Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Pengakuan Marissa


__ADS_3

Aku merebahkan badan yang terasa cukup lelah setelah seharian belajar di sekolah.Kulirik Marissa yang berada di sampingku.


"Aku mau langsung mandi aja deh, biar pikiran bisa lebih rilex". Marissa bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.


Sejenak aku ingin menenangkan pikiranku, yang ntah kenapa belakangan ini terlihat sedikit kacau.Kupejamkan mataku, sekilas bayangan wajah Reki lewat begitu saja.


"Kenapa kamu menghindar? Apa kamu berpikir aku berteman denganmu karna wajahmu yang mirip dengan Lexi? "


Yah semenjak tugas kelompok itu selesai, Reki tak pernah lagi berbicara denganku. Jangankan berbicara, sekedar menyapa pun tidak pernah, dan bahkan lebih parahnya, ia tak pernah membalas senyumanku lagi.


Aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang, tapi tak tau ntah apa, aku pun tak tau, aku masih berkutak dengan pikiranku yang ntah kemana-mana.


Tiba-tiba Marissa keluar dari kamar mandi dan membuyarkan lamunanku.


"Jangan melamun terus, sana gih mandi"


Seperti bayi yang mendengarkan kata-kata ibunya, aku menurut saja apa kata Marissa.


30 menit berlalu, aku segera menyelesaikan ritual mandiku, keluar kamar mandi, memakau baju tidur minionsku yg hanya sampai setengah lutut saja.


Aku dan Marissa segera turun ke bawah dan langsung menuju meja makan.


"Queennya mama,kamu makan sendirian dulu yah, mama sama papa ngak makan


dirumah sedang ada urusan di luar kota, dan kemungkinan satu minggu kedepan ngak pulang, kak Dimas juga sedang fly ke singapura untuk urusan bisnisnya"


Kudapati selembar note di meja makan

__ADS_1


"Kenapa?" Marissa mendudukkan pantatnya di bangku meja makan.


"Ortu lagi keluar kota"Jawabku cuek.


"Wahhhh kamu beruntung dong malam ini aku nginap, kan kalo ngak kamu bakal sendirian" dengan membuat baby facenya.


Rasanya pengen muntah melihat sikap Marissa yang dengan sok imutnya. Yah biarpun dia benar kalo aku beruntung dia nginap di rumahku, tapi ngak beruntung-untung amat kok.


Kami langsung segera menghabiskan makan malam.


Skip


Aku bersadar di tepi ranjang menggunakan bantal sebagai sandaran. Kulihat Marissa hanya mengotak atik remot yang bahkan dia sendiri ngak tau mau nonton apa.


"Katanya kamu mau cerita, cerita apaan sih? "Aku memecahkan keheningan.


Marissa tetap diam tanpa melihat ke arahku.Membuat aku sedikit kesal.


Sebuah bantal mendarat mulus tepat di wajahnya Marissa.


"Apaan sih... "Ia melihatku kesal.


"Katanya mau ngomong, apaan? ".Aku kesal balik menatapnya.


Ia mendekat dan duduk di tepian ranjang tepat di depanku


"Aku ngak tau mau mulai dari mana, ini tentang aku sama Rey". Ia memulai pembicaraannya.

__ADS_1


"Kenapa lagi? berantam? bukannya kemarin udah baikan, udah ayang-ayangan lagi". Kataku sok tau.


"Buka Sia... aku malu mau bilangnya sama kamu! "


"Apaan sih, bikin penasaran aja"


"Janjiya kamu bakal jaga rahasia"


"Promise! " meyakinkan Marissa.


"Aku sama Rey udah ngelakuin itu Sia! " dengan wajah malu-malunya.


"Ngelakuin apaan? ribet amat sih yang mau cerita, bikin orang kesal aja". Aku mulai kesal melihat Marissa.


"Aku sama Rey udah tidur bareng Li, aku udah ngelakuin hubungan yang seharusnya ngak kami lakuin, itu cuman boleh dilakuin sama suami istri aja" Marissa menunduk dan wajahnya mulai panas, terlihat matanya yg mulai memerah dan menggenang.


"Apaaaa... aaaaa?????? kenapa bisa Mar, kalian itu masih sekolah, masih muda, itu namanya kamu udah ngerusak masa depan kamu sendiri". Aku terkejut mendengar pengakuan Marissa.


"Saat itu kami memang sama-sama mau Li, Rey juga janji ngak bakalan ninggalin aku, dia bakalan tanggung jawab setelah kita tamat sekolah". Air mata Marissa udah mulai membanjiri wajahnya.


"Udah-udah, ngak usah nangis lagi, semua udah terjadi kok, ngak perlu disesali lagi, yang aku liat Rey itu beneran sayang kok sama kamu". Aku memeluk dan mengelus rambutnya Marissa agar ia semakin tenang.


"Makasih yah Li, aku pikir setelah kamu tau ini, kamu ngak bakalan mau lagi temanan sama aku"


Aku melepaskan pelukanku dan melihat Marissa.


"Kamu itu Sahabat aku yang paling baik"

__ADS_1


Kami berdua kembali berpelukan kembali. Dalam hati aku berjanji, akan jadi orang pertama yang akan marah kalau sampai tau Rey akan menyakiti Marissa, tapi seperti yang aku lihat, aku percaya Rey, dia laki-laki yg baik, dan pasti akan selalu ada buat Marissa.


Tbc...


__ADS_2