Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Salah paham II


__ADS_3

Aku melihat wajah kekesalan pada gadisku.


Hah sejak kapan aku mengklaim bahwa ia adalah gadisku. Ntahlah itu tidak penting. Sejak saat itu aku sudah memutuskan bahwa ia adalah gadis ku. MILIKKU.


Bukan aku tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja aku tidak peduli. Toh yang di foto kan belum tentu aku juga. Hanya orang bodoh yang langsung percaya dengan gosip murahan seperti itu.


Aku bergedik lucu setiap kali melihat wajah marah dan kesalnya Lisia.


Aku tau mungkin saat ini aku telah menyakiti perasaannya. Bukan aku, terlebih gosip bodoh yang menjadi trandic topic di sekolahku.


****


Selama jam pelajaran aku hanya menghabiskan waktuku untuk melamun.


Gosip itu membawa pengaruh buruk bagi kesehatanku.


Triiinngggg....


Bel istirahat pun berbunyi.


Rasanya kaki sangat berat untuk keluar dari dalam kelas.


"Mau ke kantin? " Marissa bangkit dari bangku disusul Rey di belakangnya


"Aku lagi malas, aku titip Roti sama minuman aja yah" Aku mengatakan pesananku kepada Marissa


"Hhmmmm... baiklah" Marissa menggandeng tangan Rey dan mereka berdua keluar dari dalam kelas


Padahal saat ini aku sangat lapar dan ingin makan bakso pak wawan yang kepedasaannya mencapai level 10.


Tapi semuanya aku tahan, karna kalau aku keluar, pasti selera makanku akan menghilang.


Aku tidurkan kepalaku di atas meja dengan tangan sebagai bantalannya.


Tiba-tiba sebuah sebuah ponsel tepat berada di depan wajahku.


"Tuliskan nomormu" Reki sudah duduk di depan bangku yang aku duduki.


Rasanya sangat malas untuk melihat wajahnya saat ini.


"Apa sekarang kau setua dan setuli itu, sampai-sampai aku yang berbicara sedekat ini kau bahkan tidak mendengarnya"


Aku tidak menghiraukannya, aku berbalik agar tidak melihatnya.


"Tulis sekarang atau aku sama sekali tidak akan pernah meminta nomormu"


Mendengar kata-katanya yang mulai meninggi membuat nyaliku menciut.


Ku ambil ponsel di tangannya dan menuliskan nomorku.


Selesai, aku langsung meletakkan di atas meja benda pipih milik Reki tanpa berbicara kepadanya.


"Mau nulis nomor aja susah, dari tadi nulis kan aku juga ngak perlu sampai naik darah" Ia bangkit dari tempat duduknya dan hendak meninggalkanku


Sebelum ia meninggalkan kelas, aku berdiri dan memanggilnya.


"Reki,,, apa kau tidak bermaksud untuk menjelaskan sesuatu?? " tanyaku


"Menjelaskan apa? aku rasa aku tidak melakukan kesalahan apapun, jadi untuk apa aku melakukannya, hanya orang bersalah yang butuh sebuah penjelasan" jawabnya singkat dan berlalu dari dalam kelas


Aku hanya berdiri sambil kebingungan mendengar jawaban singkat dari mulutnya Reki


"Dasar cowok bodoh...haaaahhhhhh!!!" Aku berteriak sambil mengacak-acak rambutku.

__ADS_1


Skip


@Juan Pov


"apa sekarang dia baik-baik saja? tapi melihat semua gosip yang beredar aku rasa sekarang ia sedang merasakan sakit. Apa perlu aku menemuinya? "


Aku terus memikirkan Lisia.


Aku tau seperti apa dia menyukai Reki.


Saat ini aku bahagia mendengar kabar kalau Reki & Salsa berpacaran. Itu tandanya Lisia masih sendiri.


Akan tetapi dengan semua ini, aku tahu pasti Lisia merasakan sakit yang paling dalam, dan itu semua juga akan membuatku merasakan sakit yang sama.


***


Aku melihat Lisia duduk sendirian di bangku depan kelasnya.


Melamun, yah itu yang sekarang ia lakukan.


Aku menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya.


"Minumlah, orang yang tersakiti itu butuh tenaga yang kuat" Aku menyerahkan sebotol aqua untuknya


"hah!!!! apa sekarang kau sedang mengejekku" Lisia terlihat kesal melihatku


"Beradalah di sisiku, maka akan ku pastikan kau tidak akan merasakan kesakitan" Aku bangkit dan meninggalkan Lisia


Aku pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban apa yang akan ia berikan.


