Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Rencana Liburan


__ADS_3

Berkali-kali Lisia mencoba menelpon Juan tapi tidak kunjung ada jawaban dari pria tersebut. Biasanya bahkan belum sempat 1 detik pria tersebut akan langsung mengangkat telponnya.


"Kemana dia??? "batin Lisia.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wib, terhitung sudah dari 1 jam yang lalu Lisia menelpon Juan. Tapi hingga detik ini pria tersebut belum juga berbalik untuk menghubunginya.


Perasaan bersalah semakin merasuki Lisia. Dia menyesal telah menatap pria lain saat ada pria yang begitu baiknya berada disisinya. Tapi sekarang dia ingin menebus kesalahannya. Dia ingin menemui tunangannya dan mengatakan maaf. Tapi sampai saat ini dia bahkan tidak tahu dimana posisi dari tunangannya.


Drrtt... drttt...


"Kenapa?? " Telpon berdering dan dengan cepatnya Lisia langsung mengangkatnya.


"Kau serius? "


"...."


"Baiklah, aku akan segera kesana!! " Lisia memutuskan telpon.


Segera wanita tersebut mengambil tas dan kunci mobilnya. Berjalan dengan cepat menuju lobby dan langsung melajukan mobilnya.


Tidak butuh waktu lama Lisia telah berada di tempat tujuannya. Dengan berjalan tergesa-gesa wanita tersebut langsung menuju lift. Sesampainya di ruangan atas, wanita itu langsung membuka pintu yang satu-satunya berada disana.


Perlahan kakinya melangkah masuk, ditatapnya sosok pria lemah yang duduk di balkon dengan gelas yang berisi sampanye di tangannya. Pria yang biasanya begitu gagah,tampan dan selalu tersenyum cerah di hadapannya sekarang bahkan terlihat tidak memliki gairah lagi untuk hidup.


Didekatinya pria lemah tersebut. Perlahan Lisia memegang pundaknya Juan, Juan bahkan tidak berbalik untuk menatapnya. Lisia duduk di hadapannya Juan. Dipegangnya wajah yang lemah tersebut. Wajah itu terlihat lelah karna sehabis menangis.


Pria itu terlihat begitu lemah membuat Lisia menjadi begitu merasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan?? " Lisia memegang wajah Juan.


Juan hanya diam tidak merespon pertanyaan dari Lisia. Kembali di teguknya minuman di tangannya.


Prannggggg!!!!

__ADS_1


Pecahan kaca bertaburan, Lisia membuang gelas yang berada di genggaman Juan. Dia merasa itu bukan Juan yang dia kenal. Juan tidak pernah menghabiskan waktunya untuk minum-minum apalagi sampai mabuk. Tapi bukankah itu juga karna Lisia? karna dirinya yang tidak bisa lepas dari pesona seorang Reki?


"Kenapa kau membuangnya? untuk saat ini aku sangat butuh itu!" Juan sudah terlalu mabuk hingga tidak menyadari bahwa wanita di depannya adalah Lisia.


Lisia langsung membantu Juan untuk berdiri. Dia merasa kesusahan memapah tubuh Juan yang begitu besar di banding tubuhnya. Lisia membuka pintu kamar yang memang khusus tersedia disana apabila Juan ingin menginap di kantor.


Dengan susah payah Lisia menidurkan tubuh Juan di atas ranjang. Dia membuka sepatu dan melonggarkan dasi yang Juan kenakan. Ditutupinya tubuh Juan dengan selimut. Ditatapnya pria yang sudah tertidur itu mungkin karna dia sudah sangat mabuk.


Lisia juga memilih untuk tidur dan menemani Juan disana. Dia sangat khawatir dengan keadaan dari tunangannya tersebut. Lisia memilih untuk tidur di sofa. Ketika baru melangkah ditatapnya kembali pria yang sedang berbicara dalam tidurnya tersebut.


"Kenapa kau lakukan ini semua? kenapa kau tega melakukan ini padaku? Lisia aku sangat mencintaimu!!! " Mata Juan masih tertutup


Lisia semakin merasa bersalah terhadap Juan. Pria itu berubah karna dirinya. Lisia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Diapun mulai memejamkan matanya dan mulai memasuki alam bawah sadarnya.


