Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
KESUKSESAN LISIA


__ADS_3

Lampu ruangan masih menyala menandakan operasi masih berlangsung di dalam ruangan tersebut. 5 jam sudah berlalu dan belum ada tanda-tanda Lisia telah menyelesaikan operasinya.


Dimas sedari tadi mondar mandir di depan pintu ruangan operasi. Dia mengharapkan adiknya keluar dan membawakan kabar bahagia.


"Tenanglah kak! berdoa pada tuhan, semoga Lisia berhasil dan om Donny akan baik-baik saja" Juan berusaha menenangkan Dimas.


Tapi itu semua tidak mengurangi rasa takutnya. Ingin rasanya sekarang dia membuka pintu tersebut dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Lampu mati dan perlahan-lahan pintu mulai terbuka. Lisia berdiri di sana dengan air mata mengalir di pipinya.


Dimas menatap tak berdaya begitupun dengan Juan. Apa yang sebenarnya terjadi? berhasilkah Lisia atau sebaliknya dia telah gagal dan nyawa ayahnya menjadi taruhan keegoisannya???


Dimas dan Juan menghampiri Lisia. Dimas menghapus air mata adiknya. Melihat air mata itu dia sudah tidak ingin menanyakan keadaan ayahnya. Dia pasrah apapun kehendak dan tadir dari tuhan.


"A aku berhasil kak!!! aku berhasil"Lisia terus menangis.


Dimas langsung memeluk adiknya. Dia pun ikut menangis,menangis bahagia untuk kesembuhan ayahnya dan bahagia untuk kerja kerasnya.


Lisia menatap Juan. Dia menatap laki-laki yang begitu sangat percaya padanya hingga mengizinkan dia untuk melakukan operasi tersebut.


Lisia memeluk Juan dengan sangat erat. Laki-laki itupun kembali memeluk Lisia dengan hangatnya.


"Aku berhasil melakukannya!!! Aku berhasil!!! "Lisia menangis dengan tersedu-sedu di pelukan Juan.


Juan mengangkat dagu Lisia dan memandang wajah yang masih di basahi oleh air yang keluar dari bola matanya. Perlahan Juan menghapus air mata tersebut.


"Aku percaya, kau pasti bisa melakukan yang terbaik!!! "Juan tersenyum dan kembali memeluk Lisia.


Ayahnya telah di pindahkan ke ruang perawatan pasien biasa. Tapi ayahnya masih dalam pengaruh obat bius dan masih belum sadarkan diri.


Keberhasilan Adinda, seorang yang masih mahasiswa yang berani mengambil tindakan beresiko langsung terdengar hampir di seluruh kota Singapura.


Keberhasilannya membuat dia lebih cepat mendapatkan gelar dokternya. Lisia mendapatkan penghargaan atas kesuksesannya. Sekarang dia telah resmi menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit tersebut. Dia adalah satu-satunya dokter wanita termuda di rumah sakit itu.


Juan memberikan selamat kepada Lisia. Dia sangat percaya bahwa Lisia akan meraih kesuksesannya. Meski itu harus dengan campur tangannya.


Ayahnya Lisia telah sembuh total.

__ADS_1


Mereka memilih menetap di singapura. Dan Dimas harus bolak balik singapura-jakarta untuk mengurusi perusahaannya yang sekarang telah resmi dialah Direktur Utamanya.


Sekarang Adinda telah memiliki apartemennya Sendiri. Dengan segala usaha dan kerja kerasnya akhirnya dia bisa berdiri sendiri. Membeli apartemen untuk dia tempati bersama ayahnya. Diapun segera mengembalikan apartemen pemberian Juan.


Ayahnya Lisia duduk di balkon dan melihat pemandangan sekitar. Dia merasa telah hidup kembali. Tapi sayang sekarang dia sudah semakin tua dan tidak bisa bekerja keras seperti dulu lagi. Sekarang dia hanya bisa berdiam diri di dalam apartemen dan menyusahkan anak-anaknya. Padahal Dimas dan Lisia tidak pernah menganggap dirinya sebagai beban.


"Apa yang papa pikirkan??? "Lisia menghampiri ayahnya yang duduk termenung.


