Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Penyelamat


__ADS_3

Dokter yang menangani pak Donni pun terlihat keluar dari dalam ruangan, Dimas segera berdiri dari tempat duduknya.


"Bagaimana dok!!!apa papa saya baik-baik saja? "Terlihat kecemasan di wajahnya


"Sekarang kondisinya sudah kembali stabil, tapi!!!? "Dokter itu menggantung kata-katanya.


"Tapi apa dok? jangan membuat saya tambah khawatir"


"Terjadi sesuatu kerusakan di dalam otaknya pak Donny, dan jujur saja, rumah sakit kami tidak memiliki alat yang cukup untuk melakukan operasinya. Saran saya, sebaiknya Pak Donny di berikan perawatan yang lebih baik lagi dan tentunya rumah sakit yang lebih bagus lagi!"


Bukankah itu membutuhkan biaya yang sangat besar? Bagaimana Dimas akan mendapatkan uang sebesar itu? Apalagi sekarang perusahaan mereka sedang di ambang kebangkrutan.


"Kak, bukankah kita memiliki uang yang cukup untuk biaya perobatan papa? lakukan yang terbaik kak!!papa harus kembali sehat"Lisia menghampiri Dimas.


Dokter tersebut pun kemudian pamit diri dan pergi meninggalkan Dimas dan Adiknya. Dimas tidak tahu harus berbuat apa sekarang, Ayahnya perlu perawatan khusus, tapi bagaimana dia bisa mendapatkan biayanya.


"Kenapa kakak hanya melamun, cepat kakak urus semuanya! "Lisia memegang pundak kakaknya.


"Kita ngak punya cukup uang untuk membawa papa keluar negeri"Dimas tertunduk lesu


"Tapi kenapa kak? perusahaannya papa itu besar, uang papa juga banyak, atau kakak yang tidak mau mengeluarkan uang untuk biayanya papa"Lisia menatap tajam Dimas.


"Perusahaan sedang memiliki masalah, bahkan kalau kakak tidak segera menyelesaikan semuanya, perusahaan papa akan bangkrut,dan kita harus ganti rugi dalam jumlah yang besar"Terang Dimas.


Benarkah perusahaan ayahnya akan bangkrut? Lantas bagaimana dengan nasib ayahnya? akankah ayahnya juga akan menyusul ibunya?


Lisia kembali merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya. Apa yang harus dia lakukan agar bisa menyembuhkan ayahnya?


"Aku akan bekerja kak! aku akan mencari uang untuk biaya perawatan papa"Lisia menatap Dimas yang sudah seperti orang yang kehilangan arah.


"Tidak Lisia!!! kau masih harus sekolah, ini semua tanggung jawab kakak"Dimas menatap adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Lakukan apa saja yang terbaik!!! Cari rumah sakit dan dokter yang paling ahli, aku yang akan bertanggung jawab"


Suara itu kembali terdengar.Apa kakak beradik tersebut lupa kalau ada orang lain di sekitar mereka? Tapi siapa dia? Akankah kali ini dia yang akan jadi penyelamat bagi Lisia?


"JUAAANNN!!! "Dimas menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya.


Lisia menatap kakaknya heran. Sejak kapan kakaknya kenal dengan laki-laki misterius di sekolahnya tersebut.


"Apa kau serius dengan ucapanmu?? "Dimas kembali bertanya.


"Apa aku pernah membohongimu kak? Dan kau!!!! "Juan menatap Lisia


"Pikirkan saja sekolahmu, belajar yang benar, sebentar lagi ujian kelulusan"


Kata-katanya Juan kali ini sangat berbeda. Ini bukan seperti Juan yang biasa Lisia temui di sekolah, Juan yang selalu bermadikan keringat karna sehabis bermain basket, Juan yang terkenal dengan sikap dinginnya, tapi kali ini dia berbeda, penampilannya masih terkesan dingin, tapi sangat cool, laki-laki ini sekarang lebih mirip menjadi CEO MUDA daripada menjadi ketua tim basket.


Juan dan Dimas pergi meninggalkan Lisia, mereka membicarakan bagaimana perawatan yang akan di dapatkan oleh Pak Donni ayahnya Dimas, kepergian mereka masih menimbulkan seribu macam pertanyaan di benaknya Lisia, tapi dia tidak terlalu memikirkannya, melihat ayahnya yang masih terbaring koma membuat dia melupakan semua orang-orang yang ada di kehidupannya.


***


"Itu tandanya aku tidak akan bisa bertemu papa dalam waktu dekat ini? "


"Selesaikan ujianmu, aku akan menjemputmu kembali"Juan mengelus sayang rambut Lisia.


