Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Wanita Ular


__ADS_3

Setelah lelah bermain basket, aku beristirahat sejenak di tepi lapangan. Sorak-sorak gadis yang mengidolakanku, sudah biasa untukku. Aku bahkan sudah sering tak menghiraukannya lagi.


"waahhh... Juan sangat tampan"


"Berkeringat seperti itu membuat ketampanannya menjadi double"


"Andai saja aku bisa menjadi pacarnya"


Bla.. bla.. bla...


Seperti itulah yang sering aku dengar. Saat berjalan di koridor sekolah, saat tanding maupun latihan basket, bahkan saat jam pelajaran berlangsungpun aku sering mendengarnya.


Tapi sekarang aku sudah tidak terlalu perduli lagi.Semuanya udah biasa dan sudah jadi makanan sehari-hari untukku. Tidak seperti dulu pada saat awal aku menjadi ketua dan andalan tim basketku, setiap mendengar teriakan gadis menyebutkan namaku, semangat dan tenagaku akan bertambah-tambah.


Aku akan selalu membalas teriakan itu dengan senyuman khas di wajahku. yang membuat mereka semakin bertambah histeris. Tapi ntah kenapa satupun dari gadis itu tidak ada yang menarik perhatianku.


Tapi sekarang berbeda dengan gadis yang satu ini. Semenjak melihatnya termenung di halte bis depan sekolah, dia sangat menarik perhatianku. Semakin hari aku semakin penasaran dengan keberadaannya, selalu mengawasi gerak-geriknya, selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Terlebihnya aku sudah seperti penguntit baginya.


Belakangan aku ketahui, ternyata gadis itu bernama Lisia Queenzha. Anak baru disekolahku, aku semakin semangat untuk mengejar cintanya. Bahkan semangatku melebihi semangat saat aku sendiri mau bertanding basket.


Akan tetapi ternyata dewa cinta belum berpihak kepadaku. Aku kalah cepat dengan lelaki yang sekarang statusnya sudah menjadi kekasihnya.


Dari sini tempatku sekarang duduk termenung, aku melihat mereka bercanda dan tertawa bersama. Kebahagian begitu terpancar dari wajah anggunnya. Dan untuk pertama kalinya aku mengaku kalah, bukan kalah dalam pertandingan basketku, perlu kalian ketahui, belum pernah aku kalah dalam melawan club manapun.


Tapi untuk hari ini, aku kalah, aku kalah dari lelaki yang bernama Reki Arya Pratama. Aku kalah dalam mendapatkan hatinya Lisia Queenzha.


"Apa kau cemburu?" Salsa duduk di sampingku


Aku hanya diam tak merespon kehadirannya


"Aku tau perasaanmu, jadi tidak perlu kau menyembunyikannya"


Aku tersenyum dan balik menatapnya.


"Sepertinya itu bukan urusanmu"


"Aku punya penawaran untukmu! "


Aku penasaran apa maksud dari gadis yang sekarang duduk di sampingku


"Penawaran? "Aku mengulangi kata-katanya


Ia mengangguk melihatku dan tersirat senyuman yang penuh arti dari bibirnya. Ia mendekat dan hendak berbisik di telingaku.

__ADS_1


"Tidak perlu mendekat dan berbisik denganku, katakan saja yang jelas apa maksudmu"Aku menjauhkan badanku dari Salsa.


"Baiklah,,, Aku tau kau menyukai Lisia dan aku juga sama, aku menyukai Reki. Ambil Lisia maka akan aku ambil milikku juga. Apa kau setuju? "Ia menjelaskan padaku


Aku tersenyum sinis mendengar kata-kata wanita ular di sampingku.Mungkin ia berfikir aku sudah setuju dengan ide yang dia anggap sudah sangat cemerlang.


"Untuk kelanjutan rencananya akan aku kasih tau sepulang sekolah"


Aku kembali meneguk air minum di tanganku, ku tatap kembali gadis yang sekarang tertawa bersama kekasihnya.


"Kau gadis yang sangat cantik Salsa Emery"


Ia tersenyum mendengar kata-kata pujianku.


