
Reki masih menatap kepergiaannya Lisia. Dia tahu saat ini wanita yang masih mengisi hatinya tersebut tengah terluka. Dia merasa khawatir mendengar suara Lisia yang bergetar. Meski Lisia mencoba menyembunyikan kesedihannya, tapi tetap saja Reki dapat merasakannya.
Di ikutinya mobil yang di kendarai oleh Lisia. Dia ingin tahu kemana wanita itu akan pergi. Kembali kerumahnya atau malah ketempat yang lain. Benar saja, mobil itu berbelok ke parkiran taman dekat rumah sakit.
Kenapa dia tidak langsung pulang?
Untuk apa dia datang ke tempat ini?
Reki terus saja mengikuti kemana arah langkah kaki dari wanita tersebut. Benar apa kata hatinya, sekarang wanita itu menangis, menangis sangat dalam menandakan dia sangat-sangat terluka.
Apa begitu sakitkah baginya di acuhkan oleh tunangannya? Reki mendekatinya, memegang pundak Lisia, wanita itu berbalik dan menatapnya. Reki langsung membawa Lisia dalam dekapan hangatnya.
"Menangislah!!! Disini masih ada aku untukmu! Luapkan segala kesedihanmu, Menangislah sepuasmu jika itu bisa mengurangi beban masalahmu!"
Reki tahu pasti, sekarang Lisia tengah menangisi pria lain. Meski hatinya begitu sakit menerima kenyataan tersebut, toh bukankah dulu dia yang mengabaikan wanita itu hingga ada pria lain yang menggantikan posisinya.
Setengah jam berlalu, Lisia masih terus menangis di dalam pelukannya Reki, Perasaan nyaman mulai merasuki hatinya kembali. Kenapa dia harus menangisi Juan? bukankah pria yang di berada di depannya ini adalah pria yang paling dia cintai dan sangat dia rindukan?
Lisia melepas pelukannya dan menatap wajah tampannya Reki. Menatap wajah yang begitu dia rindukan ternyata bisa mengobati rasa sakit karna di acuhkan oleh tunangannya sendiri.
"Aku merindukanmu!! " Ntah dengan tujuan apa Lisia mengatakan hal itu pada Reki, tapi yang jelas memang dia sangat-sangat merindukan lelaki yang pernah mengisi kehidupannya tersebut.
Reki begitu bahagia mendengar ucapan dari bibir mungilnya Lisia, apa sekarang wanita itu akan kembali lagi kesisinya? apa wanita ini akan kembali lagi jadi miliknya?
Reki kembali memeluk Lisia dengan begitu eratnya.
"Sudah ku katakan ! aku tidak pernah ingin melihatmu menangis!!! jadi berhentilah menangis!! "
Lisia menatap Reki, ternyata pria itu masih sama, masih seperti pria yang dulu dia kenal.
***
Setelah mobil berjalan tidak terlalu jauh, Juan kembali memutar balik mobilnya ke tempat Lisia berada. Rasanya dia tidak tega mengabaikan Lisia seperti itu. Sebelum sampai kerumah sakit, dilihatnya mobil Lisia telah terparkir di sebuah taman di dekat rumah sakit.
"Bukankah itu mobil miliknya Lisia? apa yang dia lakukan disini? "
Juan menepikan mobilnya dan berusaha mencari keberadaannya Lisia. Hatinya begitu sakit mendapati kenyataan yang dia lihat sekarang. Belum cukup sekali sayatan, sekarang ucapan wanita tersebut kembali menyayat-yayat hatinya. Meski tidak berdarah tapi sakitnya sampai ke dalam bagian jantung yang terdalam.
"Aku merindukanmu!"
__ADS_1
"Sudah ku katakan ! aku tidak pernah ingin melihatmu menangis!!! jadi berhentilah menangis!! "
Mereka berdua kembali berpelukan. Juan memutar balik kakinya. Bodohnya dia yang masih bisa tertipu dengan wajah polosnya Lisia.
Juan kembali kedalam apartemennya. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi satu yang pasti dia saat ini ingin segera pergi jauh meninggalkan negara itu. Juan memasukkan bajunya secara asal kedalam koper.
"Urus segera kepulanganku, aku ingin kembali ke Jakarta! "Juan menelpon Zey asistenya.
"Kenapa begitu mendadak? apa yang terjadi? "Zey begitu bingung mendapat perintah yang begitu dadakan dari bosnya.
"Urus saja semuanya! dan untuk beberapa waktu tolong urus juga segala urusan dan pekerjaan disini" Ucap Juan dingin.
"Baik tuan"Zey tidak ingin begitu banyak pertanyaan dan segera mengakhiri sambungan telpon dengan bosnya.
