
"Apa akan keluar kota lagi? "Lisia tampak berjalan lesu melihat kedua orang tuanya membawa koper besar.
"Kenapa wajahmu murung begitu? jangan sedih, masih ada kakak" Dimas mencoba menghibur Lisia.
"Jangan pergi, untuk kali ini saja Lisia mohon jangan kemana-mana" Mata Lisia mulai berkaca-kaca.
"Kami hanya sebentar saja sayang, setelah urusan selesai kami akan langsung pulang" Doni tampak membujuk putri kesayangannya tersebut.
Meski dengan hati yang tidak rela, Lisia tetap merelakan kepergian kedua orang tuanya. Ada yang berbeda pada perasaannya untuk kepergian kedua orang tuanya. Dalam hatinya kedua orang tuanya tidak akan pernah kembali lagi.
Dimas membawa masuk kembali Lisia ke dalam rumah. Dia tahu adiknya sedang tidak mau di tinggalkan kedua orang tuanya. Tapi ini untuk perusahaan dan demi masa depan mereka.
"Apa yang membuatmu bersikap seperti tadi? bukannya papa dan mama udah biasa keluar kota untuk urusan bisnis? " Tanya Dimas.
"Ntahlah kak, Aku ngerasa ada yang lain, kayaknya mama sama papa ngak bakalan balik lagi" Ucap Lisia sedih
"Jangan terlalu di pikirkan, semua akan baik-baik saja"Hibur Dimas
Lisia hanya tersenyum mendengar kata-kata kakaknya. Setelah menghabiskan sarapan paginya, dia langsung memilih untuk kembali ke kamarnya saja.
3 jam berlalu setelah kepergian kedua orang tuanya. pikirannya semakin tidak tenang. Dia terus kepikiran kepada kedua orang tuanya.
"Kenapa perasaanku ngak enak gini yah, papa juga susah banget buat di hubungi" Lisia terus mengotak-atik ponselnya mencoba menghubungi ayahnya tapi hasilnya nihil.
*
"AAAPAAAA???? " tanpak wajah ketakutan di wajahnya Dimas.
Dimas segera berlari menuju kamarnya Lisia. Langsung menarik tangan adiknya tersebut menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi yang bisa saja membahayakan keselamatan mereka berdua.
Lisia heran menatap kelakuan kakaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kakaknya tiba-tiba berubah? kemana mereka akan pergi?
"Pelan-pelan kak? "
Dimas tidak menghiraukan perkataan adik perempuannya tersebut. Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap agar segera sampai ke tempat tujuan.
Setelah sampai, Dimas membuka pintu mobil dan membantingnya dengan sangat keras.
Lisia berjalan mengikuti arah dimas yang telah terlebih dahulu berlari meninggalkannya.
RUMAH SAKIT!!! berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya Lisia. Kenapa mereka kemari? Siapa yang sakit? atau siapa yang akan mereka datangi?
Perasaan takut semakin menghantui pikirannya.Lisia segera berlari menyusul kakaknya Dimas.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan orang tua saya Dok? " Dimas berbicara dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan pasien.
Lisia menatap heran.
"Orang tua? kak dimas menyebutkan orang tua? itu tandanya di dalam ada orang tuanya mereka? apa yang sebenarnya terjadi? " batin Lisia.
"Pak Donny sekarang sudah mendapatkan perawatan tapi dia belum sadar dari komanya"
Ternyata tuhan masih berpihak kepada mereka.
"Tapi maaf, untuk istrinya, sebelum sampai kesini, beliau sudah meninggal di dalam perjalanan"
Bagai ribuan jarum yang sangat tajam yang tiba-tiba menusuk jantungnya, Kakinya lemas, air mata langsung membanjiri wajahnya, benarkah apa yg Lisia dengar? benarkah sekarang ibunya sudah tidak ada? atau dokter di depannya hanya sedang bermain-main saja dengan mereka?
"Jangan bermain-main denganku dok !!! kau akan tahu akibatnya!!! " Dimas menggenggam kerah dokter yang menangani orang tuanya.
"Maafkan saya tuan Dimas, kami semua sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi tuhan sudah berkehendak yang lain" Dokter itu berusaha melepaskan tangan Dimas.
Dimas berbalik dan menatap Lisia. Lisia berlari ingin memasuki ruangan di depannya. Dimas segera menarik tubuh adiknya, Dimas memeluknya dengan erat.
