
Zena terdiam mendengar pertanyaan Zaka terang-terangan dan jelas. Zena mencoba mengumpulkan kekuatan hatinya untuk menjawab pertanyaan Zaka.
"Kamu tahu, aku sangat membencimu. Walaupun ada sedikit rasa cinta ketika itu, belum mampu mengalahkan dendam ini padamu," jawab Zena.
"Dendam, dendam apa yang kau punya untukku? Kesalahan apa yang aku lakukan yang membuat kamu menjadi dendam?!" tanya Zaka penasaran.
"Kamu pernah berkata pada Sinta, bahwa kamu tidak akan pernah mencintai aku. Dan ..." Zena tidak dapat meneruskan perkataan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. "Kamu mungkin sudah melupakan semua itu. Akan tetapi bagiku, itu merupakan hal yang tidak bisa aku terima."
"Zena, seandainya aku tahu apa aku katakan dihadapan Sinta membuatmu membenciku, aku tidak akan mengatakannya," kata Zaka sedih.
"Tapi kamu sudah mengatakannya."
"Zena, aku sungguh menyesal melakukan itu. Tapi perlu kamu tahu, aku berkata seperti itu karena aku ingin melindungi kamu dari Sinta."
"Melindungi? Kau tidak perlu membuat alasan," kata Zena kesal.
"Aku tidak membuat alasan. Tapi itu benar adanya. Aku tahu, Sinta selama ini sudah sering membully dirimu dan aku tidak bisa terus terang membelamu."
"Karena aku jelek?" tanya Zena.
"Tolong maafkan aku. Aku hanya tidak ingin ada masalah di lingkungan kantorku."
"Maaf, baik. Aku maafkan karena aku memang gadis jelek yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang secara nyata."
Zaka hanya diam saja mendengar pernyataan Zena. Karena itu memang benar. Zaka hanya bisa mengangguk pelan yang membuat Zena tersulut emosi. Zena langsung berdiri meninggalkan Zaka yang menyesali perbuatannya dulu.
***
Tanggal pernikahan antara Zena Dan Bryan sudah ditetapkan. Bryan tampak bahagia karena sebentar lagi Zena akan menjadi miliknya seutuhnya. Karena waktu yang ditetapkan masih agak lama, Bryan pulang kembali ke Amerika untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tentu saja, dia hal ini membuat Zena sedih karena kesempatan untuk menjelaskan tentang masa lalunya hilang. Padahal Zena sudah berencana, sebelum pernikahan dia sudah harus berterus-terang pada Bryan.
Akan tetapi, Zena menghormati keputusannya untuk pergi. Untuk mengisi waktu, Zena bekerja membantu ayahnya di salah satu butik milik ayahnya. Tentu saja meski bukan pimpinan disitu, dia berusaha belajar untuk bisa mengembangkan hobbynya di bidang desain pakaian.
Zena tidak pernah menyangka jika ternyata butiknya sedang bekerja sama dengan hotel milik Zaka untuk mengadakan acara fashion show disana. Mau tidak mau, Zena akan bertemu Zaka secara intens karena beberapa desain miliknya juga ikut dalam acara tersebut.
__ADS_1
Sementara Zaka sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Zena akan ikut dalam acara fashion show kali ini. Meski Zaka menyadari bahwa Zena adalah calon istri sahabatnya, dia masih ingin berusaha memperjuangkan cintanya.
Zaka tidak akan peduli jika nantinya dia akan dianggap 'pagar makan tanaman' oleh orang-orang di sekitarnya. Sekian lama mencari, akhirnya sudah bisa bertemu dan menjernihkan kesalahpahaman diantara mereka.
Sekarang Bryan tidak ada di samping Zena, dan kesempatan ini tidak akan pernah Zaka lewatkan. Persiapan dan pelatihan pertunjukan mulai diadakan. Zena setiap hari akan datang ke hotel Zaka untuk memantau jalannya proses pelatihan.
Zaka juga tidak melewatkan kesempatan untuk mendekati Zena. Dia selalu ada bila Zena ada. Hal itu membuat Zena risih juga. Akan tetapi pilihan Zena sudah bulat pada Bryan, dan Zena tidak ingin Zaka hadir menjadi orang ketiga diantara dia dan Bryan.
"Zee..."
Sebuah panggilan membuat Zena yang yang sedang berbincang dengan para model jadi terhenti. Dia tahu siapa yang memanggilnya.
