Cinta Zena

Cinta Zena
Ciuman karena bola


__ADS_3

Sinta merasa cemburu melihat kedekatan antara Zaka dan Zena. Sinta juga melihat dari sorot mata Zaka bahwa Zaka juga ada rasa terhadap Zena.


Dulu dengan penampilan Zena yang jelek dan culun tidak membuat Sinta khawatir. Akan tetapi sekarang Zena sudah berubah dan menjadi Zena yang cantik dan modis seperti seorang selebriti.


Saat Sinta ada kesempatan pergi bertemu klien berdua, Sinta berusaha mempengaruhi Zaka saat mereka sedang makan siang.


" Zaka, bolehkah aku tahu kapan acara pertunangan kamu akan dilaksanakan?" tanya Sinta memulai pembicaraan.


" Untuk apa kamu menanyakan itu?!" Zaka balik bertanya.


" Bukan apa-apa sih, cuman ingin tahu saja. Sudah lama sepertinya tidak ada berita sama sekali."


" Aku tidak mengerti kenapa kamu sangat penasaran dengan urusan pribadiku. Kamu memang temanku, akan tetapi kamu sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadiku," kata Zaka tegas.


" Zaka, kamu tahu jika dari dulu aku sangat mencintaimu. Saat itu kamu menolak ku karena kamu bilang kamu akan segera bertunangan. Tapi ternyata sampai sekarang kamu masih belum bertunangan juga. Apakah kamu sengaja menolak ku?!" tanya Sinta.


" Sinta, aku tidak pernah berbohong padamu. Tapi aku memang tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap kamu selain hanya perasaan sebagai sahabat. Maaf, aku tidak pernah mencintai kamu," kata Zaka.


Mendengar perkataan Zaka, Sinta sangat terpukul. Betapa tidak selama ini Zaka tidak pernah seterus terang ini padanya.


" Aku pergi dulu, aku sudah kenyang. Silahkan jika kamu ingin tetap disini," kata Zaka.


Sinta hanya duduk termenung memikirkan perkataan Zaka. Zaka sekarang sudah sangat berubah. Dia bukan Zaka yang dulu lagi yang penuh perhatian padanya.


***


Akhir pekan, Zena libur kerja. Dan pagi-pagi sekali Zena sudah bersiap untuk lari pagi. Zena berlari disepanjang jalan dekat rumah nenek. Tapi akhirnya Zena tertarik untuk berlari hingga ke sebuah taman di tengah kota.


Di sana suasana sangat ramai dengan banyaknya orang yang sedang berolahraga. Tak disangka, Zena bertemu dengan Zaka yang juga sedang berolahraga. Sungguh suatu kebetulan yang Zena harapkan. Zaka sedang duduk beristirahat di bangku taman.


" Selamat pagi pak Zaka. Sedang olahraga juga?" tanya Zena sambil tersenyum dan duduk disamping Zaka.


" Begitulah, aku tidak menyangka bisa bertemu kamu disini. Mau minum?" tanya Zaka.


" Ah...itukan minuman pak Zaka, saya tidak berani lah," kata Zena agak malu ditawari minuman Zaka.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, minuman ini belum aku minum. Masih disegel," kata Zaka sambil memperlihatkan segel di minumannya.


" Bukan begitu pak Zaka. Pasti pak Zaka juga butuh minum sendiri kan?" tanya Zena.


" Minumlah..." kata Zaka sambil menyodorkan minuman ditangannya kepada Zena.


Zena akhirnya menerima minuman dari Zaka. Saat ingin membuka minuman itu, Zena merasa kesulitan. Zaka melihat Zena dengan tatapan penuh cinta.


" Sini, aku bantu buka."


Zaka meraih botol minuman itu dan dengan gampang dia berhasil membukanya. Setelah itu diberikannya pada Zena.


Zaka terus memperhatikan Zena yang minum dengan pelan. Masih terlihat cantik dan menawan meski hanya mengenakan baju olahraga yang sederhana.


Zena meletakkan minuman itu disampingnya.


" Zena, ini diluar jam kerja. Sebenarnya kamu tidak harus memanggilku secara formal. Panggil saja Zaka. Palingan umur kita juga tidak terlalu berbeda jauh kan?" kata Zaka.


