Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama

Cinta Yg Berbeda Dalam Wajah Yang Sama
Hutang


__ADS_3

Reki merasa bingung. Bagaimana dia harus mengatakan pada Lisia kalau dia akan melanjutkan kuliah di New York. Apakah Lisia akan menerima keputusannya atau Lisia malah melarangnya untuk pergi. Tapi bagaimana kalau dia tidak pergi, apakah dia harus menerima pertunangan dari ayahnya? Semuanya membuat dia menjadi bingung. Dia sama sekali tidak ingin kehilangan Lisia.


Ujian akhir sekolah mulai di lalui para siswa/i. Hari demi hari pun berlalu. Lisia tetap fokus pada ujiannya. Dia harus membuat ayah dan kakaknya bangga dan masuk ke universitas impiannya dan meraih cita-citanya.


Setelah 1 minggu berlalu yang menegangkan, akhirnya tibalah saatnya sekolah mengumumkan kelulusan bagi para muridnya. Lisia tidak sabar untuk menanti hari esok begitupun dengan siswa/i yang lainnya.


Sebuah papan tulis putih di letakkan di tengah lapangan yang berisikan nama-nama murid yang lulus, Lisia, Reki, Marissa dan Rey tampak antusias untuk melihat apa nama mereka juga ada di dalam papan pengumuman tersebut.


Seluruh siswa yang berkerumunan heboh, ada yang tertawa sambil menangis merasakan betapa bahagianya momen tersebut. Lisia pun demikian, setelah melihat namanya, air matanya langsung mengalir membasahi wajahnya, terlintas langsung wajah ayahnya yang sekarang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri.


"Ini untuk ayah... "Tetesan demi tetesan terus membasahi wajahnya.


Sontak Reki yang melihat kekasihnya menangis langsung memeluknya. Reki mengelus rambut panjang itu dengan sayang. Reki memberikan kehangatan yang bisa membuat Lisia lebih bersemangat.


Semua merayakan kelulusan, kecuali Lisia. Hari itu dia lebih memilih untuk segera menemui ayahnya dan memberikan kabar bahagia tersebut.


"Aku akan menemanimu! "Reki memegang tangannya Lisia.


"Kau yakin? "


"Hmmm... "


Reki akhirnya ikut bersama dengan Lisia untuk menemui ayahnya. Mereka bersiap-siap sebelum Akhirnya mereka akan terbang menuju Singapura.


Lisia berlari menyusuri lorong rumah sakit. Gadis itu terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya. Reki sampai kewalahan untuk mengejar Lisia.


Dari kejauhan Dimas menatap adiknya yang sedang berlari dengan nafas yang tidak teratur.


Dimas tahu adiknya sedang berbahagia terlihat dari raut wajahnya.


Tanpa berbicara kepada kakaknya, Lisia langsung memasuki ruangan ayahnya.


Ditatapnya tubuh yang masih belum bergerak tersebut, Lisia menggenggam tangan itu erat,


"Papa. .. Lisia datang!!! Lisia rindu papa!!! papa tahu,, Lisia berhasil pah!!! Lisia lulus, ini semua berkat doanya papa, ini semua buat papa!!! Lisia lulus pa!!! Lisia lulus!!! " Cairan bening itu terus mengalir tiada henti dari kedua bola mata Lisia.


Dimas menyaksikan semua momen tersebut. Air mata juga tampak menetes dari matanya. Dimas merasakan perasaan yang campur aduk, Senang karna adiknya lulus, sedih karna ayahnya belum sadar.

__ADS_1


Keadaan ayahnya sudah membaik. Seperti janjinya Juan, ayahnya memang mendapatkan perawatan yang paling baik. Hanya saja tuhan masih belum mengizinkan ayahnya untuk terbangun.


Reki menepuk bahu Dimas pelan, Dimas menoleh, dari tatapannya terlihat bahwa dia sedikit kurang menyukai kehadirannya Reki. Sejak awal melihat laki-laki di depannya ini memeluk adiknya, Dimas memang sudah tidak suka melihat Reki.


Dimas tersenyum kecut. Dia tidak ingin terlalu memperlihatkan bahwa dia tidak menyukai kekasih adiknya tersebut. Dia kembali duduk di ikuti Reki di sampingnya.


"Kenapa datang kesini? "Dimas berkata sinis


"Aku hanya ingin menemani Lisia kak"Reki menjawab tenang.


Reki tahu kalau kakak dari kekasihnya ini kurang menyukainya. Dari sikap dan tatapannya terlihat sangat jelas. Tapi Reki tidak berbalik memusuhinya. Dia menganggap itu sebagai tantangan untuk meluluhkan calon kakak iparnya tersebut agar mau menerimanya.


