Cinta Yang Tak Terkatakan

Cinta Yang Tak Terkatakan
Bab.7 Merasa Asing


__ADS_3

Wanita paruh baya yang dipanggil oleh Saka dengan sebutan Bunda dan Kakaknya Rosmaya terheran-heran ketika pagi ini Saka masuk ke ruangan keluarga yang luas diikuti oleh Ayuna dan Herdi.


"Pagi Bunda, aku bawa tamu nih," Saka menyapa Bundanya, mencium tangan dan pipi beliau. Lalu ia merengkuh ringan bahu Rosmaya.


Kedua wanita dalam balutan busana rumah pun tetap menampilkan kemewahan kelas atas itu, mengerutkan kening menerima uluran tangan Ayuna dan Herdi.


"Bunda rupanya tidak bisa mengenali, ini Ayuna putri bu Midah."


"ini Ayun? Ohhh...pangling Bunda lihatnya. Kamu cantik Nak, dulu kan masih kanak-kanak ya," Bunda tersenyum anggun selayaknya seorang Nyonya besar. Memuji sebagai basa basi sudah lumrah baginya, tapi garis wajah dan tipikal kulit Ayuna menurutnya memang cantik.


Rosmaya yang kini menghempaskan tubuh di dekat Bundanya juga memandangi gadis itu. Diakuinya kesan lusuh dan lelah, itu yang menyamarkan wajah cantik gadis bertubuh semampai itu.


Ayuna duduk dengan canggung di sofa sama halnya dengan Herdi yang hanya diam setelah di perkenalkan tadi. Pemuda desa itu bagai tersihir berada di ruangan yang penuh dengan perabot mewah. Dalam ruangan itu terdapat dua set sofa besar warna krem dan satu set meja kursi jati berukiran cantik. Ada piano hitam dan figura besar di dinding menampilkan foto keluarga. Mereka belum sempat melihat ruang tamu karena tadi diajak masuk melalui teras samping.


Sementara itu Saka mulai menjelaskan duduk perkaranya kepada kedua orang Nyonya rumah.


"Jadi Uwa Mirja meminta, Ayuna dikirim ke sini untuk diselamatkan dari kawin paksa?" tanggapan Rosmaya sedikit mempelintir makna dari penuturan adiknya.


Wanita cantik modis itu seolah tak mengakui bahwa justru adik lelakinya lah yang mengatur pelarian Ayuna.


Rosmaya maupun Bundanya tentu saja masih ingat dengan putri Bu Midah yang dulu bekerja di rumah mereka.


"Kalau Bunda dan Kak Ros keberatan, Aku akan membawa Ayuna ke rumah Ibu." Saka mengucapkan dengan santai, sudah dipikirkannya opsi-opsi penyelamatan ini. Ibu kandungnya juga mempunyai kediaman sendiri meski tak semewah istana ini.


"Saka...! Kamu tuh sabar kenapa sih, Aku dan Bunda tentu saja mau membantu. Begini kebetulan aku lagi membutuhkan babby sitter buat Kaffi. Si Tatik sudah berhenti jagain Kaffi. Ayuna ini bersedia nggak ngurus anak seumuran TK kayak putriku itu?" Rosmaya memberi penawaran. Saka menoleh pada Ayuna.

__ADS_1


"Mau kan Ay, Kamu ngasuh Kaffi? Atau kamu milih jadi koki, kayak Bu Midah yang jago masak?" pemuda itu coba bergurau untuk mengurai sikap tegang Ayuna yang kentara.


"Terima kasih Bu, Saya nurut saja yang mana baiknya." Ayuna menatap Rosmaya sebentar, untuk meyakinkan kesiapannya. Pekerjaan sebagai pengasuh anak jauh lebih baik daripada dijadikan istri kelima Tuan Takur.


"Baguslah, dan kamu itu ya Dik! Jangan mudah merajuk kalau niatnya memperjuangkan nasib orang!" kecamnya menatap Saka. Pemuda itu hanya mengangkat alisnya, sudah hapal dengan tabiat sang kakak.


Rosmaya lantas meleggang pergi ke kamarnya, tertinggal Bunda yang dari tadi tidak ikut campur dan hanya sibuk menjawab chat suaminya.