Perlahan mata Juan mulai terbuka. Kepalanya terasa sangat berat dan sangat pusing. Terakhir kali dia berada di balkon. tapi dia menatap sekeliling dan ini sudah berada di kamar yang berada di kantornya.


Dia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam, dia mengingat seorang wanita datang dan membawanya ke kamar ini. Tapi siapa wanita tersebut? dia bahkan tidak mengingatnya.


Juan masih memegangi kepalanya yang terasa masih sangat pusing. Di lihatnya wanita cantik yang sekarang tertidur dengan pulasnya di atas sofa. Ternyata yang semalam menemuinya adalah Lisia tunangannya sendiri.


"Apa aku mengganggu tidurmu? "tanya Juan.


"Hooaammmm!!!! apa ini sudah pagi? "Lisia dengan tidak malunya menguap di depan Juan.


Lisia merentangkan kedua tangannya dan masih terus menguap. Pemandangan yang indah bagi Juan untuk menyambut paginya. Dia memeluk Lisia dan Lisia membalas pelukan Juan. Sejenak bibir itu sudah mendarat dengan mulusnya pada bibir pink alami milik Lisia.


Lisia terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Juan. Mengingat ini masih pagi dan ini juga untuk pertama kalinya bagi Lisia. Ketika Juan melepaskan ciumannya, Lisia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dengan lembut Juan menarik tangan tersebut.


"Kenapa"


Wajah Lisia langsung memerah. Dia sangat malu, mengingat ini adalah ciuman pertama untuknya.


"Kau malu? " Tanya Juan dengan lembutnya.

__ADS_1


Lisia hanya menganggukkan kepalanya.


Kembali Juan menarik tengkuk Lisia dan kembali mencium bibir wanita tersebut. Sangat dalam dan lebih lembut dari ciuman pertama yang Juan berikan. Ketika dirasa hampir kehabisan nafas, baru Juan melepaskan ciuman mereka.


Lisia langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Juan hanya terkekeh melihat kelakuan tunangannya yang masih sangat begitu polos.


"Kenapa harus malu? aku ini adalah tunanganmu! "Ledek Juan.


Meski sudah bertunangan tapi tetap saja Lisia sangat malu dengan perlakuan Juan barusan. Dengan cepat wanita itu berlari menuju kamar mandi dan langsung mengunci diri di dalam sana. Juan hanya tertawa melihat tingkah laku Lisia.


Lisia mengintip dari balik pintu.Setelah selesai mandi bahkan sekarang dia tidak berani untuk keluar dan bertemu dengan Juan. Ntah wajah seperti apa yang harus dia tunjukkan di depan tunangannya tersebut.


Lisia menatap sekeliling kosong, dia merasa aman dan mulai melangkahkan kakinya. Ketika baru beberapa langkah, dia kembali di kejutkan dengan suaranya Juan.


"Apa saja yang kau lakukan di dalam sana? Kenapa begitu lama? "Juan mendekati Lisia.


"A aku... aku... "Lisia terlihat gugup.


Lisia semakin gugup ketika Juan mulai merangkul pinggangnya dari belakang. Mesum ataupun tidak, tapi detak jantungnya kembali tidak normal, dan bahkan dia sudah membayangkan ciuman selanjutnya ada akan memakan waktu yang begitu lama dari ciuman mereka sebelumnya.


Juan mencium kening Lisia dan menarik tangannya menuju sofa. Disana sudah terhidang sarapan pagi untuk mereka berdua. Lisia terlihat kecewa. Tapi dia mencoba untuk menyembunyikannya. Dia bahkan sekarang berharap pria itu akan kembali menciumnya.


Setelah selesai menikmati sarapan, Juan langsung mengantarkan Lisia pulang.Mereka menaiki mobil Juan dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju apartemen Lisia.


"Bagaimana kalau kita liburan? "Tawar Lisia.


"Ide yang bagus!!! kemana? "Tanya Juan.


"Aku mau kita ke Paris!!! " Lisia terlihat begitu antusias.


"Baiklah!!! "


Juan memang tidak bisa sekalipun menolak keinginan dari tunangannya. Meski saat ini hatinya masih sakit, tapi dia hanya ingin wanitanya tersebut selalu bahagia ketika berada di dekatnya.

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2