
Kedatangan calon tunangan Zena tertunda untuk sementara waktu karena mereka masih ada urusan yang harus segera mereka selesaikan. Zena masih memiliki cukup waktu untuk merancang ide.
Sementara Bryan sudah bisa pulang dan dinyatakan sudah sembuh. Hanya jalannya saja yang masih agak pincang. Bryan meminta Zena menjemput Bryan di rumah sakit dan membawanya pulang ke rumah Bryan.
"Bryan, memangnya kamu tidak memiliki teman disini? Kenapa harus memintaku menjemputmu?" tanya Zena saat membantu Bryan beres-beres.
"Sudah aku bilang, keluargaku semua di luar negeri. Hanya kamu yang aku kenal di sini. Ada teman juga, tapi dia tidak di kota ini. Apa kamu keberatan? Bukankah kita sudah berteman?" tanya Bryan cemberut.
"Tidak juga. Teman? bener juga. Karena hari ini aku sudah bersedia jemput kamu pulang, besok antar aku pergi belanja ya?!" tanya Zena.
"Boleh. Kamu langsung jemput aku saja di rumah. Aku akan siap setiap saat, jika kamu butuhkan?" jawab Bryan sambil tersenyum.
"Oke kalau begitu, kita pulang sekarang," kata Zena sambil memegangi bahu Bryan yang masih berjalan agak pincang.
Zena membantu Bryan naik ke mobil milik Zena. Zena mengemudi perlahan menuju rumah Bryan yang ternyata rumahnya sangat besar dan mewah. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka sendiri. Ternyata dirumahnya ada seorang bibi atau asisten rumah tangga yang sudah siap membuka pintu secara otomatis. Zena membantu Bryan berjalan masuk kedalam rumah.
"Selamat datang di rumah sederhanaku. Teman, semoga kamu betah berlama-lama disini," kata Bryan sambil duduk.
Zena melihat sekeliling, 'sungguh rumah yang indah tapi terasa sepi', batin Zena.
"Terimakasih. Katanya tidak kenal siapapun, tapi punya rumah, ada bibi pula. Aku jadi curiga," kata Zena sambil menatap Bryan yang tersenyum malu-malu.
"Kan biar bisa memiliki teman. Lagian kasihan bibi kalau harus bolak balik merawat aku dan membereskan rumah. Ada kamu, tidak perlu yang lain," jawab Bryan.
"Sudah, nggak perlu ngegombal. Ingat, besok temani belanja. Aku pulang sekarang," ucap Zena agak kesal.
"Hati-hati dijalan."
Bryan terdiam lesu melihat Zena melangkah pergi. Timbul dihatinya sesuatu yang membuatnya ingin selalu dekat dengannya.
***
Rencana pertemuan dua keluarga hari ini akan dilakukan. Zena sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan calon tunangannya. Zena meminta ayah dan ibunya untuk pergi terlebih dahulu dan dia masi butuh waktu untuk berdandan.
__ADS_1
Sebuah restauran mewah dan ruang yang dipesan secara pribadi menjadi tempat pertemuan mereka.
Keluarga pihak laki-laki sudah datang terlebih dahulu dan memesan banyak hidangan. Pak Juna dan bu Mina berjalan mendekati mereka dengan senyum ceria. Mereka berdiri menyambut kedatangan pak Juna dan bu Mina.
"Maaf sobat, kami terlambat," ucap pak Juna sambil memeluk pak Edward.
"Apa kabar kak Santy," ucap bu Mina sambil memeluk Santy.
"Baik, Mina," jawab bu Santy.
"Tidak terlambat, kami juga baru saja tiba. Silahkan duduk, santai saja. Aku melihat kamu gugup Juna," kata pak Edward bercanda.
"Dari dulu aku selalu gugup jika bersama kamu. Pesona kamu selalu melebihi aku," balas pak Juna.
"Oh ya. Kenalkan, ini putra semata wayangku," kata pak Edward sambil memperkenalkan anaknya.
"Selamat sore, om Tante, apa kabar?" katanya sambil menjabat tangan pak Juna dan bu Mina.
"Baik nak. Sopan sekali," kata pak Juna.
