Cinta Zena

Cinta Zena
Membuat Sinta cemburu


__ADS_3

Zaka mulai tak bisa bisa lagi menahan perasaannya pada Zena. Semakin ditahan semakin sesak di dadanya. Apalagi setiap hari harus bertemu dengan Zena dan bermesraan dengannya walau hanya berpura-pura.


Saat ayah dan ibunya Zaka video call dengan Zaka, mereka ingin melihat calon istri Zaka yang tak lain adalah Zena. Zaka tersenyum mendengar ucapan ibunya dan segera memanggil Zena.


"Hello, tante apa kabar? tanya Zena sambil duduk di kursi Zaka.


"Kabar baik, sayang. Bagaimana kabar kamu?" tanya bu Gea ibunya Zaka.


"Baik juga tante. Apa Zaka menindas mu?" tanya Tante Gea.


"Tidak Tante. Dia bahkan tak kan berani memandangku." jawab Zena.


"Tidak berani memandangku?" tanya Zaka sambil berdiri dibelakang Zena.


Zaka menundukkan kepalanya tepat di samping kepala Zena. Zena tidak sadar menoleh, demikian juga dengan Zaka. Maka secara tak sengaja bibir Zaka menempel tepat dibibir Zena.


Mereka berdua sama-sama kaget, tapi mereka menyadari bu Gea sedang melihat mereka. Zaka lalu menekan bibirnya untuk memberi kesan mereka benar-benar pasangan.


Bu Gea terlihat senang melihat mereka begitu mesra.


"Ya sudah, ibu tidak mau mengganggu kalian. Sampai jumpa,"kata Bu Gea.


"Sampai jumpa," sahut Zaka dan Zena hampir bersamaan.


Setelah panggilan berakhir, Zena tampak kesal. Ini yang ketiga kalinya, Zaka memanfaatkan situasi. Zena memang ingin balas dendam, tapi malah justru dia yang rugi.


"Zena, maaf. Tadi..." kata Zaka gagap.


"Ini bukan yang pertama kali," kata Zena kesal.


"Aku minta maaf. Awalnya memang tidak sengaja, walupun akhirnya aku sengaja melakukannya. Sekali lagi maaf. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Zaka ragu.


"Katakan saja, kamu kan bosku di sini," jawab Zena.


"Aku mencintaimu Zena. Bisakah kita pacaran beneran?" kata Zaka.


Zena kaget sekaligus senang mendengar pengakuan Zaka. Tapi dia pura-pura sok jual mahal, biar tak dikira gampangan.


"Zena, aku tahu ini terlalu mendadak. Tapi aku sudah tidak sanggup lagi menyimpan cinta ini lebih lama lagi," kata Zaka sambil menghela nafas


"Jangan bercanda denganku," kata Zena.

__ADS_1


"Aku tidak bercanda, aku sungguh-sungguh ingin bersamamu, Zena," kata Zaka berusaha menyakinkan Zena.


Zena tersenyum dalam hati.


"Baik," kata Zena.


"Maksudmu, kamu menerima cintaku?" kata Zaka dengan mata berbinar.


Zena mengangguk pelan membuat Zaka hampir jantungan. Jawaban yang dia tunggu-tunggu akhirnya sesuai keinginannya.


Zaka tersenyum lebar melihat wajah Zena di hadapannya dan merasa dia adalah miliknya. Rasanya seperti tidak percaya bahwa hari ini dia resmi memiliki kekasih bukan pura-pura lagi.


Zena tersenyum melihat tingkah Zaka yang seolah mendapat hadiah terindah. Sebegitu berharganya dirinya bagi Zaka membuat Zena tersanjung.


Zaka menatap wajah Zena yang tersenyum tipis kepadanya. Bibir indahnya seolah menggodanya untuk menciumnya. Zaka yang duduk bersandar dipinggir mejanya mengangkat dagu Zena yang masih duduk di kursi kerjanya.


Untuk sesaat Zaka memandangi wajah cantik didepannya yang kini sudah jadi kekasihnya. Zaka perlahan menyentuh bibir Zena dengan bibirnya. Bibir Zena terasa sangat lembut dan bermagnet.