Setelah percakapan singkat tersebut, terjadi kembali keheningan di antara dua laki-laki itu. Satupun tidak ada yang mau mengeluarkan suara. Lisia menatap ketegangan yang terjadi antara kakaknya dan Reki. Sedikit senyuman tersungging dari sudut bibirnya.


Wajah Reki terlihat malu-malu tak jelas sedangkan wajah kakaknya menampakkan raut wajah ketidak sukaan. Biar bagaimanapun dia harus menyatukan kedua orang tersebut. Dia sama-sama menyayangi keduanya. Baik Reki maupun Dimas.


***


Reki dan Lisia makan malam di kantin rumah sakit tersebut. Meski makanan yang ada hanya sewajarnya tapi bagi kedua pasangan tersebut asal makannya berdua makanan tidak enak pun pasti akan terasa enak di lidah.


"Ntahlah!!! aku masih harus berunding dulu dengan kakakku, aku tidak mau merepotkannya saat ini! "Lisia menundukkan kepalanya.


"Ikutlah denganku, kita akan kuliah bersama! "Tawar Reki.


"Kau akan kuliah di tempat yang jauh? "


Reki mengangguk menandakan iya. Lisia membuang nafasnya kasar.


"Dimana? " Tanyanya Lesu.


"New York!!! "Reki menjawab singkat.


"Bagaimana? ikutlah denganku, kita sama-sama tinggal dan kuliah disana"Reki menggenggam tangan Lisia.


Perlahan Lisia melepaskan tangan Reki.


"Maaf aku ngak bisa!!! papa butuh aku di sampingnya, dan lagi aku ngak mungkin bisa lagi untuk kuliah di luar negeri, itu butuh biaya yang sangat besar! "

__ADS_1


"Aku yang akan mengurus semuanya!!! "


"Maaf... Tapi aku tetap tidak bisa!! "


Reki terdiam, dia tahu tidak mungkin memaksakan kehendaknya apalagi mengingat kondisi ayahnya Lisia. Reki mengelus rambut itu sayang. Lisia tersenyum menatapnya. Senyuman yang tidak bisa diartikan oleh siapapun.


Pagi ini Lisia akan mengantar kepulangannya Reki. Terasa sangat berat untuknya. Tapi Reki juga ingin mencapai cita-citanya, ingin meraih masa depannya. Reki berjanji akan sering menghubunginya. Hanya raga mereka yang akan terpisah jauh, tapi kalau hati sampai kapanpun akan selalu dekat.


***


Setelah kepergiannya Reki,Lisia kembali menemui ayahnya di rumah sakit. Kali ini dia melihat wajah Juan ada disana setelah dari semalam batang hidungnya tidak kelihatan.


Lisia duduk di sampingnya Juan. Juan menatapnya dingin. Kenapa wajah itu sekarang berubah menjadi tidak memiliki ekspresi? sangat-sangat mengurangi ketampanannya saja.


"Apa jurusan yang akan kau ambil? "Juan mengotak-atik ponselnya sambil bertanya kepada Lisia.


Lisia yang mendengar suara itu tiba-tiba menjadi gugup.


"a aku mungkin ti tidak akan kuliah? "


Juan menatap lebih tajam seolah kata-kata itu telah menyakiti hatinya. Tatapan itu membuat Lisia takut dan segera menunduk.


"Kenapa? "Juan menyadari ketakutan Lisia dan kali ini dia bertanya lebih lembut.


"Aku tidak ingin merepotkan kak Dimas, lagipula aku tidak punya biayanya"


"Kuliahlah, pilih jurusan yang kau inginkan, Aku yang akan mengatur semuanya! "


Lisia menatap Juan tidak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki itu akan kembali membiayai kuliahnya sedangkan saat ini dia sedang membiayai perobatan ayahnya juga.


"Aku juga tidak ingin merepotkanmu lagi, sudah cukup kau membiayai perawatan papa! "Lisia menolak halus.


"Anggap saja itu adalah tambahan hutangmu, dan bayar nanti setelah kau sukses! "Juan menjawab mantap.


Mungkin bisa saja Lisia akan membayar semua hutang-hutangnya setelah sukses nanti. Dia berpikir dia juga harus meraih cita-citanya, Dia harus membuat keluarganya bangga dengan prestasi dan kesuksesannya. Tapi itu akan semakin menambah banyak hutangnya pada Juan? Tapi biarlah setelah sukses nanti dia akan segera melunasinya.


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2