Soal ujian, bukankah Juan juga masih kelas 3 dan harus ujian juga? Tapi dari kata-katanya sepertinya laki-laki ini tidak akan mengikuti ujian kelulusan, itu tandanya dia tidak akan lulus SMA, dan seperti apa memangnya kekayaan orang tuanya? apa orang tuanya juga membayar agar tanpa mengikuti ujian anaknya akan lulus? benar-benar tidak masuk akal.


.


Sekarang Lisia berada di apartemen yang dia rasa sangat mewah, setelah Juan dan Dimas berangkat ke singapura, Juan menyuruhnya untuk tinggal di apartemennya saja, meski awalnya Lisia bersikeras untuk tinggal dirumahnya, namun akhirnya Karna bujukan dari kakaknya sekarang dia berada disini, di dalam apartemen yang di dominasi wana krem muda tersebut.


Terdapat 1 kamar tidur yang di isi ranjang king size, ruang makan, ruang kerja, kamar mandi yang di lengkapi ruang ganti, kolam renang, pemandangan cantik yang langsung bisa di nikmati dari dalam ruangan, dan ruang tamu yang dilengkapi dengan sebuah TV yang sangat besar, Ck.. seperti sedang berada di bioskop saja.

__ADS_1


Lisia mengamati semuanya, dia begitu terkagum-kagum melihat semua perabotan yang mengisi ruangan tersebut. Siapa sebenarnya Juan? dan kenapa laki-laki itu begitu baik pada keluarganya? apa mereka saudara jauh? atau Juan hanya orang yang kebetulan di kirim tuhan untuk membantu keluarganya?


Lisia segera mandi dan mengganti pakaiannya, disana dia di temani oleh bi Lastri ARTnya Juan, biasanya wanita paruh baya itu hanya datang 2x dalam seminggu, tapi sekarang karna permintaan tuan mudanya wanita itu datang setiap pagi dan pulang pada sore hari. Tentunya membantu untuk memasak dan mencuci pakaiannya Lisia.


Berulang kali Lisia menolak, akan tetapi sepertinya tidak ada yang bisa membantah perkataannya Juan. Mau tidak mau, lagi-lagi dia harus menerima bantuan itu. Ntah sudah berapa banyak hutang yang harus dia bayarkan kelak. Juan tidak meminta apa-apa, tapi Lisia menganggap semua itu adalah hutang untuknya, dan berjanji kelak dia pasti akan membayar semuanya.


Merasa khawatir karna belum ada kabar dari kakaknya, Lisia memutuskan untuk menelpon Dimas terlebih dahulu.


"bagaimana keadaan papa kak? apa semuanya baik-baik saja? "


**iya semuanya baik-baik saja. Sekarang keadaan papa sudah semakin membaik.


"kapan kau akan menjemputku? "


**Selesaikan dulu ujianmu, baru kau akan datang kesini


"baiklah**!!! "


Lisia tahu, dia pasti tidak akan bisa berdebat dengan kakaknya, barang itu sekalipun. Lisia benar-benar sangat merindukan ayahnya. Ngomong-ngomong soal merindukan, ada satu laki-laki yang di rindukan oleh gadis itu, kemana dia? kenapa tidak menghubunginya? Bukankah dia tahu ayahnya Lisia sedang di rawat? kenapa laki-laki itu semakin hari semakin tidak perduli dengannya?


***


Pembicaraan serius tampak di wajah Reki dan Sonny ayahnya. Reki terlihat kesal setelah mendengar permintaan dari sang ayah.


"Aku tidak akan bertunangan apalagi menikah sebelum aku sukses pa, papa tahu sendiri, keinginan dan cita-cita Reki masih sangat tinggi"


"Apa salahnya setelah lulus sekolah kau bertunangan, dan kau bisa menikah setelah kau mendapatkan kesuksesan"


"Ngak pa! Reki ngak mau, Reki masih mau mengejar impiannya Reki, Reki ngak mau cuman di cap anak manja yang mengharapkan semua hartanya papa"


"Kalau begitu kau harus buktikan omonganmu sama papa, lanjutkan studymu di NEW YORK, atau kalau kau tetap berada disini, kau harus mengikuti kemauannya papa"

__ADS_1


Reki tertunduk lemas mendengar keputusan ayahnya, NEW YORK??? bukankah itu negara yang sangat jauh? itu artinya dia akan pergi dari JAKARTA, dan akan meninggalkan kekasihnya, Apa yang harus dia lakukan? berada di jakarta dia akan harus menerima pertunangan dari ayahnya, itu artinya dia akan kehilangan Lisia, dan Kuliah di NEW YORK, juga pasti akan terpisah dari gadis itu, tapi bukankah mereka masih bisa bersama? Setelah wisuda nanti mereka masih akan bisa menikah.


HAPPY READING...


__ADS_2