"Jangan katakan kau juga menyukaiku" Ia terkekeh melihatku


"Tapi sayangnya wajahmu tidak seperti perilakumu, kamu wanita yang sangat rendahan. Sifat dan wajahmu sangat berlawanan"


Sudah merasa di atas langit, tiba-tiba merasa di jatuhkan. Aku bangkit dan meninggalkannya. Sebelum pergi aku menatapnya kembali.


"Jadilah wanita yang lebih baik, alangkah kecantikanmu akan semakin bertambah kalau sifatmu juga mendukung" Aku pergi meninggalkan Salsa


Ia hanya menatap kepergianku. Aku tidak perduli dengan apa yang saat ini dia pikirkan, Aku melangkahkan kakiku menuju ruang ganti.


****


@Salsa Pov


Aku kesal melihat sifat lelaki sialan ini, awalnya aku berfikir ia akan setuju dengan ide cemerlangku, tapi ternyata ia pergi dan mengabaikanku.


"Dasar sialan"batinku memgumpat laki-laki itu


"Apa dia fikir aku tidak bisa melakukannya sendiri, Tanpa kamu aku bisa melakukan semuanya, Dasar ********"


Amarahku sudah tak bisa aku kendalikan lagi, kesal dan marah menjadi satu.


Salsa menatap dua orang yang sedang tertawa bahagia di depannya. Hawa panas semakin merasuki dadanya.


"Jangan pernah berharap kalau aku akan membiarkan kalian bahagia" Aku tersenyum sinis dan pergi berlalu.


****


Lisia dan Reki terus tertawa bahagia. Seperti kata pujangga, serasa dunia milik berdua. Mereka semakin hari semakin dekat dan susah untuk di pisahkan.

__ADS_1


"Nanti malam aku akan menjemputmu" Reki menggenggam tangan Lisia


"Apa kau punya kejutan lagi untukku" Aku menyandarkan kepalaku di bahunya Reki


"Hhhmmmm.... "Jawabnya singkat


Sekarang Lisia tidak perduli lagi dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Dia hanya berfikir apa yang membuatnya bahagia akan terus selalu bersamanya.


Malam ini dia berjanji akan bertemu kembali. tepatnya mungkin kencan pertama untuk mereka berdua.


Reki Arya Pratama yang terkenal dingin di sekolah, akan tetapi dia akan beratu 180 derajat ketika bersama dengan kekasih yang sangat dia cintai.


"Nanti malam aku jemput jam delapan. jangan terlambat"


"Baiklah... aku tidak akan membuat tuan muda Reki menunggu terlalu lama" aku tertawa renyah melihatnya


****


Untuk sekarang pergi dan pulang sekolah aku selalu bersama dengan Reki. Dan satu hal, Lisia tidak pernah bosan ketika selalu bersama dengan Reki.


Saat ini dia masih bisa bebas, karna kakaknya Dimas Prasetyo masih ada di luar kota. Setelah kakaknya kembali nanti, mungkin saja semuanya akan berubah.


Malam ini dia segera bersiap-siap, karna sebentar lagi kekasih hatinya akan segera menjemputnya.


Dia mematung menatap bayangan dirinya di dalam cermin.


"Sampai sekarang bahkan aku belum percaya, wajah itu kembali lagi menemani hari-hariku. Wajah yang selalu membuat hatiku nyaman. Aku benar-benar sangat menyayanginya. Dan tidak ingin berpisah lagi" Aku berbicara dengan bayanganku sendiri


Tepat jam 8 aku keluar dari dalam rumah setelah pastinya berpamitan dengan ayah dan ibuku. Belum ku lihat tanda-tanda kehadirannya Reki. Tidak berapa lama mobil sport merah itu berhenti tepat di depan rumahku.


Bak pangeran yang turun dari kereta kudanya, benar-benar sangat tampan.


Melihat kedatangannya ku sambut dengan senyuman semenarik mungkin.


"Kita berangkat sekarang? "Aku mendekati Reki


"Tunggu dulu... "


TBC....


Like


Coment

__ADS_1


Vote


__ADS_2