" Apa... itu tidak sopan kan pak," kata Zena.


" Oh... mas Zaka?! Bukankah itu tambah memalukan? Saya panggil Zaka saja ya pak...?!" kata Zena.


" Pak lagi kan..." kata Zaka tertawa.


" Iya... Zaka..." kata Zena ikut tertawa.


Mereka tampak sangat bahagia. Dan Zena kaget ketika melihat Zaka minum minuman bekas dari botol yang Zena minum tadi.


Ah... bukankah ini seperti ciuman tidak langsung!? Zena memegang bibirnya sambil melihat cara Zaka minum. Sangat tampan...dan mempesona.


Rupanya Zaka sengaja menggoda Zena dengan ketampanannya. Dan dia sangat senang melihat Zena terpesona melihat dirinya.


" Zaka, bukankah itu botol bekas aku minum?" tanya Zena kemudian.


" Ah...aku lupa. Tapi tak apalah, bekas minum wanita cantik. Tidak masalah," kata Zaka pura-pura lupa padahal dia memang sengaja minum bekas Zena.

__ADS_1


Zena mulai menyadari jika Zaka sengaja ingin membuat Zena memperlihatkan rasa cintanya pada Zaka seperti waktu lalu. Zena mencoba membuat Zaka percaya jika Zena masih menyukai Zaka.


" Zaka bisa aja. Apa bener aku cantik. Masak sih. Coba lihat aku..." kata Zena sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Zaka.


Zaka merasa kaget dengan ulah Zena. Dia sama sekali tidak menduga jika Zena bisa seberani itu padanya.


Waja Zaka dan Zena begitu dekat seperti akan berciuman. Tiba-tiba sebuah bola melesat kearah Zaka dan bug...


" Aaaa..." suara teriakan Zena begitu kencang. Bukan karena bolanya terlalu keras menerjang tubuhnya, akan tetapi wajahnya yang beradu dengan wajah Zaka membuat Zaka mencium bibir Zena.


Zaka dan Zena sama-sama kaget dengan kejadian itu. Walaupun kejadian ini bukan yang pertama, tapi ini sungguh merupakan hal yang sangat memalukan bagi Zena. Kejadian saat Zaka mabuk dulu kembali mengingatkannya pada kejadian malam itu.


Zaka dengan bahagianya mencium pipi Zena dan Zena menamparnya. Setelah sadar, dia lupa kejadian hari itu dan tidak meminta maaf padanya.


Kali ini Zena sangat malu dan dia berusaha menghindar dari Zaka. Zena bergegas pulang dengan menahan rasa malu.


" Zena...aku..."


Zaka berusaha memanggil Zena kembali dan ingin meminta maaf pada Zena. Akan tetapi Zena sudah berlalu pergi.


Meskipun Zaka tidak sengaja menciumnya, akan tetapi ada terbersit keinginan untuk mencium Zena ketika itu. Jadi Zaka merasa bersalah.


Seperti kejadian waktu Zaka mabuk dulu. Bukan Zaka lupa, akan tetapi Zaka takut Zena marah apalagi malam itu Zena sudah menamparnya dengan sangat keras. Zaka dalam hati senang tapi juga sekaligus sedih.


***


Sejak kejadian itu, Zena merasa enggan berdua dengan Zaka. Jika secara kebetulan Zena dan Zaka harus berdua, maka Zena selalu berusaha menjaga jarak aman agar Zena tidak merasa canggung.


Zaka sebenarnya selalu mencari waktu yang tepat agar bisa berbicara berdua dengan Zena. Sayangnya Zena lebih lincah dari yang Zaka bayangkan dalam membuang kesempatan.


Zaka tidak ingin kalah dari Zena. Ketika semua orang sedang istirahat dan makan siang, Zaka mendekati Zena sambil membawa setumpuk pekerjaan.


" Sore nanti lembur untuk menyelesaikan tugas ini. Besok sudah harus dikirim ke klien," kata Zaka serius tapi dalam hatinya dia tersenyum senang.


Zena hanya bisa menghela nafas dan berkata "ya" dengan pelan.

__ADS_1


__ADS_2