
Lisia berlari menghampiri Dimas yang masih berdiri di posko basarnas.
"Bagaimana kak? Apa Juan sudah di temukan? " Tanpa menunggu cairan bening itu sudah kembali menetes dari kedua bola mata Lisia
"Belum"Dimas menjawab Lesu
Lisia berlari ke arah laut, Dia ingin mencari sendiri keberadaan dari tunangannya.
"Lisia jangan gila! biarkan mereka yang akan mencarinya? tenanglah!!! " Dimas mencoba menahan Lisia.
"Bagaimana aku bisa tenang kak? Aku bahkan tidak tahu bagaimana sekarang keadaannya? "Lisia masih bersikeras.
"Kakak tahu gimana perasaanmu! kakak mohon tenanglah! Juan pasti baik-baik saja".
Hari sudah beranjak sore, semua orang sudah mulai kembali pulang, pencarian akan dilakukan besok kembali.Tapi tidak dengan Lisia, dia masih berdiri disana, menatap hamparan birunya air laut yang seperti tidak memiliki batas.
Dia kembali menangis, rasanya air mata itu tiada habisnya, mengingat kembali kenangan-kenangan yang sudah mereka lalui bersama.Ketika dengan berbagai cara Juan lakukan agar membuatnya bahagia, ketika Juan menerima pertunangan mereka, dan ketika Juan mengatakan bahwa dia mencintai Lisia sama seperti mereka pertama kali bertemu.
Sakit!!! yah sekarang Lisia baru menyadari betapa sakitnya ketika Juan sudah tidak berada di hidupnya lagi. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi dia bahkan tidak tahu itu apa.
"Juan... Aku ingin mengatakan sesuatu! Kau belum sempat mendengarkan semua penjelasanku, kau harus tahu aku datang kesana bukan ingin bertemu dengan Reki, aku hanya ingin menolong seseorang yang membutuhkan bantuanku. Tapi kenapa kau pergi sebelum aku sempat mengatakan semuanya!! kau tahu ini sangat berat untukku! "
Lisia masih saja terus menangisi penyesalannya.
"AKU MENCINTAIMU JUAN!!! AKU MENCINTAIMU!!! "
Lisia memukul-mukul dadanya yang begitu teramat sakit. Bodohnya dirinya yang baru menyadari bahwa hatinya telah terbuka dengan sendirinya menerima kehadiran Juan. Bodohnya dia yang baru menyadari betapa sekarang berharganya pria itu di kehidupannya.
Dia menyadari setelah pria itu baru pergi dari hidupnya. Bukan hanya pergi untuk sementara tapi pergi untuk selama-lamanya. Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan.
Kemarin ketika melihat kembali masa lalunya, Lisia begini ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Juan. Ingin pria itu pergi dari kehidupannya. Sekarang keinginannya telah menjadi kenyataan. Juan pergi dengan sendirinya tanpa dia harus memintanya. Akan tetapi kenapa hatinya sekarang begitu sakit? Kenapa sekarang justru dia tidak ingin lagi berpisah dengan Juan?
Hari demi haripun berlalu, banyak barang-barang penumpang maskapai penerbangan tersebut yang sudah ditemukan, bangkai dari kapalpun satu persatu mulai ditemukan. Tapi tidak dengan pria bernama Juan Andrea. Tidak ada tanda-tanda pria itu sudah mati atau masih hidup.
Besok adalah hari terakhir dalam pencarian korban jatuhnya pesawat tersebut. Apabila Juan belum ditemukan, dipastikan bahwa pria itu telah mati bersama bangkai pesawat yang tenggelam di dasar lautan.
Lisia masih terus mendatangi tempat tersebut, memandang kembali kearah lautan dan berharap tunangannya akan kembali lagi kesisinya. Harapan tinggallah harapan, Mimpi indah yang di inginkan berakhir begitu saja. Nama Juan hanya tinggallah sebuah ukiran indah di dalam hatinya.
__ADS_1
***
2 tahun berlalu sejak kejadian naas yang telah merenggut nyawa dari tunangannya tersebut. Lisia masih berduka untuk hal tersebut. Bukannya perasaan cinta itu menghilang tapi dari waktu ke waktu, detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi 1 hari, 1 hari menjadi 1 bulan, dan 1 bulan yang berganti menjadi tahun, perasaan cinta itu makin berkembang, Lisia semakin merindukan Juan di dekatnya, Lisia semakin mencintai tunangannya yang sekarang telah terkubur di dasar lautan.
"Nanti malam temannya papa akan datang berkunjung untuk makan malam, jangan telat pulang" Ayahnya Lisia mengantarkan putrinya yang hendak akan pergi bekerja.