"DIIAAMMM... kau jangan menangis!!" Suara Dimas meninggi.
Biasanya Lisia akan langsung takut dengan kemarahan kakaknya, tapi berbeda kali ini. Berada di pelukan kakaknya membuat tangisnya semakin histeris.
Meski ingin terlihat tegar di depan adiknya, tapi untuk kali ini Dimas telah gagal. Diapun mulai menangis,dia juga sudah mulai menjadi lemah.
Sekarang mereka menatap wajah pucat yang sudah terbujur kaku.
"Sudah aa kuu ka katakan ja jangan per gi... KENAPA TIDAK MENDENGARKANKU" Lisia membentak mayat ibunya.
"Lisia tenangkan dirimu, biarkan mama tenang di alam sana? " Dimas sudah mulai bisa menguasai dirinya tidak seperti Lisia, meski dia juga merasakan kehilangan yang teramat sangat
"Kak Lihat aku,,, sudah aku katakan jangan membiarkan mereka pergi, tapi kau tetap saja membiarkannya!!!! " Masih dengan tangisnya yang semakin histeris.
Lisia memegang wajah pucat di depannya dan menciuminya, Air mata itu masih terus saja mengalir dari bola matanya yang indah. Kehilangan itu teramat sakit bagi Lisia. Dia bahkan tidak pernah memikirkan hal tersebut.
Di peluknya tubuh kaku ibunya, Dia menangis menumpahkan segala yang membuat dadanya menjadi sesak.
Lisia mengguncang-guncangkan tubuh kaku itu, berharap ibunya segera terbangun dari tidur panjangnya. Tapi ternyata hanya sia-sia. Mata itu tetap terpejam dengan lelapnya dan Tubuh itu tetap tidak mau bergerak.
Dimas tidak sanggup menyaksikan kerapuhan Lisia. Dia teringat masih ada yang harus dia lihat.
*
__ADS_1
Ruangan itu begitu senyap. Yang terdengar hanya detakan nadi dari alat yang terpasang di tubuh ayahnya yang menandakan ayahnya masih bernafas.
Di genggamnya tangan itu,
"Sadarlah pa !!! kami sangat butuh papa!!! " Air mata dimas mulai lagi mengalir dari sudut matanya
"Begitu banyak yang ingin aku tanyakan pa? Masih banyak hal yang harus aku ketahui? bagaimana aku dan Lisia bisa hidup tanpa papa dan mama!!! "
Dimas berharap ayahnya mendengar semua kata-katanya.berharap laki-laki yang tertidur pulas itu segera membuka matanya dan bangun dari tidur panjangnya. Tapi ternyata setelah beberapa saat menunggu, tangan itu tak kunjung bergerak, mata itu tak kunjung terbuka, dan tubuh itu juga tak kunjung terbangun.
Tok.. tokk... tokk..
Dimas melihat ke arah pintu
"Masukkk!!! " Dimas menghapus air matanya
"Selamat sore pak Dimas, kami dari kepolisian, kami yang akan menangani kasus kecelakaan dari orang tua pak Dimas, apa boleh kami mengajukan beberapa pertanyaan, ini untuk mempermudah penyelidikan pak"
"Silahkan pak"
Dimas dan kedua polisi itu duduk di bangku yang ada di ruangan ayahnya.
"Apa pak Donny mengemudikan mobilnya sendiri? " Tanya polisi.
"Tidak pak, papa bersama asisten pribadinya"Jawab Dimas
"Tapi pak berdasarkan laporan dari TKP, pak Donny mengemudikan mobilnya sendiri. Tidak ada orang lain di TKP selain pak Donny dan istrinya"
"Tidak mungkin pak, silahkan bapak-bapak meninjau ulang lokasi, mungkin saja asisten papah masih disana dan membutuhkan pertolongan"
"Baiklah pak, kami permisi dulu. Terimakasih untuk waktunya"
Kedua polisi itupun segera berlalu. Dimas kembali duduk di samping ranjang ayahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pah? papa kenapa bisa kecelakaan sama mama? apa penyebab semua kecelakaan ini pah?"
Berharap mendapat jawaban yang memuaskan,tapi ternyata tubuh itu masih enggan untuk bergerak
Bersambung...
jangan lupa tinggalkan jejak
Like & Votenya yah
__ADS_1
Makasih...