
Semenjak berpisah dengan Zena, hidup Zaka kembali dingin dan bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Pekerjaan sekecil apapun harus dikerjakan dengan sempurna. Jika tidak, Zaka akan memarahi habis-habisan. Kini julukan si tuan dingin dan pemarah kembali disandangnya.
Kejadian hari itu, membuat Zaka berpikir keras tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Meskipun Zena telah meninggalkannya dan pergi dengan laki-laki lain, namun ternyata cintanya pada Zena belum berakhir. Zena, pasti memiliki kesulitan sehingga dia tega meninggalkannya.
Zaka yakin bahwa Zena sangat mencintainya seperti dia mencintai Zena. Kenangan manis yang pernah mereka lalui adalah bukti cinta mereka. Zaka mulai menyelidiki latar belakang Zena yang sebenarnya. Dia mendatangi nenek Warti dan menanyakan tentang keluarganya.
"Nenek, siapa sebenarnya Zena? Saya dulu mengira bahwa anda adalah satu-satunya keluarga yang di miliki Zena. Jadi saya tidak pernah bertanya apapun lagi tentang keluarganya," tanya Zaka santun.
"Maaf nak Zaka, nenek juga tidak tahu apa-apa tentang keluarga Zena. Nenek saat itu bertemu dia dijalan sedang kekurangan uang dan tidak punya tempat tinggal, jadi nenek membawanya tinggal bersamaku," kata nenek Warti berusaha membuat Zaka menyerah mencari Zena.
"Nenek, saya sangat mencintai Zena. Dan saya bisa pastikan bahwa saya pasti akan menemukannya," kata Zaka yakin pada dirinya.
"Nak Zaka, sebaiknya kamu lanjutkan hidup kamu tanpa Zena. Biarkan semua berlalu dan jangan terus mengingatnya," kata nenek Warti.
Zaka mulai curiga mendengar ucapan nenek Warti. Dia seolah berusaha membuat Zaka menerima semua yang terjadi pada hubungannya dengan Zena.
"Nenek, ketika Zena pergi apakah dia tidak bilang mau pergi kemana? Atau pulang kemana? Apakah dia masih memiliki keluarga, orangtua misalnya?" tanya Zaka bertubi-tubi.
"Sudah nenek bilang, nenek tidak tahu apa-apa. Dia berpesan pada nenek untuk tidak ikut campur urusan kalian. Nenek tidak bisa berbuat apa-apa," jawab nenek Warti pelan.
"Tapi saya sangat mencintainya nek. Lihatlah dari sudut pandang saya. Jika dia ada masalah, saya akan berusaha membantunya," kata Zaka berusaha meyakinkan nenek Warti untuk sedikit simpati padanya.
Nenek Warti terdiam dan menarik nafas panjang.
"Nenek hanya bisa memberitahumu, Zena tidak ada di kota ini," nenek berhenti berkata.
"Lalu, dia tinggal dimana sekarang?!" Zaka penasaran dengan keberadaan Zena yang ternyata sudah meninggalkan kota ini.
"Dia kembali ke tempatnya yang sesungguhnya di kota A. Silahkan cari tahu sendiri karena kota A sangat luas. Jika kalian berjodoh pasti akan bertemu kembali," kata nenek Warti.
__ADS_1
Zaka tersenyum senang, meski hanya tahu kota tempat tinggal Zena sekarang. Hal itu sudah merupakan titik awal yang bagus untuk bisa menemukannya.
"Terimakasih nenek," kata zaka.
***
Sinta mulai menyadari perubahan sifat Zaka setelah Zena pergi. Sinta mencari tahu sebab perpisahan mereka dari sekretaris Zaka. Zena yang telah meninggalkan Zaka dan pergi dengan seorang laki-laki. Sinta mulai menyusun rencana untuk mendekati Zaka kembali. Pasti sekarang lebih mudah karena tidak ada Zena.
Sinta mengikuti acara perjamuan makan malam dengan beberapa klien disebuah restauran mewah bersama Zaka. Setelah makan malam selesai mereka meneruskan ke sebuah karaoke. Zaka yang dalam kondisi tidak stabil, minum hingga mabuk. Sinta mengantarkan Zaka pulang ke rumah Zaka untuk beristirahat.
Sinta memanfaatkan kondisi Zaka yang sedang mabuk untuk menjalankan rencananya. Dia sengaja membuat foto mesra antara dia dan Zaka. Sinta benar-benar sudah dikuasai sisi jahatnya.
