
Zena berlari menuju tempat absen, karena sebentar lagi dia akan terlambat. Dan lega rasanya bisa absen tepat waktu. Nafasnya masih tersengal-sengal sehabis berlari.
Semalam Zena dan Maya terlalu asyik mengobrol hingga lupa waktu. Dan kini Zena harus menanggung akibatnya.
Zena menata nafasnya perlahan agar teratur kembali sehingga dia bisa mulai bekerja dengan baik.
Tak berapa lama, Zaka yang juga baru saja datang, menyuruhnya masuk ke dalam ruangannya. Zena menghela nafas berat. Soalnya hari ini tidak sempat sarapan, dan pagi-pagi harus sudah menghadap si bos. Alamat berdiri lama.
Sebelum masuk Zena mengetuk pintu lebih dulu dan setelah ada jawaban Zaka, Zena baru masuk.
" Selamat pagi pak Zaka. Jadwal hari ini..." kata Zena.
" Tunggu, apa aku memintamu kesini untuk mendengar jadwalku hari ini?" tanya Zaka sambil melihat Zena.
" Tidak pak. Tapi untuk apa pak Zaka menyuruh saya keruangan pak Zaka pagi-pagi begini kalau tidak untuk mengetahui jadwal kerja pak Zaka," kata Zena sambil tersenyum.
" Jangan sok tahu jika saya belum bertanya apa yang saya mau," kata Zaka.
Suasana jadi hening sesaat, hingga terdengar suara perut Zena yang kelaparan.
" Suara apa itu?!" tanya Zaka.
" Maaf pak Zaka. Itu suara perut saya, tadi lupa sarapan," jawab Zena agak malu.
" Kalau begitu, pesanlah sesuatu, sekalian untuk aku. Aku juga belum sarapan," perintah Zaka.
" Baik pak," jawab Zena sambil mengelus perutnya.
Zena kembali ketempat duduknya sambil memesan roti dan ayam goreng serta 2 kopi secara online.
Zena memang memiliki tubuh yang ideal, tinggi dan langsing. Tapi kalau soal makan, dia tidak pernah pilih-pilih makanan. Dalam artian dia tidak pernah diet, hanya makan sesuai kebutuhan tubuhnya.
Zena menunggu kurir makanan tiba. Tidak berapa lama, datanglah sang kurir. Zena senang dan segera membayar pesanannya.
Zena segera membawa bungkusan makanan tersebut keruangan Zaka.
" Ini pesanan makanan dan minuman pak Zaka," kata Zena sambil menunjukkannya pada Zaka.
" Taruh di sana dan segera makanlah. Sekalian ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," kata Zaka.
Zena jadi agak cemas. Dikasih makan dan minum gratis lalu... dipecat. Zena merinding membayangkan dirinya akan segera berakhir. Tapi peduli amat, ada makanan dan minuman gratis harus dimakan dulu. Yang lain dipikir nanti.
Zena makan ayam goreng dengan penuh semangat dan dia sangat menikmatinya. Zaka dengan senyuman mendekati Zena.
__ADS_1
" Bapak tidak makan? Silahkan tadi saya sudah pesankan roti untuk pak Zaka," kata Zena sambil makan.
" Tidak, aku memang jarang sarapan. Kamu makan saja semua," kata Zaka sambil duduk.
"Apa?! Semua makanan ini untukku?! Alamat benar-benar akan ada pembantaian di sini," kata Zena dalam hati.
Setelah Zena selesai makan, Zaka terlihat sangat serius yang membuat Zena berkidik.
" Zena, saya ada pekerjaan untuk kamu," kata Zaka
" Pekerjaan? Jadi pak Zaka tidak berniat memecat saya?!" tanya Zena.
" Apa maksudmu Zena. Jadi dari tadi kamu tampak gelisah karena berpikir aku akan memecat kamu?" tanya Zaka sambil tersenyum.
" Iya benar. Tapi sekarang saya senang, pak Zaka masih membutuhkan saya," jawab Zena sambil tersenyum." Apa yang harus saya kerjakan pak Zaka, saya akan selalu siap."
" Baguslah kalau begitu. Aku ingin kamu berpura-pura jadi pacarku selama orangtuaku ada di sini," kata Zaka.
Zena tersentak kaget dan melihat bosnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Aku tahu ini berlebihan, tapi aku sangat membutuhkan bantuan darimu untuk membuat orang tuaku percaya aku memiliki kekasih," kata Zaka.
