Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Dengarkan baik-baik


__ADS_3

Aku menemui Reki di atap sekolah.


Tempat ini memang sepi karna jarangnya siswa/siswi yang naik ke atap sekolah,yang naik pun tertentu karna pasti mempunyai suatu urusan.


Reki memandang anak basket yang sedang latihan dari atap sekolah, aku mengikutinya dan berdiri tepat disampingnya.


Dari atap sekolah ini, mereka semua terlihat sangat kecil.


Ini pertama kalinya aku berada di tempat ini, karna jujur saja, aku sangat merasa takut dengan ketinggian


Reki menghadapku, ia terlihat serius dalam menatapku.


dengan memegang kedua bahuku, iapun berkata


"Dengarkan baik-baik, aku hanya akan mengatakannya sekali saja"


Jujur saja saat ini perasaanku sangat gugup, detak jantung juga yang yg kecepatan detakannya melebihi pacu kuda.


Ia mendekatkan wajahnya,


Aku menutup mataku.


Wajahnya semakin mendekat.


Aku berharap waktu segera melambat, atau berhenti sekalian, agar aku dan Reki selalu bersama.


deg... deg... deg...


Yang terdengar hanya detakan jantungku dan jantungnya.


"Aku menyukaimu Lisia"


Seketika langsung ku buka mataku.


Antara percaya dan tidak dengan apa yang aku dengarkan. Aku ingin Reki mengulangi kata-katanya, tapi seperti katanya di awal, dia hanya mengatakan cukup 1 kali saja.


Mataku di sambut dengan senyum khasnya. Belum pernah aku melihat senyumnya yang seindah ini.

__ADS_1


Sebelum aku mengatakan apa-apa, Reki sudah berlalu dan meninggalkan aku sendirian.


Skip


Sepanjang pelajaran terakhir aku selalu gagal fokus, bagaimana tidak, setelah ia mengatakan hal itu, ia kembali terlihat menjadi manusia dingin.


Berkali-kali aku melihatnya, tapi ia terlihat malah mengabaikan aku kembali.


***


Aku mendudukkan pantatku di bangku halte bis depan sekolah. Pikiranku masih saja tidak menentu.


"Apa aku langsung menanyakannya kembali kepada Reki? apa ia menyukaiku? tapi kalau aku mendengar ia mengatakannya kembali, bisa-bisa mungkin hatiku akan meledak" Batinku.


Kupegangi dadaku, kupenjamkan mata ini.


Sebisa mungkin aku tidak mendengarkan apa-apa.


Hanya suasana yang senyap.


Dengan hati yang masih tidak menentu aku kembali mengingatnya.


"Dengarkan baik-baik, aku hanya akan mengatakannya sekali saja"


"Aku menyukaimu Lisia"


Aku tertawa sangat bahagia, tidak perduli apa pandangan orang di sekitar yang melihatku aneh.


Aku terus tertawa, sampai sebuah mobil sport merah berhenti mulus tepat di depanku.


Kaca mobil terbuka.


"Naiklah... "


Tanpa menunggunya membukakan pintu, aku langsung beranjak dan naik ke dalam mobil.


Di dalam mobil suasana sangat gerah padahal ac di dalam mobilnya Reki sudah sangat dingin.

__ADS_1


Sesekali aku melirik dan tersenyum melihat Reki.


"Jangan terus melihatku seperti itu,,,"


Aku tersenyum kikuk, seperti kedapatan sedang maling saja.


Ntah waktu yg berjalan sangat cepat, tiba-tiba mobil Reki sudah berhenti di depan rumah.


"Sudah sampai, apa kau tidak ingin turun? " Reki membuyarkan lamunanku


"hah!!!! apa sudah sampai? kenapa begitu cepat???" Aku kesal kenapa waktu begitu cepat berputar


"Ck, Lain kali aku akan membawamu jalan-jalan ke tempat yang jauh" Reki tersenyum melihat tingkah lakuku.


Aku menggaruk leherku yang tidak gatal.


"Baiklah... aku akan turun sekarang! Apa kau tidak ingin membukakan pintu untukku? "


"Aiisshhhh... Kau punya dua tangan, buka saja dengan tanganmu, "


"Ck, Kau sama sekali tidak romantis"Aku tertawa Renyah


Aku turun dari mobilnya Reki, kupandangi mobil itu hingga menghilang di balik gerbang.


Setelah mobil itu menghilang, aku kembali tertawa bahagia, karna bahagianya sampai sudut air mataku mengeluarkan sedikit cairan bening.


***


Suasana rumah yang sepi membuat aku malas untuk turun ke bawah. Aku hanya tiduran di ranjang king size milikku.


Ku pejamkan mata ini, pikiran melayang ntah kemana-mana.


Mulai dari kenangan bersama Lexi, hingga kedekatan yang belakangan ini terjalin dengan Reki.


"Mungkinkah aku menyukai wajah yang sama? mungkinkah wajah itu akan kembali menemani hari-hariku lagi? tapi aku yakin, aku menyukainya bukan karna wajah mereka mirip, tapi karna perasaan itu memang lahirnya dari dalam sini" Aku kembali memegang dadaku yang debarannya sampai saat ini belum bisa aku normalkan.


Tbc...

__ADS_1


Like...


Coment...


__ADS_2