Cinta Zena

Cinta Zena
Zaka menolak bertunangan


__ADS_3

Kepergian Zena membuat kedua orangtuanya sedih. Apalagi Zena adalah anak mereka satu-satunya. Mereka selalu berbohong kepada calon besannya bahwa Zena sibuk kuliah dan belum siap bertunangan.


Terkadang muncul pemikiran untuk membatalkan rencana pertunangan Zena, akan tetapi mereka masih berharap Zena mau kembali dan menerima pertunangan ini. Seperti janji Zena pada Zaedan, bahwa dia akan menerima perjodohan ini setelah urusannya selesai. Tapi sampai kapan mereka harus menunggu?


***


Zaka masih memikirkan kondisi Zena semalam. Mungkin hari ini dia tidak akan masuk kerja. Tapi tak disangka, Zena datang tepat waktu dengan wajah yang masih terlihat lebam.


Tentu saja hal itu membuat Zaka cemas. Dia mendekati Zena yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


" Zena, seharusnya kamu istirahat saja di rumah beberapa hari. Kamu tidak perlu izin, aku yang akan memberimu izin," kata Zaka.


" Saya tidak apa-apa pak Zaka. Hanya memar, tidak perlu istirahat," kata Zena sambil memperlihatkan lebam di pipinya.


" Coba aku lihat," kata Zaka.


Zaka mendekatkan wajahnya ke wajah Zena untuk melihat lebih dekat wajah Zena yang memar karena pukulan Samuel semalam.


Zaka terpesona dengan wajah cantik yang begitu sangat dekat dengan wajahnya. Tidak hanya melihat pipi Zena yang masih terlihat lebam, matanya bergerak ke hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis dipoles dengan lipstik yang tipis pula tapi terlihat seksi.


Mata Zaka berakhir di mata Zena yang agak lebar dan tajam. Mata itu terlihat begitu dalam seolah menyimpan sejuta rahasia yang terpendam. Wajah Zaka terlihat memerah dan jantungnya berdetak cepat.


Zena membalas tatapan mata Zaka. Dia tidak ingin terlihat lemah dan mudah digertak. Zena mendengar detak jantung Zaka lebih cepat dari biasanya dan wajah yang memerah membuat Zena yakin Zaka mulai menyukainya.


" Bagaimana pak Zaka, bukankah ini tidak masalah?" tanya Zena menyadarkan Zaka dari rasa kagumnya.


" Baik, bekerjalah. Tapi jika terasa sakit jangan dipaksakan. Kamu santai saja," jawab Zaka.


" Baik pak Zaka," kata Zena.


Zaka melangkah pergi meninggalkan Zena yang tersenyum karena merasa berhasil membuat Zaka memperhatikan dirinya.


Tanpa mereka sadari, Sinta melihat kejadian itu dengan perasaan kesal dan marah. Sinta mengepalkan tangannya sambil menahan amarahnya. Mungkin jika Zena melihat Sinta yang kesal pasti Zena sangat senang sekali.


***

__ADS_1


Orangtua Zaka datang dari luar negeri. Mereka menetap di Singapura sejak Zaka SMA hingga kini. Selama ini Zaka tinggal bersama neneknya yang sejak 2 tahun lalu meninggal dunia.


Orangtua Zaka pulang untuk membicarakan masalah pertunangannya dengan anak seorang pengusaha. Zaka mendadak bingung dengan hatinya.


Dulu dia mengiyakan saja ketika ayahnya meminta dia untuk bersedia dijodohkan dengan anak pengusaha itu. Selain karena Zaka tidak memiliki kekasih juga karena tidak ada seorang wanita pun yan bisa membuatnya jatuh cinta. Jadi lebih baik menerima wanita pilihan ayah dan ibunya.


Tapi setelah Zaka mengenal Zena, Zaka baru merasakan jatuh cinta dan rasa takut kehilangan.


Hari itu, ayah dan ibu Zaka mengajak Zaka berbicara secara serius dengan Zaka tentang rencana pertunangannya.


" Zaka, ayah dan ibu pulang ke Indonesia untuk melanjutkan rencana pertunangan kamu. Ayah harap kamu sudah siap seperti janji kamu waktu itu," kata sang ayah tenang.


" Ayah, Zaka bukan ingin mengingkari janji, tapi waktu itu Zaka mau menerima karena Zaka belum menemukan seseorang yang bisa membuat Zaka jatuh cinta," kata Zaka berusaha sehalus mungkin dalam berkata.


" Maksudmu apa?!" tanya ayahnya agak cemas.