"Zaka, kurang kerjaan aja," gumam Zena.
"Zee..."
Suara panggilan itu kembali terdengar. Zena mulia kesal.
"Sebentar ya, ada yang harus dibereskan dulu," kata Zena lalu dia berbalik badan kearah sumber suara.
Zena memang pemilik hatiku.
Zaka sudah tidak ingat lagi bahwa Zena adalah calon istri sahabatnya. Hasrat cintanya mengalahkan logikanya.
"Ada apa?!" tanya Zena ketus.
"Apa kamu sudah makan siang?!" tanya Zaka sambil tersenyum ramah.
Dihadapan Zena, Zaka memang tidak bisa bersikap dingin. Zena seperti api yang mampu menghangatkan sikap dinginnya.
"Belum, mungkin bentar lagi. Nunggu mereka selesai."
"Jangan terlalu diforsir, tubuhmu nanti bisa sakit. Aku tidak sanggup melihatnya."
"Tubuh aku sendiri, ada urusan apa dengan kamu?" tanya Zena kesal.
__ADS_1
"Zena, kenapa kamu terus bersikap cuek dan ketus padaku? Bukannya aku sudah minta maaf dan menyesal dan kamipun sudah memaafkannya. Setidaknya izinkan aku menjadi bagian hidupmu. Maksudku, sahabatmu."
"Aku mungkin memang sudah memaafkan kamu tapi, kamu jangan ganggu aku lagi. Mari kita lupakan semuanya," kata Zena sambil menghela nafas.
"Apakah aku begitu jadi pengganggu bagimu? Semudah itukah melupakan kenangan indah kita? Mungkin bagimu melupakan semua itu begitu mudah, tapi bagiku cinta ini bukanlah kapas yang jika ditiup angin akan mudah terbang jauh dan menghilang. Jadi biarkan aku tetap memiliki cinta ini meskipun hanya sepihak."
"Tapi, sikap sok ramahmu membuatku tidak nyaman."
"Maaf kalau begitu. Aku hanya ingin tetap bisa melihatmu. Mulai saat ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi, izinkan aku menyapamu ketika bertemu."
"Terserahlah, asal tidak membuatku kesal."
"Untuk yang terakhir kali, izinkan aku mengajakmu makan siang di sini. Aku mohon, setelah itu kamu bebas," pinta Zaka.
Zena menyetujui keinginan Zaka agar kedepannya dia bisa mendapatkan rasa nyaman yang Zaka janjikan dengan tidak mengganggunya lagi. Pergilah mereka ke restauran di hotel milik Zaka.
Zena dilayani bak ratu pemilik hotel. Akan tetapi Zena merasa canggung dibuatnya. Walaupun dulu Zena sering diperlakukan seperti itu oleh Zaka dan dia sangat menikmatinya ketika itu.
Entah apa yang ada dalam pikiran Zaka sehingga dia terus berusaha membuatku untuk mengingat kembali masa lalu walau dengan secara tidak langsung. Zena sadar dulu dia pernah mencintainya. Zaka sang Presdir dingin yang sama sekali tidak tertarik pada wanita.
Mencintainya tanpa berharap balasan dan saat Zaka sudah jatuh cinta padanya Zena melepaskan cinta itu demi ambisinya balas dendam.
Kini, Zena sudah move on dari cinta Zaka dan berusaha mencintai Bryan. Walau cintanya pada Bryan belumlah sebesar cintanya pada Zaka dulu namun Zena memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesucian cintanya yang sudah dilabuhkan pada Bryan. Lelaki yang akan segera menjadi suaminya.
Zaka tersenyum setiap kali Zena termenung. Dia memang sengaja ingin membuat Zena mengingat satu persatu kenangan bersamanya. Tidak hanya itu, Zaka ingin Zena tahu bahwa Zaka tidak akan pernah melupakan sedikitpun semua kenangan itu. Dia rela hidup bersama kenangan itu untuk bisa tetap bertahan hidup dengan kebahagiaannya saat ini.
Izinkan aku mencintaimu walaupun kini kau sudah melupakan aku.
Izinkan aku hidup dengan kenangan indah masa lalu kita, walau kau sudah tidak ingin mengingatnya lagi.
***
Hai para readers,
aku bawa rekomendasi novel fantasi yang bagus karya dari temanku. semoga kalian suka.
__ADS_1