"Dia sebentar lagi juga datang?" jawab bu Mina.
Tak berapa lama, datanglah seseorang dengan dandanan norak. Rambutnya memakai wig warna merah, wajah dipoles bedak tebal dan bibir memakai lipstik warna gelap.
"Ayah, ibu. Zee datang."
Semua mata terbelalak melihat penampilan yang begitu norak. Ayah dan ibu Zena tampak menahan amarah melihat penampilan Zee.
Zee berjalan mendekat kearah mereka. Langkah Zena terhenti ketika melihat Bryan ada disitu.
"Bryan?!" gumamnya pelan.
Bryan juga kaget saat menyadari, wanita yang akan menjadi tunangannya adalah Zena. Bryan tertawa melihat penampilan Zena. Rupanya kemaren dia membeli perlengkapan itu untuk bertemu calon tunangannya.
__ADS_1
Melihat Bryan tertawa, mereka semua menjadi bingung. Dan Zena jadi salah tingkah. Jadi sia-sia usaha Zena untuk membuat mereka membencinya.
"Saya menerima perjodohan ini," kata Bryan kemudian.
Akhirnya dua keluarga bisa bernafas dengan lega setelah mendengar pernyataan Bryan. Zena hanya tertunduk dan tidak bereaksi.
"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya pak Juna.
"Begitulah, bahkan Zee yang sudah merawatku saat aku kecelakaan," jawab Bryan sambil tersenyum.
"Jadi, teman yang dimaksud Zee waktu itu adalah nak Bryan ya? Wah, kalian memang berjodoh, benar kan kak Santy?" kata bu Mina.
"Benar sekali. Ibu tidak menyangka, kepulanganmu kali ini sangat berguna," kata Bu Santy sambil tersenyum.
"Maksud kak Santy apa?" tanya bu Mina penasaran.
"Begini, Bryan meminta pulang duluan ke sini. Katanya dia ingin melihat calon tunangannya lebih dulu sebelum resmi bertunangan. Ee baru sampai malah dia mengalami kecelakaan. Dan tidak menyangka yang merawatnya justru Zee," jawab bu Santy.
"Kalian pasti bosan disini. Kalian pergilah jalan-jalan," kata pak Edward sambil mendorong bahu Bryan.
"Pergilah bersama nak Bryan Zee," pinta sang ayah.
Zee hanya mengangguk. Lalu mengikuti langkah Bryan keluar ruangan. Sampai diluar, Bryan berhenti mendadak hingga membuat Zee menabrak punggungnya. Zee kaget karena dia berjalan menunduk jadi tidak melihat Bryan berhenti.
Bryan berbalik ke arah Zee yang masih terlihat salah tingkah karena dandanan yang dia gunakan.
"Zee, kamu pikir dengan berdandan seperti ini akan membuat aku menolakmu? Kamu salah Zee. Kamu masih tampak cantik dan malah terlihat lebih menggoda dengan dandanan seperti ini," kata Bryan sambil memegang rambut palsu Zee.
"Itu karena kita sudah saling kenal. Coba saja jika tidak, pasti kamu akan dengan segera menolakku. Aku yakin itu?!" jawab Zee kesal.
"Kamu yakin aku akan menolak? Aku tipe orang yang jika ditolak, aku akan lebih berusaha mendapatkannya. Apalagi jika aku sudah jatuh cinta. Ditolakpun aku akan terus mengikutinya," kata Bryan.
"Itu namanya tidak punya malu," ucap Zee sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Tidak tahu malu tapi aku mau sama kamu. Dibilang tidak tahu malu juga tidak apa, asal kamu senang saja," ucap Bryan sambil berbisik pada Zee.
Zee merasa berdebar ketika Bryan berbisik di telinganya. Sangat dekat dan hembusan nafasnya membuatnya berkidik. Zee, apakah dia sudah jatuh cinta pada Bryan? Lelaki yang ternyata adalah calon tunangannya. Zee pasti juga senang seperti Bryan. Karena cinta yang tumbuh sebelum pertemuan ini, yang sempat hendak mereka hindari, malah menjadi cinta yang harus di pupuk dan dijaga pertumbuhannya. Selamat jatuh cinta Zee....