Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Rasa Kecewa


__ADS_3

"Aku punya permintaan padamu? " Juan memeluk Lisia dari belakang.


"Apa itu? "Lisia berbalik dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Juan.


"Apa kau akan menurutinya? "Tanya Juan.


"Heemmm!! " Jawab Lisia singkat.


"Kau yakin? "


Juan menghela nafas panjang.


"Aku tidak ingin kau bekerja pada rumah sakit itu! tolaklah permintaan mereka! "Juan berkata dengan manjanya.


"Baiklah kalau itu keinginanmu! "Lisia mengikuti kemauannya Juan. Kali ini dia yakin. Dia juga tidak ingin menyakiti hati dari tunangannya tersebut.


"Aku akan pulang, kau istirahatlah! "


Lisia menganggung. Dia mengantarkan kepulangan Juan sampai di pintu apartemen miliknya. Sebelum pulang Juan kembali meraih tengkuk Lisia dan mencium bibirnya dengan sangat cepat. Wajah Lisia kembali memerah. Perasaan berdebarnya masih sama ketika Juan pertama kali mengambil ciuman pertamanya. Wajahnya terlihat begitu malu-malu dan Juan sangat menikmati pemandangan tersebut.


Sepeninggal Juan,Lisia langsung menutup pintu apartemennya kembali dan berjalan menuju kamarnya. Untuk sementara waktu di sana dia hanya sendirian. Ayahnya memutuskan kembali ke Jakarta karna dia ingin mengunjungi makam ibunya. Dan dengan senang hati Dimas membawanya.


Lisia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia begitu lelah. Badannya terasa remuk karna semalaman dia menghabiskan tidurnya dengan berbaring di atas sofa. Meski sofa milik Juan begitu empuk tapi tetap saja badannya terasa begitu lelah.


Drrttt... ddrrttt...


Dengan cepat Lisia meraih ponselnya diatas nakas.


"Halo... "


"....."


"Tapi aku bukan dokter disana. Aku sudah menolak permintaan tersebut"


"...."


"Apa tidak ada dokter jaga disana? "


"...."


"Baiklah!!! Aku akan segera kesana! "

__ADS_1


Lisia memutuskan sambungan telepon. Sekarang dia begitu bingung. Sesuai permintaan dari tunangannya dia tidak ingin bekerja pada rumah sakit milik Reki. Tapi sekarang ada orang yang sedang kritis dan mereka butuh bantuan Lisia. Apa yang harus dia lakukan? Di lain sisi dia tidak bisa melihat orang sakit dan sedang membutuhkan pertolongannya.


***


Juan mendengar tidak percaya kata-kata dari asistennya?


"Kau yakin yang kau lihat tersebut adalah nona muda? "


"Iya tuan, wanita yang berada disana memanglah nona Lisia"


Juan mengepalkan tangannya. Dia menahan amarahnya. Bagaimana mungkin tunangannya membohonginya? Bukankah baru beberapa jam yang lalu Lisia menyetujui keinginan darinya? Tapi sekarang bisa-bisanya dia sudah berada di dalam rumah sakit tersebut.


Juan ingin memastikan semuanya. Dia ingin melihat secara langsung bahwa Lisia telah membohonginya. Dengan cepat dia melajukan mobilnya agar segera sampai ke tempat Lisia berada.


Setelah sampai buru-buru Juan berjalan masuk kedalam rumah sakit. Baru beberapa langkah, tiba-tiba kakinya terhenti. Wanita yang dia cari saat ini sedang bersama dengan pria yang paling sangat ingin dia hindari.


Juan benar-benar kecewa. Bisa-bisanya Lisia melakukan semua itu padanya. Mereka berdua tampak tertawa dengan bahagia. Juan semakin mengepalkan tangannya. Tapi dia tidak ingin membuat keributan.


Setelah beberapa saat, Lisia menatap kearah Juan. Lisia melihatnya dengan garis wajah yang susah diartikan. Lisia tahu bahwa sekarang pasti Juan sangat marah padanya. Tapi mungkin setelah dia menjelaskan Juan akan mengerti dengan situasinya.


Ketika Lisia akan melangkah ke arah Juan, Juan segera berbalik dan berjalan dengan cepatnya meninggalkan rumah sakit tersebut. Lisia sedikit berlari untuk mengejarnya.


Juan membuka pintu mobilnya, Tapi Lisia mencoba untuk menahan tangannya. Juan menatapnya dengan penuh amarah.Saat ini dia benar-benar sangat marah dan kecewa pada Lisia.