Zaka memainkan bibir lembut Zena seolah sedang menikmati permen manis. Zena hanya membalas dengan ciuman kecil karena tak ingin membakar gairah Zaka.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka kaget. Namun Zaka masih belum ingin melepaskan bibir Zena. Hingga ketukan itu kembali terdengar. Zena berusaha melepaskan pegangan Zaka namun Zaka masih dengan kuat memegangi kepala Zena.


Zaka benar-benar terhipnotis dengan bibir Zena. Dan ketukan ketiga kembali terdengar. Zaka dengan terpaksa menghentikan aktifitasnya dibibir Zena.


"Masuk," teriak Zaka kemudian.


Saat Zena sadar yang datang adalah Sinta. Zena kembali mencium Zaka tepat dihadapan Sinta. Zaka tersenyum melihat kelakuan Zena tapi Zaka tidak menyadari bahwa hal itu sengaja Zena lakukan untuk membuat Sinta cemburu dan marah.


"Apa tadi belum cukup?" tanya Zaka sambil tersenyum.


Zena hanya tersenyum malu, dan melihat kearah Sinta yang berusaha menahan amarahnya.


Sinta sejak awal sudah curiga sejak ketukan kedua Zaka masih belum menjawabnya. Pikiran Sinta sudah mulai curiga, dengan siapa Zaka didalam hingga butuh waktu begitu lama untuk membiarkannya masuk.


"Aku keluar dulu ya," kata Zena.


"Oke, jangan lupa nanti makan siang diluar," ajak Zaka.


Zena tersenyum dan segera keluar dari ruangan Zaka.


"Zaka, kenapa bibirmu merah, apa kamu sakit?" tanya Sinta.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak sakit. Ini lipstik Zena," jawab Zaka tersenyum.


Setahu Zaka tadi sudah dibersihkan Zena, ternyata masih ada. Sinta sangat kecewa mendengar jawaban Zaka yang tanpa malu lagi memperlihatkan kedekatan mereka.


"Mari kita bahas pekerjaan saja," tanya Zaka.


Sinta dan Zaka membahas masalah hotel. Dan sesekali Zaka menyentuh bibirnya karena masih mengingat kejadian hari ini yang membuat Sinta agak kesal.


***


Sejak Zaka dan Zena resmi berpacaran, Zaka mulai menjemput Zena berangkat kerja. Namun Zena masih takut jika teman-teman kantornya tahu.


Ketika Zaka mengajaknya makan siang, Zaka mengungkapkan rasa kesalnya pada Zena.


"Zena, apakah berpacaran denganku membuatmu malu?" tanya Zaka agak kesal.


"Tidak," jawab Zena.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak ingin mereka tahu?" tanya Zaka lagi.


"Aku bukan malu, tapi aku berusaha menjaga wibawa kamu. Jika mereka tahu kamu pacaran denganku, wibawa kamu akan berkurang," jawab Zena.


"Lihat aku. Aku ingin menjadi pacar terbaik bagimu bukan buat mereka. Jadi lakukan apapun yang biasanya orang lakukan ketika berpacaran. Jangan terganggu oleh rekan kerjamu," kata Zaka sambil menatap tajam Zena.


Zena jadi grogi, karena perasaan ketika pertama kali bertemu Zaka muncul kembali. Perasaan kagum dan cinta. Zena berteriak dalam hati. mencoba melepaskan perasaan itu agar tidak menghalanginya balas dendam.


Namun, sulit bagi Zena melepaskan perasaan itu. Zena mungkin harus mencoba menerima perasaan ini untuk sementara waktu. Hingga saatnya dia sanggup menghapusnya dari hatinya.


"Zena, kau mengabaikan aku," kata Zaka merajuk.


"Maaf, aku melamun. Kenapa tidak makan lagi?" tanya Zena.


"Males, makan sama kamu tapi hati kamu entah ada di mana," jawab Zaka kesal.


"Sudah, jangan marah lagi. Kita ini baru beberapa hari pacaran, masak sudah mau bertengkar," kata Zena merayu Zaka.


"Cium aku," kata Zaka.


"Di sini? Malu dilihat orang. Bagaimana kalau nanti?" tanya Zena.


"Sekarang," kata Zaka lagi.

__ADS_1


Zena tampak malu melihat Zaka manja seperti anak kecil. Apakah memang cinta bisa membuat orang waras jadi agak gila? Apakah cinta bisa membuat orang dewasa jadi seperti anak-anak?


Melihat Zaka seperti itu malah membuat Zena ingin tertawa.


__ADS_2