
Selesai aku mengatakan bahwa aku menyukai Lisia, aku langsung berlalu dan meninggalkannya. Aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku memang sekarang sudah sangat menyukainya.
Sebisa mungkin aku akan menyembunyikan seberapa besar aku menyukainya, agar aku dapat mengetahui dia menyukai aku sebagai Reki atau bahkan karna wajahku mirip dengan cinta pertamanya yg ntah siapalah namanya. Aku sama sekali tidak ingin mengingatnya.
Bukan aku tidak mengetahui bahwa sepanjang mata pelajaran terakhir dia selalu mencuri-curi pandang untuk melihatku, tapi aku berusaha untuk mengabaikannya saja.
Aku terus melihat kebahagiaan di wajah Lisia ketika tidak sengaja aku melihat ia terus tertawa di halte bis depan sekolah, wajahnya juga terlihat memerah, semerah tomat ketika aku menyuruhnya untuk naik ke dalam mobil dan mengantarnya sampai ke rumah.
Andai ia dapat mengetahuinya, aku juga sangat bahagia merasakan ini semua.
Debaran jantung di dalam sini sudah sangat tidak bisa untuk aku kondisikan lagi.
Secepat mungkin aku meninggalkannya tanpa melambaikan tangan terlebih dahulu kepada Lisia. Segera ku lajukan mobil sport kesayanganku agar cepat pergi dari hadapannya.
Aku melihat-lihat beberapa fotonya Lisia di dalam ponselku, yang sengaja diam-diam aku ambil tanpa ia ketahui.
"Bisakah kau lebih mencintai aku daripada mantan kekasihmu yang dulu? aku sangat berharap kalau aku lebih berharga di hatimu daripada dia" Aku berbicara kepada fotonya Lisia
Drrttt... dddrrttt...
Getaran ponselku membuyarkan lamunanku
Salsa calling...
Dengan malas aku mengangkatnya
"hhmmm" jawabku cuek
"Kenapa kau begitu cuek terhadapku? aku hanya ingin mengajakmu keluar sebentar"jawabnya
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana"
"tapi...
Belum sempat ia menjawab aku sudah mematikan telponnya.
__ADS_1
Berkali-kali aku lihat ia kembali menghubungiku, tapi aku terus mengabaikannya.
Salsa Emery, gadis yang aku tidak tau asal usulnya, yang tiba-tiba menempel seperti benalu terhadapku. Sebenarnya aku sangat terganggu dengan kehadirannya, akan tetapi ingin berbicara langsung takut menyakiti perasaannya, biar bagaimana pun dia adalah seorang wanita.
****
Namaku Salsa Emery, aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Aku berasal dari keluarga kalangan atas, Ayahku adalah seorang pemilik dan Direktur Utama dari perusaah kami EM Grup.
Yah belakangan ini aku memang sedikit tertarik untuk mendekati seorang Lelaki yang bernama Reki Arya Pratama.
Selain wajahnya yang terkenal handsome, dia juga merupakan satu-satunya pewaris tunggal dari Pratama Grup.
Bisa di pastikan kalau aku kelak menjadi istrinya, kehidupanku pasti akan sangat-sangat terjamin.
Butuh perjuangan yang keras agar bisa dekat dengannya. Padahal kalau aku mau, dalam sehari aku bisa 10kali dalam bergonta-ganti pasangan.
Wajahku lumayan cantik, bahkan aku salah satunya siswi yang di perhitungkan di sekolahku.
Dan selain cantik aku juga kaya.
Tapi ntah kenapa lelaki yang satu ini sangat susah untuk aku taklukkan.
Skip
@Salsa pov
Di koridor sekolah aku melihat Reki berjalan sendirian menuju kelasnya.
Aku yakin sebentar lagi dia pasti akan cukup terkejut dengan apa yang ia lihat di mading sekolah.
Yah semalam aku memang membayar beberapa orang suruhanku untuk memuluskan semua rencanaku.
Aku sengaja membuat beberapa foto dan dengan editing suruhanku bisa membuat persis bahwa di dalam foto yang mesra itu memang asli aku dan Reki.
****
__ADS_1
@Lisia pov
Di perjalanan menuju kelas, aku heran melihat orang yang berkumpul mengelilingi mading ( Majalah dinding) sekolah.
Seketika jiwa ke kepoanku pun berjalan.
Karna tidak ingin penasaran akupun melihat apa yang telah menjadi tranding topic di sekolahku.
Bagai tersambar petir, tersayat-sayat pisau yang tajam, seketika wajahku menjadi merah padam, semua terasa panas, ingin segera aku menangis dan berteriak sekeras mungkin.
"Bagaimana mungkin dia dapat melakukan ini semua? semalam ia mengatakan kalau menyukaiku, dan sekarang apa-apaan ini? dan siapa wanita ini? " batinku penuh amarah
Dengan segera aku berjalan menuju kelasku, tidak ingin berlama-lama di tempat yang sudah seperti neraka ini buatku.
Aku berdiri di ambang pintu, manik mata itu menatapku lekat.
Untuk pertama kalinya aku mengabaikannya.
Jangankan tersenyum, untuk melihatnyapun saat ini aku tidak sudi.
"Dasar buaya cap ember"
Aku masuk dengan wajah sinisku.
Ntah kenapa semua udara yang berada di dekatku sangat-sangat terasa panas.
Aku duduk tanpa melihat dan menyapanya
"Jika sudah punya kekasih kenapa masih menyatakan suka pada gadis lain. Dasar brengsek!!!! " Aku mencoret-coret bukuku, sebagai bentuk kekesalanku pada wajah yang sekarang aku lihat seolah-olah tidak memiliki salah apapun.
Tbc...
Like
Vote
__ADS_1
Coment