapat fasilitas tempat tidur standar dan kamar mandi dalam.
"Tidak terlalu jauh jalan kaki mencapai halte bus, ada kantin buka sampai pukul sembilan malam di ujung jalan ini." si pemilik kos menambahkan informasi yang menurutnya pasti diperlukan oleh calon penyewa.
Ayuna mengangguk ragu, tak punya pendapat lain.
"Begini Pak, Saya bisa minta nomor telepon dan rekening untuk transfer? Bila sampai besok siang kami belum kabari, berarti kami berubah pikiran. Bisa seperti itu ya Pak?" Saka mengambil sikap antisipasi karena ia tahu di Jakarta cepat sekali dinamika hidup dan peluang memperoleh sesuatu. Si pemilik setuju menunggu sampai pukul.12.00 WIB. esok hari.
Ternyata Enggar berniat langsung mengantarkan ke hotel dan menolak ajakan makan siang. Ada keperluan lain yang juga mendesak, begitu alasannya. Lalu Saka pun menolak kebaikannya karena cukup jauh jarak ke hotel.
"Biar kuantar ke hotel, nggak enak bantuin kok tidak tuntas." Enggar masih berkeras, tapi Saka tetap menolak
"Masih ada hari esok, aku pasti butuh banyak bantuan Mas Enggar!" ucapnya seraya menyalami dan menyilakan Enggar masuk ke mobil..
"Oke, Kutunggu Mas Saka balik dari daerah. Kita lanjutkan untuk segera goal proyek pertama?!" Enggar pun melambai. Saka langsung membuka aplikasi memesan taksi.
"Bang Saka mau pulang ke Banua?" Ayuna tak sabar tak bertanya.
"Iya, Aku harus memastikan Kak Ros tidak ingkar untuk segera menyerahkan uang yang menjadi hakmu setelah kesepakatan damai di antara kalian. Selain itu ada beberapa dokumen pendirian perusahaan yang perlu kutandatangani." sahut Saka sambil memantau respon diaplikasi. Mereka mendapat izin duduk di serambi yang asri, di bagian depan rumah kost.
"Kamu jangan khawatir, tidak mungkin kubiarkan adikku terlunta-lunta di Jakarta. Dengar Ay, kalau memang niat menetap di kota ini maka perlu mempersiapkan dan memikirkan rencana mau apa dan bagaimana setelah tiga bulan, kemudian setelah enam bulan dan seterusnya rencana setahun atau tahun berikutnya." Saka menuturkan dengan ritme dan penekanan agar Ayuna paham maksudnya.
__ADS_1
Taksi yang dipesan datang, Saka menggamit Ayuna masuk ke mobil. Dibiarkannya gadis itu berdiam diri mencerna perkataannya.
Bagaimana pun Ayuna harus diajari, dituntun untuk menata hidupnya. Hidup yang harus direncanakan, hari-hari yang dilalui dengan kemanfaatan. Rasa Syukur dan rasa sabar dapat dijalin untuk menguatkan langkah ke depan.