"Hmmm baiklah pah! " Lisia berjalan menuju mobilnya dan perlahan mulai pergi meninggalkan rumahnya.
Semenjak kejadiaan meninggalnya Juan, Lisia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan bekerja pada salah satu rumah sakit ternama disana. Sekarang dia tidak mengenal waktu dalam bekerja. Baik itu malam maupun siang, apabila ada yang membutuhkan bantuannya dia akan segera datang dan menolongnya.
Lisia tidak ingin ada orang lain yang merasakan seperti yang dia rasakan. Dia tidak ingin ada orang yang kehilangan. Karna kehilangan orang yang di cintai sangatlah teramat sakit.
Lisia menatap padatnya kota Jakarta dari kaca ruangannya. Sekilas dia melirik wajah tampan yang seolah selalu tersenyum melihatnya. Bingkai foto kecil yang sengaja dia letakkan di atas meja kerjanya.
"AKU MERINDUKANMU! "
Ntah sudah berapa banyak lelaki yang Lisia tolak, sekarang bahkan dia tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Dia hanya menunggu kepulangan tunangannya yang siapapun tidak tahu kapan waktu itu akan terjadi.
Lisia begitu yakin bahwa Juan masih hidup. Tapi hanya dia yang beranggapan seperti itu. Dia masih berasa Juan masih ada di dekatnya. Juannya masih tetap hidup.
Lisia menatap sebuah mobil mewah telah terparkir disana. Lisia tahu itu pasti mobil milik dari teman ayahnya.
Lisia perlahan membuka pintu dan menuju meja makan. Lisia seperti mengenali orang tersebut.Yah orang tersebut adalah lelaki paruh baya yang dulu ingin menjodohkan dirinya dengan anaknya.
"Pah... Lisia pulang! "Lisia menyalami tangan ayahnya dan tersenyum kepada kedua pasangan suami istri tamu ayahnya.
"Kau sekarang semakin bertambah cantik!! "Puji tamu ayahnya.
Lisia tersenyum malu mendengar kata pujian untuknya. Dia duduk tepat di samping ayahnya.
"Maaf menunggu lama! "Seorang pria datang dengan tiba-tiba dan serentak Lisia dan yang lainnya menoleh kearah asal suara tersebut.
"Reki... "
"Lisia..."
"Jadi kalian sudah saling kenal? "Ayahnya Reki tersenyum tidak percaya.
__ADS_1
"Iya pah... Dia wanita yang sering aku ceritain sama papa! "Ucap Reki.
Acara makan malampun dimulai. Canda tawa mengiringi makan malam kedua keluarga tersebut. Setelah makan malam selesai, mereka berpindah ke ruang tamu untuk melanjutkan perbincangan yang tertunda.
"Bagaiman Lisia, apa kau masih ingat dengan perkataan om yang dulu, om ingin kau bertunangan dengan anak om! " Ayahnya Reki memulai pembicaraan.
Tampak raut wajah bahagia terlukis di wajahnya Reki.
"Bagaimana Donny, apa kau setuju? "Sonny bertanya pada ayahnya Lisia.
"Aku terserah Lisia dan Reki saja!"
Semua tertawa bahagia, Reki menatap Lisia, dia bahkan tidak menyangka wanita yang dia tolak untuk dijodohkan dengannya dulu adalah Lisia. Tahu seperti itu mending dulu dia tidak jauh-jauh ke New York dan meninggalkan Lisia.
"Maaf tapi aku tidak bisa!!! "Lisia menatap Reki seolah ingin mengatakan dia tidak mencintai pria tersebut.
"Aku ke kamar dulu"Lisia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Reki berdiri dan mengejar Lisia. Dia ingin tahu apa alasan Lisia menolak dirinya.
"Lisia terduduk di atas ranjangnya. Ditatapnya foto wajah tampan yang selalu tersenyum melihatnya.
"Apa alasan kau menolak semuanya? "Tanya Reki
"Kau juga tahu, aku sudah memiliki tunangan"Ucap Lisia dingin.
"Sadarlah Lisia, Juan itu sudah tidak ada lagi, dan dia pergi sudah berlalu selama 2 tahun. Juan itu sudah mati"Reki menjelaskan berharap wanita itu paham akan keadaan yang telah terjadi.
Lisia berdiri dan menatap tajam ke arah Reki.
"Keluar... aku tidak ingin melihatmu disini"Usir Lisia
"Lisia maafkan aku... aku ngak bermaksud... "
"Keluaaaaarrrr..... "Lisia membentak Reki.
Mau tidak mau akhirnya dia keluar dari kamar Lisia dan membawa perasaan kesal dan cintanya yang telah hilang dari hati wanita tersebut.
__ADS_1