
Rey mengetuk pintu rumah Reki tanpa jeda sekiditpun, membuat orang yang berada di dalam rumah menjadi kesal. Buru-buru Reki membuka pintu agar tamu tak di undangnya tidak menggedor-gedor pintu secara terus menerus.
"Siapa?? "Reki membuka pintu dengan kesal.
Rey kesal melihat penampilan Reki yang tampak santai,
"Apa yang kau lakukan? bukankah kau pacarnya? harusnya sekarang kau berada di sampingnya dan menguatkannya" Rey berkata dengan kesal.
"Apa maksudmu? "Reki tampak bingung.
"kau memang ngak tahu atau pura-pura ngak tahu sih? "Rey semakin kesal
"ngak usah bertele-tele deh. katakan aja langsung"
"mamanya Lisia meninggal. puaaassss...!!! " tanpa pamitan Rey langsung melangkah pergi meninggalkan Reki, tadinya dia ingin berangkat bersama melayat ke rumahnya Lisia, tapi Reki tampak santai membuat dia sangat kesal.
Sepeninggal Rey, Reki masih terbengong di depan pintu. Benarkah apa yang dia dengar? benarkah ibunya Lisia meninggal? kenapa dia bisa sampai melewatkan hal tersebut. Pasti saat ini kekasihnya tersebut sangat membutuhkannya.
Segera Reki bersiap dan langsung melajukan mobilnya, tidak butuh waktu lama, sekarang dia sudah berada di depan rumah Lisia. Rumah itu tampak ramai tidak lengang seperti biasanya.
Karangan bunga berjejer di sepanjang jalan mengucap suka duka. Segera Reki memasuki rumah Lisia, dari kejauhan dia menatap seorang gadis yang tampak rapuh dan tidak berdaya.
Gadis yang biasanya terlihat ceria, sekarang terlihat tidak memiliki gairah hidup sedikitpun. Mata yang tampak sembab, kantung mata yang menghitam menandakan gadis itu telah menangis dalam waktu yang lama dan kurang tidur.
Reki mendekati gadis tersebut. Dia memegang pundak Lisia, gadis itu menatapnya, terlihat wajah yang begitu rapuh. Reki langsung menariknya ke dalam pelukannya, pelukan yang bisa membuat gadis itu untuk merasa lebih kuat dan tidak merasa sendirian.
Tangis Lisia semakin menjadi ketika berada di pelukan kekasihnya. Dia menumpahkan seluruh kesakitan di dalam hatinya, kehilangan seorang ibu sangat berat untuknya.
Melihat Lisia menangis dalam pelukan Reki membuat Dimas heran. Dia ingin segera menghajar lelaki kurang ajar di depannya tersebut yang telah memeluk adiknya dengan sangat lancang.
Tapi dia segera menahan diri. Melihat adiknya merasa nyaman, mungkin adiknya memang butuh laki-laki sialan di depannya tersebut.
"Menangislah jika itu membuat kesedihanmu berkurang, menangislah jika itu bisa mengurangi bebanmu, menangislah, disini ada aku yang siap menampung semua keluh kesah dan air matamu" tetesan air mata mulai mengalir di wajahnya Reki, sepertinya dia juga merasakan kesedihan kekasihnya.
Rey dan Reki membantu proses pemakaman ibunya Lisia, sementara Marissa terus menemani Lisia yang terlihat selalu melamun. Marissa memeluk sahabatnya, seperti ingin memberikan semangat pada Lisia.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, jenazah Ibunya Lisia sudah dimakamkan, satu-persatu orang mulai pergi meninggalkan rumah besar tersebut. Reki mendatangi Lisia yang terduduk di atas ranjang di kamarnya. Dia memeluk kedua lututnya erat.
"Makanlah walau hanya sedikit"Reki datang dan membawakan makanan untuk Lisia.
Lisia hanya menggeleng menandakan dia tidak ingin makan. Marissa dan Rey pun masuk ke dalam kamar Lisia. Marissa duduk di samping Lisia.
"Ayo makanlah, nanti kamu sakit? "Bujuk Marissa
Lisia masih enggan untuk mengangkat wajahnya. Air matanya masih terus mengalir seperti tidak habisnya saja.
"Makanlah, aku mohon, kalau kau tidak mau makan sekarang juga aku akan pulang" Ancam Reki.
Lisia mengangkat wajahnya melihat apa Reki serius dengan kata-katanya. Reki tidak main-main, dia segera berjalan menuju pintu.