Juan menatap sekitarnya. Kakinya berhenti melangkah, sebentar lagi dia akan meninggalkan tempat ini, tempat yang begitu menyimpan berjuta kenangan untuknya. Juan tidak ingin menatap kembali ke belakang, kakinya terus melangkah hingga sekarang dia sudah berada di dalam pesawat yang akan mengantarkan kepulangannya. Sebuah senyuman yang penuh arti kembali tersirat dari sudut bibirnya.
Ntah kenapa dia harus tersenyum, tapi yang jelas tetap saja senyuman itu tidak mampu menutupi kesakitan hatinya.
***
Lisia masuk ke dalam apartemennya. Dia mendatangi apartemen Juan, tapi ternyata disana kosong dan tidak ada orang sama sekali. Dia mendudukkan pantatnya, di tekannya remot tv dan mencari saluran tv yang bisa menghilangkan kepenatannya.
Lisia begitu tidak tertarik mendengar berita tersebut dan langsung saja mengganti channel yang lainnya. Diliriknya ponselnya, Juan sama sekali tidak menghubunginya. Kemana sebenarnya tunangannya tersebut? Kenapa begitu sulit untuk mencarinya?
"Halo Zey, apa sekarang Juan berada di kantor? "Lisia menelpon asistennya Juan.
"Tidak nona, sudah dari 2 jam yang lalu, tuan muda kembali ke jakarta? "Ucap Zey
Lisia mematikan ponselnya. Kembali ke jakarta? Sudah dari 2 jam yang lalu? Apa yang membuatnya kembali kesana? dan kenapa dia tidak mengatakan apa-apa dengan Lisia?
Lisia tidak mau bergelut dengan pikirannya, dia segera menuju kamar mandi dan berendam agar pikirannya kembali tenang. Hingga dia tertidur dengan lelapnya.
***
Dimas begitu marah, Berkali-kali di telponnya Lisia, tapi adiknya tidak kunjung mengangkat telponnya.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan disana? apa dia tidak khawatir? atau apa dia tidak melihat berita ?"Guman Dimas.
Dimas mendatangi posko korban jatuhnya pesawat, dia mencari tahu apa calon suami dari adiknya telah di temukan, tapi hasilnya masih tetap saja nihil. Belum ada tanda-tanda bahwa penumpang ada yang selamat.
__ADS_1
Lisia membuka matanya, ternyata dia tertidur dengab begitu lama, segera dia meraih handuk dan memakai pakaiannya. Dia duduk di atas ranjangnya, di raihnya ponsel yang terletak di atas kasur.
20 panggilan tak terjawab dari kakaknya. Kenapa dia menelpon begitu banyaknya? Apa ada hal yang begitu penting?
Di telponnya kembali kakaknya, dia begitu ingin tahu apa hal yang membuat kakaknya begitu sering menelponnya.
"Ha...
"Darimana saja kau? apa kau tidak tahu apa yang sedang terjadi? apa kau begitu tidak khawatir dengan keadannya? "
Lisia belum sempat berbicara tapi Dimas sudah memborbardirnya dengan berbagai pertanyaan yang tidak dapat dia mengerti semuanya.
"Apa maksudmu kak? "tanya Lisia.
"Juan belum di temukan, bahkan belum ada yang tahu dia selamat atau tidak" Suara Dimas mulai memelan, dia tahu Lisia pasti tidak akan bisa menerima kabar tersebut.
"Apa maksudmu kak? Kenapa dengan Juan? Jangan bermain-main denganku!!! "wajah Lisia mulai memanas, matanya memerah.
Di ingatnya berita yang dia tonton tadi siang tapi dia mengabaikannya begitu saja. Di raihnya remot dan kembali menghidupkan Tv miliknya.
Berbagai stasiun Tv telah menampilkan wajah tampan dari tunangannya tersebut.
"Seorang COE muda yang ternyata juga menaiki pesawat yang di kabarkan telah hilang contact"
"Juan Andrea masih belum ditemukan"
"CEO tampan Juan Andrea pengusaha sukses di negara Singapura telah di pastikan berada dalam pesawat yang hilang"
Berbagai macam berita telah tersebar, Lisia bahkan tidak tahu, dia begitu mengabaikan berita tersebut. Bukankah Zey telah memberitahukannya bahwa Juan kembali ke Jakarta?
"Katakan ini semua tidak benar kak? katakan kalau Juanku baik-baik saja? Katakan katakan kalau Juan tidak ada di dalam pesawat itu? "Air mata Lisia mengalir dengan derasnya.
Semua seperti mimpi untuknya? Bukankah mereka baru bertemu hari ini? Bukankah dia masih ingin meminta maaf dari tunangannya tersebut?
"Juuuuuu Aaaaannnnnn!!!!!!!" Lisia berteriak sekuatnya, berharap rasa sesak yang menghantam dadanya pergi segera dari hatinya.
Bersambung...
Tinggalkan jejak para readers...
__ADS_1
Makasih