"Lisia papa punya permintaan untukmu sayang!! "


"Apa pa??? katakanlah!!! "


"Pilihlah Juan sebagai tunanganmu dan kelak menikahlah dengan dia!! "


Lisia tidak terkejut mendengar permintaan ayahnya. Dia sudah tahu kalau ayahnya akan mengatakan hal tersebut. Mengingat Juan adalah satu-satunya orang yang perduli di saat keluarganya jatuh dan terpuruk.


"Papa ingin aku bertunangan dengan Juan!! "


"Iya sayang!!! papa percaya Juan pasti bisa membahgiakanmu, dia itu adalah laki-laki yang baik!!!"


Lisia terdiam. Dia belum bisa memutuskan hal tersebut. Biar bagaimanapun dia masih mencintai orang lain yang sekarang keberadaannyapun Lisia tidak tahu dimana.


"Aku akan membicarakan ini terlebih dahulu dengan Juan pah!! Nanti aku akan menemuinya! sekarang aku akan berangkat kerja dulu. Pihak rumah sakit menelpon mengatakan ada operasi mendadak"


Lisia pamit dan meninggalkan ayahnya. Semua keperluan ayahnya sudah dia percayakan pada ARTnya.


***


Juan melirik jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 8.Tapi sampai saat ini dia belum menemukan tanda-tanda akan kehadirannya Lisia. 1 jam yang lalu Lisia menelponnya dan meminta untuk bertemu dan mungkin saja itu akan membicarakan hal yang sangat penting.


"Apa sudah menunggu lama? "Lisia langsung duduk di depan Juan. Ternyata Juan sudah terlebih dahulu memesan makanan dan minuman, Lisia datang dan langsung meminum jus jeruk di hadapannya.


"Ngak kok!! "


"Maaf tadi di jalanan sedikit macet!!! "Jelas Lisia

__ADS_1


Juan menatap kelelahan pada garis wajah Lisia.


"Apa hari ini pekerjaanmu sangat berat?? "


Lisia hanya mengangkat kedua bahunya dan langsung menyantap makanan yang terhidang di hadapannya.


Selesai makan Lisia menatap Juan dengan sangat lekat. Seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi dia masih tidak berani untuk mengatakannya.


"Apa yang ingin kau bicarakan? apa kau membutuhkan sesuatu? "Juan bertanya pada Lisia.


"ini soal papa?? "


"apa yang terjadi? apa Om sakit lagi? "Terlihat kepanikan di wajahnya Juan.


Maklumlah dia sudah ikut merawat pak donny selama 3 tahun dan sudah menganggap bahwa ayahnya Lisia juga sudah seperti ayahnya.


"Tenanglah!!! papa baik-baik saja!!! ini hanya permintaannya! "


Juan mendengarkan Lisia dengan seksama.


"Papa menginginkan kita bertunangan!!! "


Rasanya saat itu juga Juan ingin memeluk erat wanita di depannya. Dia bahagia dan sangat bahagia. Tapi bukankah itu hanya keinginan ayahnya Lisia? Bagaimana dengan gadis itu sendiri? Apa dia juga menginginkan hal yang sama?


"Apa ini hanya keinginan om Donny ? Terus bagaimana dengan kamu Lisia? apa kamu juga menginginkannya? "


Lisia terdiam, saat ini hatinya memang masih terombang ambing. Dia masih mencintai laki-laki lain.


"Kediamanmu aku anggap kau tidak menginginkannya! "


Juan berdiri dan hendak pergi meninggalkan Lisia.


"Lupakanlah jika itu hanya permintaan om Donny, aku hanya ingin bertunangan dengan wanita yang juga menginginkan aku berada di sampingnya. Pikirkanlah!!! Aku tidak ingin kau menderita hanya karna permintaan dari orang tuamu saja"


Juan berjalan meninggalkan Lisia dan tidak menatap lagi ke belakang. Bisa-bisa kalau saat ini dia melakukannya, dia akan berlari memeluk gadis tersebut dan memohon-mohon agar dia juga mau bertunangan dengan dirinya.

__ADS_1


Lisia menatap kepergian Juan. Benar apa katanya! Dia harus memikirkannya terlebih dahulu. Apa dia harus bertunangan dengan Juan atau tidak. Tapi bagaimana dengan ayahnya? biar bagaimanapun Juanlah yang selalu berada di sampingnya memberikan dia rasa ketenangan dan kedamaian.


Happy Reading...


__ADS_2