
Hari-hari Zaka mulai tidak tenang semenjak Zena dekat dengan Samuel. Zaka sudah tidak bisa lagi terus menyembunyikan perasaannya. Walau dia masih belum bisa mengatakan cinta pada Zena terhalang egonya dan takut ada penolakan dari Zena.
Zaka memang kurang percaya diri semenjak Zena tahu bahwa dirinya akan segera bertunangan. Tidak mungkin baginya untuk memulai hubungan dengan Zena selama masalah pertunangannya belum jelas.
Tapi rasa cemburu yang dirasakannya cukup mampu membuatnya sedih. Dan Zena seperti sengaja membuatnya cemburu.
Hari itu, Zena menerima telepon dari Samuel yang ingin mengajaknya nonton film. Zena menerimanya dengan senang hati karena Zena melihat Zaka sedang melihatnya.
" Zena, hari ini lembur," kata Zaka saat tahu malam ini Zena ada janji nonton dengan Samuel.
" Tapi pak Zaka, aku..." kata Zena pura-pura kaget.
" Saya tidak peduli kamu ada urusan apa. Nanti malam temani saya menemui klien dan saya akan menghitungnya lembur," kata Zaka lagi.
" Baik pak Zaka," jawab Zena.
Dalam hati, Zena tersenyum melihat reaksi Zaka yang mulai tidak memberinya kesempatan pergi dengan Samuel.
***
Zena bersiap pulang terlebih dahulu, untuk mandi dan berganti pakaian. Namun seperti dulu, Zaka meminta Zena mandi dan berganti pakaian dirumahnya.
Ternyata Zaka sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Zena. Baju yang cukup sederhana tapi pas untuk Zena. Zena hanya menambah riasan tipis diwajahnya.
Karena acaranya malam hari, Zena dan zaka makan dulu sebelum pergi. Masakan bibi cukup enak dan membuat Zena ketagihan, tapi Zena berusaha untuk tidak memperlihatkan dihadapan Zaka.
Tapi Zaka menyadari bahwa Zena menikmati masakan bibi.
" Lain kali, kamu boleh makan di sini lagi," kata Zaka.
" Masakan bibi memang enak. Aku kangen masakan di rumah..." Zena hampir keceplosan berbicara.
" Apakah nenekmu tidak pernah masak untukmu?" tanya Zaka.
" Bukan begitu. Nenek selalu masak untukku, tapi beliau sudah terlalu tua untuk memasak. Jadi kadang, aku membeli makanan dari luar," jawab Zena.
" Begitu? Makanlah, sebentar lagi kita berangkat," kata Zaka.
Saat malam mulai datang, mereka segera pergi. Zena tidak pernah menyangka jika Zaka mengajaknya ke sebuah rumah yang cukup mewah. Terlihat sangat terang dan agak ramai.
Ternyata Zaka mengajaknya ke acara ulangtahun keponakannya. Zaka memintanya membawakan hadiah yang sudah disiapkan Zaka.
__ADS_1
Namun belum sempat Zena bertanya, Zaka sudah pergi masuk kedalam rumah dan menemui keponakannya. Akhirnya Zena hanya bisa bertanya dalam hati.
" Hei sayang, selamat ulangtahun. Semoga tambah pinter dan tidak nakal," kata Zaka sambil memeluk keponakannya yang bernama Alan.
" Terimakasih paman. Paman bawa siapa?" tanya Alan sambil tersenyum.
..." Dia asisten paman. Cantik kan?" tanya Zaka....
..."Paman menyukainya?" tanya Alan....
" Tidak, mana mungkin paman menyukai dia. Sebentar lagi paman akan segera bertunangan," kata Zaka sambil tersenyum.
" Paman, aku rasa paman sangat menyukai asisten paman itu. Atau paman sudah jatuh cinta padanya. Karena dari tadi Alan perhatikan paman selalu melihat kearahnya," kata Alan lagi.
" Kamu anak kecil tahu apa tentang cinta," goda Zaka.
" Paman, usiaku sudah 15 tahun. Aku sudah mengerti soal itu. Paman, apa paman tidak takut kalau dia diambil orang lain?" tanya Alan sambil mengedipkan mata.
Zaka terdiam mendengar perkataan Alan. Zaka teringat Samuel, lelaki yang terus menempel Zena.
" Paman, jangan sampai paman menyesal dikemudian hari karena paman terlambat menyatakan cinta padanya. Dia memang benar-benar cantik," kata Alan.