"Saka, Kamu ditunggu Ayah di kantor." titahnya.


"Bunda tolong bilang ke Ayah? Saka belum tidur nyetir semalaman, mau istirahat dulu. Nanti Saka temui Ayah agak sorean," Saka tersenyum memohon pada istri pertama ayahnya itu.


Wanita itu mengangguk lalu melanjutkan chat ke sang suami. Karakternya yang lembut memang terbiasa tidak suka berbantah dengan siapa pun. Sikap elegannya yang betul-betul menunjukkan wanita kalangan kelas atas .


Saka menekan nomor person di folder servis area, memanggil salah satu yang stanby di sana.


"Bu, tolong ditunjukkan kamar buat tamu saya. Ayuna akan tinggal di sini jadi pengasuh Kaffi." Saka berkata pada Bu Sinah yang menjadi senior ART di rumah ini.


"Nggih Tuan," Bu Sinah mengiyakan, kemudian mempersilakan Ayuna dan Herdi mengikutinya.


Tuan? Apa aku juga harus memanggilnya begitu? pikir Ayuna selintas. Di masa kecilnya ia terbiasa memanggil Saka 'Abang' sesuai permintaan pemuda itu


"Di, nanti sore ku ajak jalan sekalian ke kantor Ayah ya!" Saka memanggil sebelum keduanya hilang di balik pintu jati yang lebar dan tinggi.


"Iya Bang," Herdi menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


Ternyata Saka tidak melupakan keberadaannya yang sejak tadi sengaja tidak melibatkan diri. Herdi cukup terkesima memperhatikan situasi kediaman mewah ini, terbukti Saka memang berasal dari keluarga kaya raya.


Terlintas tanda tanya di benak Herdi, kenapa Saka memilih bekerja di perusahaan orang lain? Bisa jadi jiwa mudanya yang suka petualangan dan kebebasan yang membuat lelaki semacam Saka melakoni pilihannya terlebih dulu sebelum mengambil tanggung jawab kelangsungan usaha keluarga.


Sementara itu, di kamar yang bersebelahan dengan kamar Bu Sinah, Ayuna merebahkan tubuh yang semalaman terasa kaku


di jok mobil. Gadis itu belum berniat mandi karena shubuh tadi sudah mandi kilat di toilet Masjib besar yang mereka singgahi.


"Bu Sinah, apa mengenal ibu saya? Ibu juga berasal dari daerah sini kan?" Ayuna sempat bertanya pada ART yang bertanggung jawab atas seluruh rumah ini, bukan hanya urusan dapur seperti tugas Bu Midah dulu.


"Bu Midah ? Siapa yang tidak mengenalnya? Ibumu kan jago masak, kalau ada hajatan nikah atau akikah anak, warga sekitar sini pasti minta bantuan Ibumu untuk takaran bumbu-bumbu masakannya." Bu Sinah mengiyakan, wanita itu juga tak lupa dengan sosok Ayuna kecil di masa tujuh tahun yang lalu.


"Bu Sinah mengetahui di mana ibu Yuna sekarang tinggal di mana?"


"Semenjak ibumu berhenti kerja di rumah ini, belum ada beritanya. Mungkin ibumu ikut kerja di warung atau rumah makan di kota lain?"


Jawaban Bu Sinah membuat hati Ayuna mencelos, bertambah merasa asing berada di kediaman mewah ini.


Tak seluruh isi rumah pernah dimasukinya hanya servis area yang terasa akrab. Setiap lebaran hari ketiga atau ketika ada hajatan, keluarga ini mengundang jamuan anak panti asuhan dan masyarakat sekitar. Di situlah Ayuna akan berbaur menjejakkan kaki ke area publik seperti ruang tamu daan ruang keluarga.


Perasaan asing bercampur nelangsa mengingat kenangan bersama ibunya. Ah. Seandainya Ayuna tidak dibawa pergi oleh ayah, apakah dirinya dan ibu akan terus bersama di rumah mewah ini? Bila demikian pasti ia takkan canggung menghadapi Saka.


Hufff. Jadi besok aku harus memanggilnya Tuan? Hati Ayuna menciut. Statusnya kurang lebih sama dengan Bu Sinah dan ART lain, masa iya pemuda itu kupanggil Abang?


.

__ADS_1


__ADS_2