Saat Sinta hendak membuka baju Zaka, tiba-tiba Zaka sadar dan meminta Sinta untuk pergi. Sinta menolak, tapi Zaka berteriak lebih kerasa mengusirnya.
"Sinta, pergilah!" perintah Zaka.
"Pergi kataku, pergi..." teriak Zaka kencang sambil memukul ranjangnya dengan kedua tangannya.
Mau tidak mau Sinta akhirnya melangkah pergi meninggalkan Zaka yang masih dalam keadaan mabuk. Meski sedang mabuk, Zaka tidak semudah itu bisa ditindas.
Keesokan harinya, Zaka berangkat kerja seperti biasanya. Sinta mencoba merayu Zaka dengan berdandan seksi dan berpura-pura datang keruang kerja Zaka untuk mendiskusikan sesuatu.
"Masuk," teriak Zaka.
Sinta berjalan berlenggak-lenggok bak model di atas catwalk berharap Zaka akan tertarik dan mendapat perhatian Zaka. Akan tetapi, Zaka sama sekali tidak melihat kepadanya dan bersikap acuh tak acuh. Walaupun Sinta merasa kesal, namun dia tidak patah semangat.
Sinta dan zaka mulai berdiskusi tentang program pengembangan hotel. Sinta sudah berusaha menarik perhatian Zaka, namun hasilnya tidak sesuai yang dia harapkan. Dan ketika diskusi selesai, Sinta masih mencoba mendekati Zaka.
"Apakah masih ada yang perlu dibicarakan lagi? jika tidak ada lagi, silahkan keluar," kata Zaka dingin.
__ADS_1
"Zaka, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata Sinta agak cemas.
"Apa, katakan," kata Zaka.
"Berhentilah bersikap dingin dan pemarah. Sejak Zena pergi, kamu jauh berubah dan lebih dingin dari sebelumnya," kata Sinta sambil meremas jarinya karena gugup.
"Bukankah ini masalah pribadi, kenapa harus dibicarakan di kantor," kata Zaka agak kesal.
"Lalu dimana aku bisa mengajakmu membicarakan semua ini?bahkan sekarang waktu untuk makan saja kamu hampir tak ada," kata Sinta.
Zaka menghentikan pekerjaannya dan menghela nafas panjang.
"Lalu, haruskah kita bahas masalah pribadiku disini sekarang?" tanya Zaka sambil tersenyum sinis.
"Zaka, sebagai temanmu aku hanya ingin memberimu nasehat. Masih banyak wanita yang lebih cantik dan lebih baik dari Zena. Jangan karena putus cinta, kamu jadi menderita," kata Sinta agak gugup.
"Wanita yang lebih cantik, banyak. Wanita yang lebih baik juga banyak. Akan tetapi yang aku inginkan hanya satu, Zena," kata Zaka sambil membayangkan senyuman Zena.
Jawaban Zaka membuat Sinta kesal namu dia berusaha menyembunyikannya dari Zaka.
"Zaka, kamu benar-benar sudah dibutakan oleh Zena. Dia sudah meninggalkan kamu dan juga menghianati cinta kamu, tapi kamu masih tetap saja mencintainya. Dia terlalu beruntung atau kamu yang terlalu bodoh?!" kata Sinta.
"Sinta, kamu tidak tahu apa-apa tentang Zena. Jadi jangan pernah berbicara buruk tentangnya. Mungkin aku memang terlalu bodoh karena tidak bisa menahannya pergi saat itu," kata Zaka kesal.
"Bukankah dulu kamu pernah bilang, tidak akan memilih dia apapun yang terjadi. Tapi kamu berubah setelah dia berubah cantik," ucap Sinta mengingatkan Zaka.
"Kamu salah paham dengan perkataan ku. Dulu aku berkata seperti itu agar kamu dan juga orang-orang di kantor tidak terus-menerus membully Zena. Biarpun dia jelek dan sederhana, tapi sebenarnya saat itu aku sudah jatuh cinta padanya tanpa aku sadari. Jadi jangan pernah meragukan cintaku pada Zena," kata Zaka panjang lebar menjelaskan.
Sinta tidak bisa lagi berkata-kata, dia melangkah pergi dengan hati kesal dan marah dengan Zena. Meskipun dirinya kini sudah tidak ada di dekat Zaka, namun malah lebih jauh masuk dalam hatinya Zaka.
__ADS_1