
Sejak kepergian Zaka, Zena merasakan ada ketenangan dalam hatinya. Diapun bisa menjalankan aktifitasnya sebagai seorang istri tanpa ada pikiran cemas dan khawatir atas gangguan Zaka.
Walaupun sebenarnya kehidupan berumahtangga banyak sekali cobaan dan godaannya. Namun jika suami istri bisa saling percaya dan saling memahami posisi masing-masing maka semua bisa diatasi.
Suatu hari Zena merasa sering pusing dan tubuhnya agak lemah.
"Kamu kenapa Zee, apakah kamus merasa tidak enak badan?" tanya Bryan khawatir.
"Tidak mas, hanya pusing saja. Nanti juga hilang."
Bryan mendekati istrinya dan memijit pelipisnya dengan lembut.
"Bagaimana, apa masih pusing?" tanya Bryan.
"Udah agak mendingan, mungkin aku butuh istirahat sebentar."
"Sini, tidurlah. Aku akan menemanimu."
Bryan membantu Zee merebahkan diri diatas pangkuan Bryan. Bryan sesekali mengelus rambut sang istri yang mulai terserang rasa kantuk. Setelah Zena tidur, Bryan juga mulai tertidur dengan posisi memangku kepala Zena.
Pada saat tengah malam, Zena terbangun. Dilihatnya sang suami masih tertidur lelap. Rasa lapar tiba-tiba mengusiknya untuk pergi ke dapur. Dengan berjalan perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Zena mencari makanan sisa semalam. Saat tak didapatinya apa-apa, dia mengelus perutnya seolah memintanya bersabar.
Tiba-tiba, Bryan sudah berdiri dibelakangnya.
"Sedang apa, lapar?!" tanya Bryan mengejutkan Zena.
"Iya mas. Tapi ternyata tidak ada makanan yang bisa ku makan."
__ADS_1
"O, tadi sisa makanan aku suruh bibik berikan pada orang-orang di jalanan. Mereka belum makan dan kelaparan," jawab Bryan.
Ternyata Bryan punya sisi baiknya yang tidak pernah Zena duga. Dan itu menambah rasa cintanya pada suaminya itu.
"Nggak papa mas, biar aku tahan aja."
"Jangan ditahan kalau lapar. Aku bisa masak buat kamu."
"Tapi apa tidak merepotkan mas Bryan?"
"Kamu itu istriku, jadi jangan takut merepotkan suamimu ini. Kalau bukan kamu yang merepotkan aku, trus siapa dong?" jawab Bryan sambil tersenyum.
"Emang bisa masak?"
"Di jamin enak."
Kenapa semua seperti yang ada dalam novel. Bryan sangat menawan dengan gaya pria rumahan. Dengan cekatan, tangan Bryan mulai beraksi. Dia membuat tumis dari kentang dan bahan berkualitas lainnya dicampur dengan sosis. Baunya terasa harum dan rasanya? Masih menjadi pertanyaan dalam hati Zena.
Setelah selesai memasak, Bryan membawa sepiring masakan yang baru dia buat. Zena sangat senang.
"Cobalah, aku ambil minum dulu," kata Bryan yang segera melangkah mengambil air putih untuk Zena.
Zena memang dari kecil seperti seorang putri. Selalu dilayani oleh orang lain, namun saat dia dilayani oleh suaminya rasanya ada yang berbeda. Zena merasa tersanjung dan sangat bahagia diperlakukan bagai seorang ratu. Jika tahu begini sejak awal dia tidak akan lari dari perjodohan.
"Bagaimana rasanya, enak?"
"Enak mas, lihat sudah mau habis."
__ADS_1
"Zee, tidak biasanya kamu lapar di tengah malam. Besok kita periksakan ke dokter, jangan-jangan kamu kenapa-kenapa."
"Mas, orang lapar kok diperiksakan, nanti kamu bisa ditertawakan orang. Dah kenyang, aku mau tidur lagi."
"Jangan lupa cuci tangan sama cuci muka dulu."
"Baik mas. Tapi kok malas ya mas mau cuci muka," kata Zena manja.
Bryan tersenyum melihat Zena yang manja. Tidak seperti biasanya, Zena akhir-akhir ini terlihat malas dalam melakukan sesuatu dan ingin terlihat kelelahan. Bryan berusaha mencoba membujuk Zena untuk bersedia pergi ke dokter.
"Ayo sama aku. Aku bantu cuci muka sama cuci tangan."
Bryan menggandeng tangan Zena menuju ke kamar mandi. Dengan lembut dia membantu Zena membasuh muka dan mencuci tangan. Setelah itu, Bryan membantu mengusap wajah Zena dengan handuk.
"Terimakasih mas, sudah membantu aku," kata Zena senang.
"Iya sayang. Jika kesulitan mintalah bantuan padaku. Jika minta bantuan orang lain, aku pasti akan marah," kata Bryan sambil mencium kening Zena.
"Iya mas, kalau tidak mas Bryan mau sama siapa lagi? Mas mau minta balasan apa?" tanya Zena penuh semangat.
"Zee, besok kita ke dokter ya? Aku sangat khawatir dengan kondisi kamu. Hanya itu oke?!"
"Baik mas ganteng. Tapi aku tidak mau pergi sendiri," jawab Zena manja.
"Besok mas pulang cepat. Mas akan membuat janji dulu dengan dokter agar kamu tidak perlu antri lagi."
Bryan senang karena Zena bersedia pergi ke dokter. Semoga Zena baik-baik saja.
__ADS_1