Aku masih sempat melihat wajah kekesalan pada gadis yang belakangan ini telah banyak mencuri perhatianku.


****


Jam pelajaran pun di mulai.


Aku mencoba untuk fokus, akan tetapi bisik-bisik tetangga yang membicarakan hubungan Reki & Salsa sangat mengganggu isi kepalaku.


Dan akhirnya semua kekuatan fokus yang aku buat runtuh begitu saja.


Ddrrrtttt... ddrrrtttt


Getaran ponsel di saku baju mengagetkan ku.


"Fokuslah belajar, jangan memikirkan apapun" aku membaca sebuah chat dari nomor yang tidak aku kenal


Aku melihat Reki.


Ia tersenyum melihatku, seketika semua kekesalanku yg telah menggunung padanya hilang begitu saja.


Hanya karna senyumannya yang begitu menawan bak dewa yunani hatiku menjadi adem kembali.


Skip...


Sebelum pulang ke rumah aku terlebih dulu mampir ke supermarket.


Membeli beberapa snack dan minuman dingin.


Tidak lupa juga es cream kesukaanku.


Menuju kasir untuk membayar.


"Sekalian aja semuanya mbak" tiba-tiba suara juan dari belakangan membuatku kaget

__ADS_1


"ehhh... mmm.. gg usah, biar aku aja yang bayar"


mbak kasirnya malah bingung


"Jadinya gimana mas? apa sekalian sama punya mbaknya? tanya mbak kasirnya kepada juan


"hitung semuanya aja mbak"


Akhirnya aku hanya diam ketika Juan membayar semua belanjaanku.


Malas berdebat dengan dia, itu yang saat ini ada di pikiranku.


Aku keluar dari supermarket disusul oleh Juan.


"Heii.... kenapa terus mengikuti? apa kau tidak bosan? "aku berhenti tiba-tiba dan melihatnya yang sedari tadi mengekor di belakangku dan hampir saja Juan menabrakku.


Ia hanya diam dan terus berjalan


"Apa aku begitu special untukmu sampe-sampe dimana ada aku selalu ada penampakanmu? "Aku berkacak pinggang kesal melihat tingkah lakunya.


"Jangan terlalu merasa special, kamu bukan nasi goreng"


"ck, dasar makhluk menyebalkan"


"Mobilku terpakir di sana, tepat di belakang mobil jemputanmu, jadi aku bukan mengikutimu girl" Juan terkekeh dan kemudian berlalu dari hadapanku.


Ia menaiki mobilnya dan meninggalkan aku yang masih terbengong melihatnya.


Akupun langsung naik ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk segera pulang.


****


Dari gerbang sudah terlihat mama dan papa menunggu kepulanganku.


Yah,setelah berhari-hari mereka meninggalkan aku, aku sangat yakin bahwa sekarang mereka sudah sangat merindukanku.


Tapi di mana kakakku yang handsome itu? kenapa batang hidungnya tidak terlihat? apa dia masih sibuk dengan segala bisnisnya? ntahlah, sudah berhari-hari juga aku tidak melihat keberadaannya. Dan jujur saja aku mulai merindukan kakakku yang memiliki sedikit kebawelan itu.


Aku turun dari mobil.


Senyuman hangat dan penuh kasih sayang telah menyambutku.


"Aku rindu"sembari memeluk mama


"Mama juga rindu kamu sayang" mama membalas hangat pelukanku


"Apa kau tidak rindu dengan papa? "


Aku melepaskan pelukan mama dan beralih memeluk papa


"I miss you so much my hero"


Kami masuk ke dalam rumah


"Mana oleh-oleh untukku? "


Memang sudah kebiasaan untukku, mama ataupun papa selalu membawakan oleh-oleh setelah bepergian jauh.


"Masuklah ke kamarmu, semua oleh-olehmu sudah menunggu" mama mengelus sayang rambutku


Aku segera berlalu, berlari kecil menyusuri anak tangga menuju kamarku.


Dan benar saja, beberapa bungkusan yang aku yakini berisikan tas, sepatu, dan baju bermerk telah menungguku kehadiran tuan putrinya untuk segera di buka

__ADS_1


Tbc


__ADS_2