"Baiklah aku akan makan, tapi hanya sedikit"Suara Lisia hampir tak terdengar.
Reki berbalik dan tersenyum, akhirnya keras kepala kekasihnya luluh juga. Reki segera menyuapi Lisia, setelah beberapa sendok, Lisia menolak untuk membuka mulutnya kembali.
"Kau masih makan sedikit, tapi kau sudah kenyang, apa karna itu dari tanganku"Reki mengejek Lisia
Sekilas dia menatap Reki, untuk saat ini dia akan membiarkan laki-laki itu berkeliaran di dalam rumahya, karna mungkin saat ini itulah yang terbaik bagi Lisia.
*
3 hari sudah berlalu setelah kematian ibunya Lisia, gadis itu masih terus mengurung dirinya di dalam kamar. berbeda dengan kakaknya Dimas, 3 hari sudah dia meninggalkan perusahaan, dan disana telah banyak terjadi masalah yang akan menguras tenaga dan pikirannya.
"Kenapa bisa begini, apa yang sebenarnya terjadi!?"Wajah Dimas terlihat panik.
"Ternyata Zacky asistennya pak direktur sudah mengatur semuanya dengan sangat baik, dia dalang di balik kecelakaan tuan besar, dan saat ini dia sudah membawa kabur hampir dari setengah saham milik perusahaan tuan muda" Terang Sultan asistennya Dimas.
"Dan kabar buruknya lagi, kalau kita tidak bisa menormalkan kondisi perusahaan, semua perusahaan yang bekerja sama dengan kita akan menarik sahamnya kembali, dan kita harus ganti rugi dalam jumlah yang banyak tuan"
"bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? "Dimas tampak kebingungan.
Dimas tidak tahu harus berbuat apa lagi, beberapa perusahaan besar telah ia hubungi untuk melakukan kerja sama, tapi hasilnya semua menolak karna perusahaannya sedang tidak stabil.
__ADS_1
*
"pa.. papa bangun donk pa!!! sekarang Dimas benar-benar bingung, apa yang harus Dimas lakuin buat nyelamatin perusahaannya papa! Dimas ngak tahu harus berbuat apalagi" Dimas menggenggam erat tangan ayahnya.
tik... tikkk... tiikkkk
suara detakan di alat yang terpasang di samping pak Donny mulai melemah. Dimas tampak ketakutan. Apa sekarang kondisi ayahnya benar-benar memburuk? apa ayahnya juga akan meninggalkan mereka sama seperti ibunya? tidak, itu tidak boleh terjadi, kenapa tuhan begitu tidak adil pada keluarganya! terlalu banyak masalah bertubi-tubi yang menghantam keluarga Prasetyo tersebut.
"Dokteeerrrrr.... "Dimas langsung mencari dan memanggil dokter yang merawat ayahnya!
Dokter tersebutpun langsung berlari ke dalam ruangan pasien disusul oleh suster di belakangnya, dan suster tersebutpun menyuruh Dimas untuk menunggu di luar.
Dimas tampak mondar-mandir di depan ruangan ayahnya. sudah 30menit berlalu tapi dokter tersebut belum juga menampakkan batang hidungnya.
Lisia menghampiri kakaknya. Dia begitu takut melihat kekhawatiran di wajah kakaknya.
"Apa yang terjadi kak? papa baik-baik saja kan?? " air mata Lisia langsung menetes meski belum mendapatkan penjelasan dari kakaknya.
"Papa kritis" Dimas terduduk lemas.
Begitu banyak masalah yang menghantam keluarganya. pertama ibunya meninggal, kedua perusahaan keluarganya diambang kehancuran, dan ketiga sekarang ayahnya kembali kritis.
Lisia terduduk di sudut lorong rumah sakit tersebut. Dia menangis sesenggukan, dia sekarang tidak tahu harus berbuat apalagi, apabila ayahnya pergi meninggalkannya, lengkap sudah rasanya penderitaannya.
"Jangan terus menangis, sudah pernah ku katakan, datang padaku jika kau butuh bahu untuk bersandar, datang padaku jika kau merasa kesusahan, kenapa tidak mencariku? "
Laki-laki itu memberikan sapu tangan untuk Lisia. Suara itu tidak asing baginya, suara yang belakangan ini sudah dia lupakan dari kehidupannya.
Bersambung...
tambahkan di daftar favoritnya yah...
jangan lupa Like, Vote dan bintang limanya.
Makasih...
__ADS_1