" Katakan yang jelas Zaka, ibu juga tidak mengerti dengan ucapan kamu," kata ibunya.


" Begini ayah ibu, Zaka tidak bisa melanjutkan rencana pertunangan ini, karena Zaka sudah memiliki pilihan sendiri," kata Zaka.


" Zaka, apa itu artinya kamu sudah memiliki kekasih?!" tanya sang ibu.


" Benar," jawab Zaka singkat.


" Jika tahu akan seperti ini, ayah tidak akan meluangkan waktu untuk datang," kata sang ayah kesal dan ingin marah pada Zaka.


" Ayah, sudahlah. Zaka sudah dewasa, dia punya keputusan sendiri. Ayah jangan marah, ingat penyakit darah tinggi ayah," ucap ibunya meredam kemarahan ayahnya.


" Baik, bawa wanita itu untuk menemui kami. Jangan buat kami mengira kamu hanya berpura-pura saja. Kami tidak akan membiarkan kamu membodohi ayah dan ibu," kata ayahnya.


" Apakah dia Sinta, yang katanya teman kamu waktu kuliah itu?" tanya ibunya.


" Bukan Sinta bu, tapi wanita lain," jawab Zaka.


" Sinta bukan. Lalu wanita mana lagi yang kamu kenal yang ayah dan ibu tidak tahu?" tanya ibunya lagi.

__ADS_1


" Baik ayah, ibu. Saya akan bawa dia menemui ayah dan ibu segera," kata Zaka.


Dalam hati Zaka berpikir keras untuk mewujudkan keinginan ayah dan ibunya membawa kekasih Zaka. Padahal sekarang Zaka belum memiliki seorang kekasih. Lalu bagaimana dan siapa yang akan dia bawa?


Zaka teringat Zena. Mungkin ini kesempatan untuk membuatnya dekat dengan Zena sekaligus meminta bantuannya.


***


Hari itu, tiba-tiba Maya datang ke rumah nenek Warti dengan membawa tas berisi pakaian ganti. Wajahnya tampak kesedihan dan matanya sembap karena menangis.


" Maya, ada apa? Kenapa kamu membawa tas ke rumah nenek, apa kamu lari dari rumah?" tanya Zena.


Maya hanya terduduk lesu sambil memeluk tas yang dibawanya.


" Maya, bukankah kamu menganggap aku saudara? Kamu bisa percaya padaku," kata Zena berusaha meyakinkan Maya.


" Aku... malu padamu, Zena. Disaat kamu kesulitan dulu, aku tidak bisa membantumu. Kamu tahu aku hanya pegawai kecil, tidak bisa berbuat apapun untukmu," kata Maya sedih.


" Maya, semua sudah berlalu dan aku tahu kesulitan kamu. Sekarang kamu sedang kesulitan apa? Siapa tahu aku bisa membantumu," kata Zena.


" Orangtuaku ingin menjodohkan aku dengan laki-laki pilihan mereka, sedangkan aku tidak mencintainya. Aku mencintai orang lain yang Sampai saat ini belum bisa aku dapatkan," kata Maya sambil meneteskan air mata.


Zena teringat kisahnya yang hampir sama dengan yang dialami Maya.


" Maya, aku akan berusaha membantumu. Siapa laki-laki yang kamu cintai?" tanya Zena.


" Dia penjaga minimarket didekat tempat kerja kita. Aku mengenalnya sudah hampir 3 tahun, tapi hubungan kami hanya sebatas teman saja. Dia tidak pernah menunjukan bahwa dia ada rasa padaku. Masak aku yang harus nembak duluan?" tanya Maya.


" Maya, sekarang ini zaman emansipasi wanita, jadi tidak ada salahnya wanita menyatakan cinta duluan. Bukankan itu juga demi kebahagiaan kita sendiri," kata Zena memberi semangat.


" Bagaimana kalau ditolak?!" tanya Maya.


" Yah...ini namanya resiko. Yang penting kita kan sudah berusaha. Jika ditolak anggap saja tidak berjodoh. Tapi pasti hatimu akan lega karena sudah bisa mengutarakan isi hatimu padanya," kata Zena.


" Mungkin harus aku coba, semoga saja aku bisa," kata Maya.

__ADS_1


" Kamu harus percaya diri dan siapkan mental untuk kemungkinan yang terburuk. Jika berhasil, kamu bisa bersama orang yang kamu cintai sekaligus memiliki alasan untuk menolak perjodohanmu. Pasti orangtuamu tidak akan memaksamu lagi," kata Zena.


__ADS_2