" Bukankah pak Zaka akan bertunangan?" tanya Zena.
" Justru itu, aku membatalkan pertunangan dan alasanku karena aku sudah memiliki kekasih. Jadi, bagaimana? Kamu bersedia membantuku? Tenang saja, aku akan membayar dan menghitungnya sebagai lembur," kata Zaka.
" Baik, saya bersedia," jawab Zena.
Zaka sangat senang mendengar jawaban Zena. Gadis cantik itu nantinya akan menjadi kekasih realnya pada akhirnya. Itulah yang Zaka harapkan. Mungkin sekarang hanya pura-pura saja menjadi kekasihnya.
Zaka menjelaskan pada Zena, apa saja yang harus dilakukan saat Zena menjadi kekasih pura-puranya. Zena hanya menghela nafas membuat Zaka khawatir.
" Apa kamu sudah mengerti?" tanya Zaka.
" Mengerti. Tapi pak, bagaimana jika semua orang kantor tahu semua ini?" tanya Zena.
" Yang penting jangan biarkan mereka tahu kita berpura-pura," kata Zaka.
" Maksud pak Zaka?!" tanya Zena.
" Biar mereka tahu kita sepasang kekasih beneran. Jika mereka tahu kita pura-pura, itu akan merusak citraku dan kamu juga kan?" tanya Zaka.
" Benar juga," kata Zena.
__ADS_1
" Jadi, lakukan yang terbaik untuk pekerjaan ini. Jika dibutuhkan kontak fisik, lakukan saja sesuai kondisi," kata Zaka.
" Tapi saya harap kontak fisik yang tidak berlebihan," kata Zena.
" Setuju," jawab Zaka.
***
Maya teringat perkataan Zena untuk tidak malu dan percaya diri. Sepulang kerja dia mampir ketempat kerja Dodi, lelaki yang di cintainya secara diam-diam.
Maya berpura-pura membeli sesuatu sambil menunggu dia pulang kerja. Saat melihat Dodi bersiap pulang, Maya mendekatinya.
" Sudah mau pulang?" tanya Mala.
" Iya, kamu kesini beli apa?" tanya Dodi.
" Hanya beli minuman," jawab Maya sambil memperlihatkan botol minumnya.
" Aku antar kamu pulang," kata Dodi.
" Aku...pergi dari rumah."
" Apa?! Kenapa, apa ada masalah?" tanya Dodi.
" Aku akan dijodohkan oleh orangtuaku, tapi aku tidak mau. Aku tidak mengenalnya, bagaimana bisa kami menikah?" kata Maya sedih.
" Orangtuamu pasti sudah mencarikan jodoh yang terbaik untuk kamu. Kamu bisa mencoba dan mengenalnya lebih dekat. Ini saran aku sebagai sahabatmu," kata Dodi.
Maya tampak kecewa dengan ucapan Dodi yang sama sekali tidak peduli dengan perasaannya. Mendorongnya menerima perjodohan dari orangtuanya. Benar-benar membuat hati Maya sakit.
Maya memandangi Dodi yang sedang mengambil sepedanya. Setelah dekat, Maya memberanikan diri untuk berterus-terang tentang perasaannya.
" Dodi, aku menyukaimu," kata Mala menahan nafas.
Dodi menghentikan jalannya dan memandang ke arah Maya yang malu.
" Jangan bercanda seperti itu, kamu seorang wanita. Bagaimana kamu mengatakan hal seperti itu terlebih dulu?!" kata Dodi.
" Aku tahu. Tapi, jika aku tidak mengatakannya apakah kamu akan mengatakannya padaku?" tanya Maya.
" Tidak, aku tidak pernah menyukaimu. Selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai sahabatku tidak lebih dari itu," jawab Dodi.
" Kalau begitu, aku hanya ingin memastikan bahwa diantara kita tidak mungkin ada cinta. Dan aku akan lebih tenang saat aku tahu itu dari mulutmu sendiri," kata Maya berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Maya melangkah pergi meninggalkan Dodi yang terus menatapnya dengan tatapan sedih. Dodi ternyata juga menaruh hati pada Maya. Namun beberapa hari yang lalu, ayah Maya datang menemui Dodi untuk menjauhi Maya karena Maya akan segera menikah. Sehingga ayahnya Maya tidak ingin calon suami Maya berpikir jika Maya dan Dodi ada hubungan.
" Maafkan aku Maya," kata Dodi.