
Zena terdiam dan hanya bisa pasrah ketika sang suami meminta jatahnya pagi ini. Untung saja bibik sedang pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Jadi Bryan bisa sepuasnya melampiaskan hasratnya tanpa takut ada gangguan lagi.
Bryan harus berusaha lebih gigih dan intens untuk bisa merasakan nikmatnya karena Zena masih perawan. Bryan merasakan sakit dan perih ketika hendak memaksa masuk, demikian juga Zena. Zena terlihat menahan rasa sakit dan diujung matanya menetes airmata.
Namun Bryan tidak bisa menghentikan aksinya dan bahkan dia malah mempercepat ritme gerakannya supaya bisa segera menembus batas keperawanan Zena.
"Sabar sayang, sakitnya hanya sebentar. Nanti juga kamu akan merasakan nikmatnya," bisik Bryan lirih.
"Cepatlah mas, aku tidak tahan lagi," ucap Zena masih menahan perihnya.
"Iya, aku percepat lagi ya. Jika sakit berteriak lah. Toh tidak ada orang di rumah selain kita, aku tidak menyangka akan sesulit ini," bisik Bryan sambil menyiapkan diri untuk mempercepat ritme gerakannya.
Mengerahkan seluruh kekuatannya demi sang istri yang sudah mulai menangis. Dan akhirnya, lolos juga.
Bryan berhenti sebentar untuk memulai aksi berikutnya. Perlahan-lahan dan menikmati setiap gerakannya yang mampu menghasilkan rasa yang belum pernah dia rasakan. Suara-suara yang keluar dari mulutnya di iringi suara Zena yang ikut merasakan rasa itu meski masih sedikit ada rasa perih.
Ketika rasa itu sudah mencapai puncaknya, Bryan bergerak cepat dan memacu ritme gerakannya hingga lepas landas dan tinggallah tubuhnya yang kelelahan dan serasa tak bertulang.
Dilihatnya, sang istri juga kelelahan melayani kebrutalannya yang baru pertama kali ini.
Setelah beberapa menit, tubuh Bryan sudah kembali semangat lagi.
"Zee, apa masih lelah?" tanya Bryan.
"Tidak juga. Kan mas yang bekerja keras, aku hanya mengimbangi saja," jawab Zena.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita ulangi sekali lagi, kan masuknya sudah gampang. Mau tahu aja rasanya tanpa rasa perih," tanya Bryan modus.
"Sebentar mas, aku masih perih. Beberapa menit lagi Ya?!" jawab Zena sambil tersenyum.
Bryan menunggu dengan sabar jatah kedua yang akan diberikan sang istri. Sepertinya nggak akan lama, karena Zee sudah mulai melihat kearahnya dan tersenyum. Bryan dengan sigap memagut bibir Zee yang segera di sambut Zee dengan lembut.
Pagi yang memberikan kenangan indah pada pasangan pengantin baru ini dan melewati ronde demi ronde, kenikmatan dunia yang tiada terkatakan.
Setelah lelah mereguk kenikmatan yang halal ini, mereka tertidur. Mereka tidak menyadari, bibik sudah pulang dari pasar dan mendengar suara-suara mereka pada saat mencapai puncak kenikmatan bersama.
Bibik hanya tersenyum dan memaklumi kedua majikannya yang melakukan itu di pagi hari karena semalam pak Bryan pergi menginap di luar.
Drreett drreett...
Terdengar getar ponsel Bryan berbunyi. Bryan sebenarnya malas untuk mengangkat panggilan telepon hari ini. Dia ingin bermalas-malasan dan kemungkinan ingin beberapa ronde lagi agar lebih puas dengan Zee. Uh...maunya.
Saat Zena melihat nama si penelepon, hatinya agak risau. Zaka, ada apa lagi?!
"Siapa Zee?!"
"Oh, angkat saja."
Bryan mengambil ponsel dari tangan istrinya yang terlihat resah. Zaka, benar-benar membuat semua kacau.
"Hallo, Zaka. Ada apa?" tanya Bryan agak kesal.
__ADS_1
"Hallo Bryan. Maaf aku mengganggumu. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan kembali ketempat kerjaku yang lama. Semoga kita masih bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Tolong jaga Zee dengan baik," kata Zaka.
"Jangan khawatir, Zee adalah istriku. Aku pasti akan selalu menjaganya tanpa kau suruh," kata Bryan agak cemburu.
"Sampai jumpa Bryan."
"Sampai jumpa Zaka."
Sambungan telepon berakhir. Bryan menatap Zee dengan tatapan penuh kecemburuan.
"Kenapa mas, kok mukanya gitu?!" tanya Zena.
"Dia masih mencintaimu."
"Tapi sekarang aku milikmu."
Bryan terdiam memandang wajah Zena yang imut. Benar, Zee milik Bryan sekarang.
"Kalau begitu sekali lagi," kata Bryan agresif.
"Nggak, aku nggak mau. Aku mau mandi."
"Nanti aja mandinya, sekalian kita buat adik, baru mandi."
Penolakan Zena tak ada artinya, Bryan dengan semangat 45 nya kembali mengambil kendali atas Zee. Zee hanya bisa mengikuti ritme permainan Bryan tanpa mengeluh. Selain karena kewajiban melayani keinginan suami juga dia mendapatkan kepuasan batin.
__ADS_1
Bryan benar-benar laki-laki yang sangat tangguh dan penuh gairah. Dilihat dari luar dia begitu dingin, tapi ternyata menyimpan sesuatu yang membuat Zee agak kewalahan mengikuti permainannya Bryan yang seperti orang ahli.
Sedang Zee masih tahap pengenalan dan belajar memuaskan sang suami. Mungkin lain kali Zee yang akan mengendalikan permainan jika dia sudah mampu.