
Sudah hampir 1 minggu aku mengurung diri di dalam kamarku
Mata yg sembab, suara yg hampir saja sudah tak terdengar lagi,dan air mata yg tidak pernah ada habisnya yg selalu saja menetes dari mataku yg sudah mulai terlihat menghitam,
Aku mengutuk diriku sendiri
Aku menyalahkan diriku atas kejadian yg menimpa Lexi
"Andai malam itu aku mengangkat telponnya mungkin saja sekarang Lexiku masih hidup"
Selalu kata2 itu yg muncul di pikiranku
Kata2 yg seolah membuat bahwa kejadian yg menimpanya adalah kesalahanku.
Aku bahkan memutuskan untuk pindah sekolah, Karna setiap aku berada disana, kenangan itu seolah2 ingin juga memaksaku untuk mati, kenangan yg membuat aku kehilangan akal sehatku, dan mungkin saja aku akan gila karna selalu mengingat semuanya.
Kubuka mataku yg terpejam, bahkan akupun tidak ingat kapan mata ini mulai terlelap, mungkin saja ia sudah lelah karna selalu mengeluarkan cairan bening itu,
Tok tok tokk
"Lisia, bangunlah sayang, ini hari pertama kau sekolah, jangan sampai telat, lekaslah turun, mama tunggu di bawah"
Ku dengar mama mengetuk pintu kamarku.
"Iya ma... Lisia sebentar lagi turun"jawabku.
Segera aku beranjak, mandi dan bersiap siap dengan seragam sekolahku yg baru tentunya
__ADS_1
Aku menuruni anak tangga
Ku lihat, papa,mama dan kak Dimas sudah menunggu di meja makan.
"Kulihat akhir-akhir ini kau semakin kurus dan tidak terurus, apa kau tidak makan dengan baik?"
Kak Dimas terus memperhatikan langkah kakiku.
"Duduklah sayang, habiskan sarapanmu" mama menarik kursi yg ada di sampingnya.
Aku tau mama sengaja menutupi semua hal yg terjadi padaku.
Tanpa menjawab pertanyaan kak Dimas aku langsung duduk dan memakan roti selai keju yg ada di hadapanku.
"Habiskan susumu, agar badanmu lebih berisi, apa kata orang2 melihat kau sekurus ini, seperti tidak di beri makan saja"
"Andai kau alami seperti yg aku rasain saat ini kak, pasti kau juga akan merasa kehilangan, susah buat makan, bahkan tidak semangat untuk melakukan apapun"batinku.
Tanpa terasa airmataku sudah akan menetes lagi
Tapi segera ku tahan,aku tidak ingin menangis di depan kak Dimas. Bisa-bisa kakakku yg bawel ini akan tambah memarahiku.
Setelah selesai sarapan aku berangkat kesekolah di antar kak Dimas, kebetulan satu arah karna dia juga akan berangkat ke kantor, yah kakakku yg tampan ini yg di usianya masih sangat muda harus menghabiskan waktunya dengan berbagai urusan kantor karna memang kelak dialah yg akan mewarisi dan menggantikan posisi papa sebagai CEO di perusahaannya.
Dimas Prasetyo 24 tahun
Perawakan tinggi, kulit putih bersih, hidung mancung, bibir tipis, berbakat dan bahkan memiliki otak yg encer dan sangat pintar,
__ADS_1
Benar-benar sangat sempurna dan idaman para kaum hawa.
Tapi sayangnya kakakku ini sama sekali belum tertarik dengan urusan percintaan maupun masalah menikah, maka dari itu dia sangat2 melarang hubungan aku dengan Lexi, katanya bisa mengganggu pelajaran sekolahku, dan bahkan mungkin saja saat ini kalau dia tau Lexi sudah meninggal, mungkin dia akan tertawa sekeras dunia bisa mendengarnya, keterlaluan memang, tapi aku sangat-sangat menyayangi kak Dimas.
Mobil berhenti tepat di gerbang depan sekolah, aku segera turun dari mobil dan melangkahkan kakiku memasuki sekolah yg teramat asing bagiku.
Yah di sekolah ini bahkan aku tidak mengenal siapapun, akan tetapi disinilah aku tidak akan mendapati bayang-bayangnya Lexi.
Bukkkk...
Tiba-tiba aku menabrak seseorang dan buku yg ada di genggamanku pun terjatuh.
"Apa kau tidak menggunakan matamu sewaktu berjalan" tanyanya dengan sedikit emosi.
"Maaf tadi aku sedang melamun" jawabku sambil mengambil bukuku yg berserakan.
Bukannya membantu tapi dia malah menginjak salah satu bukuku, berjongkok dan mengangkat daguku
"Lain kali kalau kau sedang berjalan gunakanlah matamu, atau jika kau memang tidak membutuhkan matamu lagi berikan pada orang yg lebih membutuhkannya... " dia melepas daguku dengan kasar.
Betapa terkejutnya aku dengan wajah yg sekarang hanya beberapa centi meter dari wajahku,
"Lexi? ,apa ini Lexiku? Tapi dia adalah seorang pria yg lembut, tidak mungkin Lexiku berbicara sekasar itu"batinku.
Pria itu pun berdiri dan segera berlalu dari hadapanku.
Ku ambil semua bukuku,
__ADS_1
"Mungkin saja hanya mirip, atau mungkin karna otakku penuh dengan wajah Lexi makanya aku melihat mereka sama" akupun berbicara pada diriku sendiri.