Alan berdiri dan melangkah pergi meninggalkan pamannya.
" Bertemu kakak," jawab Alan pelan.
Zaka menghela nafas melihat kelakuan Alan. Alan mendekati Zena yang masih memegang hadiah ulangtahun untuk Alan.
" Hei kakak cantik..." sapa Alan.
" Hei, ini yang mau ulangtahun ya? Selamat ulangtahun ya, namanya siapa?" tanya Zena sambil tersenyum.
" Alan kakak," jawab Alan." Kakak sendiri siapa?"
" Nama kakak Zena. Hadiah ini disiapkan pamanmu untukmu," jawab Zena sambil menyerahkan hadiahnya.
" Makasih kakak,"kata Alan.
Alan menerima hadiah dari Zena lalu meletakkannya di atas meja. Acara ulangtahun segera dimulai. Dan Zena mengikutinya dengan sabar walau dalam hatinya dia masih kepikiran dengan janjinya pada Samuel yang telah dia batalkan.
Zena berniat membuat Samuel juga jatuh cinta padanya dan membuat Sinta marah. Zena ingin siapapun tidak bisa meremehkan dan merendahkan dia lagi seperti dulu.
__ADS_1
Jika Samuel sekarang hanya berpura-pura jatuh cinta padanya dan ingin menyakitinya, Zena ingin membalikkan keadaan. Samuel yang akan merasa tersakiti olehnya.
Tapi gara-gara Zaka, Zena tidak bisa menjalankan aksinya merayap kehati Samuel dengan mencoba mendekatinya dengan kecantikannya. Mungkin juga, saat ini Zena juga bisa membuat Samuel cemburu pada Zaka dan juga sebaliknya. Zaka juga cemburu pada Samuel.
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Zena sekarang menjadi seorang wanita yang penuh dendam dan ambisi dan juga jahat.
Selesai acara, Zaka mengantar Zena pulang sekitar pukul 10 malam. Zena turun di persimpangan gang karena mobil Zaka tidak bisa masuk. Setelah Zena turun dari mobil, Zaka langsung pergi.
Zena tidak menyadari jika Samuel sedang menunggu dia di gang itu.
" Zena..."
Sebuah panggilan mengejutkan Zena.
" Samuel? Mengapa kamu ada disini?" tanya Zena.
" Aku khawatir terjadi sesuatu padamu, karena itu aku menunggumu disini. Tapi ternyata kamu pergi dengan bos kamu," jawab Samuel agak kecewa.
" Aku menemani pak Zaka ke pesta ulangtahun keponakannya. Senang karena dihitung lembur," kata Zena.
" Apakah kamu begitu kekurangan uang, sehingga kamu sampai melakukan itu?!" tanya Samuel.
" Samuel. Aku rasa kamu tidak ada hak untuk bertanya padaku seperti itu. Lagi pula aku tidak pernah melakukan yang tidak seharusnya. Aku tidak perlu memberi penjelasan padamu kan? Jika kamu tidak suka dengan sikapku, sebaiknya mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi," kata Zena kesal.
" Zena, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku..." kata Samuel sambil memegang erat tangan Zena.
Zena berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Samuel, tapi Samuel benar-benar sangat kuat.
Namun tiba-tiba, seseorang menarik tangan Zena lalu memukul Samuel dengan keras. Samuel yang tidak terima dan segera membalas pukulan tersebut dan terjadilah perkelahian antara Samuel dan... Zaka.
Zena bingung melihat dua orang lelaki itu bertengkar. Dia berusaha melerai dan ...plakk. Sebuah pukulan dari Samuel mendarat di wajah Zena. Samuel yang merasa sangat bersalah, segera meminta maaf pada Zena. Zena hanya diam saja menahan rasa sakit diwajahnya.
" Pergilah...!" bentak Zaka pada Samuel.
Dengan berat hati Samuel pergi meninggalkan Zena dan Zaka.
" Zena, bagaimana? Apakah sakit. Harus segera di kompres," kata Zaka panik.
" Tidak apa-apa, aku akan mengompres sendiri. Kamu juga pulanglah," kata Zena.
" Tapi..." kata Zaka.
__ADS_1
Zaka enggan pergi tapi Zena segera berjalan pulang tanpa menoleh lagi pada Zaka. Zaka hanya bisa menghela nafas.