Juan melepaskan tangan Lisia dengan kasar. Untuk pertama kalinya dia memperlakukan Lisia seperti itu. Dia langsung membuka kembali pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalam.


"Juan buka pintunya... "


Lisia terus saja mengetuk kaca mobil tersebut, berharap sang pemilik akan keluar dan mendengarkan penjelasannya. Akan tetapi Juan malah memilih melajukan mobilnya dan dengan cepat meninggalkan halaman rumah sakit.


Juan masih menatap Lisia yang masih berdiri sambil memandangnya dari kaca spion. Sebenarnya dia sangat tidak tega memperlakukan Lisia seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya saat ini benar-benar sangat sakit.


"Aaaaaaaaaaaaaaa" Juan berteriak sekencang mungkin dan memukul stir mobilnya.


Air matanya kembali menetes, bukankah kemarin dia sudah mempersiapkan hatinya bahwa kali ini dia akan benar-benar kehilangan Lisia? Bukankah dia akan menerima keputusan tersebut? Bukankah dia juga ingin Lisia bahagia? Tapi kenapa semuanya begitu cepat untuknya? Dia masih ingin bersama dengan Lisia, menikmati hari-hari bahagia yang akan mereka lewati.


Juan terus melajukan mobilnya.Dia bahkan tidak tahu kemana arah yang akan dia tuju.


***


"Apa semuanya baik-baik saja? "Reki memegang pundak Lisia.

__ADS_1


Wanita itu masih berdiri di tempat terakhir kalinya Juan pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


Dia masih berharap Juan akan kembali dan mendengarkan semua penjelasannya.


"Aku rasa Juan salah paham! " Reki kembali berucap.


"Aku akan menjelaskannya! Mungkin saat ini dia butuh waktu untuk sendiri. Setelah dia kembali, aku akan mengatakan semuanya, dan aku yakin ini akan baik-baik saja" Suara Lisia bergetar. Dia berusaha menahan agar air matanya tidak terjatuh.


Jujur saja, baginya semua itu seperti mimpi. Juan belum pernah memperlakukannya sekasar itu. Juan melepaskan tangannya dengan begitu kuat. Dan tatapannya menandakan dia sangat-sangat kecewa pada Lisia.


"Aku akan pulang! "


"Tunggu...! "Reki memegang tangan Lisia.


"Aku akan mengantarmu! "Tawar Reki.


Lisia melepaskan tangan Reki dengan perlahan.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. " Lisia tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Setelah dia melajukan mobilnya, perlahan air matanya satu-persatu mulai membasahi wajahnya dengan derasnya. Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia memang belum bisa mencintai Juan, tapi melihat Juan mengabaikannya hatinya begitu terasa sangat sakit. Saat ini dia sangat ingin bertemu dengan Juan dan menjelaskan semuanya.


Bukankah keadaan ini baik untuknya?


Bukankah dengan begini Juan akan membatalkan pertunangan mereka dan dia bisa kembali lagi pada kekasihnya? Tapi ada sesuatu yang membuat dadanya begitu sesak. Dia takut telah menyakiti perasaan Juan, Dia takut pria itu akan membencinya, dan mungkin satu yang belum dia sadari.Dia mulai takut pria itu akan meninggalkannya?


Mungkinkah dia sudah mulai membuka hatinya?


Mungkinkah Juan sudah mengisi hatinya walau hanya sedikit?


Dan mungkinkah dia juga sudah mulai jatuh cinta pada tunangannya tersebut?


Lisia tidak ingin segera pulang. Dia membelokkan mobilnya kesebuah taman di dekat rumah sakit tersebut. Dia duduk di salah satu bangku yang tersedia disana. Dadanya begitu terasa sesak, air matanya masih terus saja mengalir.


"Hhuuu... hhhuhhh!!! "


Dia terus memukul-mukul dadanya yang terasa sangat begitu sakit. Seseorang memegang pundaknya, Lisia berbalik dan menatapnya.


"Menangislah!!! Disini masih ada aku untukmu! Luapkan segala kesedihanmu, Menangislah sepuasmu jika itu bisa mengurangi beban masalahmu!


Pria itu semakin memeluknya erat. Lisia terus menangis dan membalas pelukan dari pria tersebut. Saat ini dia memang sangat butuh seseorang untuk tempatnya bersandar.

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2