Cinta Zena

Cinta Zena
Perubahan Zee


__ADS_3

Zena masih punya beberapa hari sebelum pertemuannya dengan orang yang akan dijodohkan dengannya. Karena Zena sudah terlanjur berjanji pada orangtuanya untuk menerima laki-laki itu tanpa tahu rupa maupun kepribadiannya.


Zena ingin menikmati hari-hari bebasnya ini untuk pergi bersama teman-temannya. Namun tak disangka Zena terjebak jalanan macet yang ternyata karena ada kecelakaan tepat didepan mobilnya. Sebuah sepeda motor tergelincir karena ada oli yang tumpah dijalan.


Beberapa orang menolong korban kecelakaan yang ternyata masih hidup dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Zena segera membuka jendela kaca mobilnya untuk mengetahui apa yang terjadi. Tiba-tiba salah satu orang tersebut mendekatinya.


"Permisi nona, bisa minta bantuannya mengantar korban kecelakaan ke rumah sakit?" tanya orang itu.


"Bisa-bisa, silahkan bawa dia kesini. Nanti saya antarkan ke rumah sakit terdekat," jawab Zena agak gugup.


Zena turun dari mobilnya dan membukakan pintu belakang mobilnya untuk korban kecelakaan tersebut. Setibanya di rumah sakit, Zena meminta tim medis untuk segera menanganinya. Zena lega setelah korban kecelakaan tersebut sudah ditangani dengan baik oleh tim dokter.


Zena hampir melupakan jika hari ini ada janji bertemu dengan teman-temannya. Zena segera menghubungi Mery untuk meminta maaf.


"Hallo Zee, kenapa belum datang. Kamu sudah sampai dimana?" tanya Mery.


"Hallo Mery, maaf. Kayaknya hari aku nggak bisa ikut belanja kalian. Aku ada urusan mendadak yang nggak bisa aku tinggalkan. Kalian pergi bertiga saja, lain kali aku pasti ikut," kata Zena mencoba menjelaskan.


"Urusan apa sih Zee. Baiklah, tapi lain kali jangan cari alasan lagi," kata Mery agak kesal.


"Oke, sampai jumpa," kata Zena mengakhiri panggilannya.


Zena menarik nafas lega.


"Nona, kami tidak menemukan identitas pemuda itu. Bagaimana kita bisa menghubungi keluarganya?" tanya sang penolong pada Zena.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu pak, lalu bagaimana sekarang? Kalau masalah biaya, biar saya yang urus. Terus siapa yang akan menjaganya selama di rumah sakit?" tanya Zena.


"Kalau begitu kamu urus dulu prosedur rawat inap pemuda itu. Masalah siapa yang menjaganya hari ini saya mungkin bisa menjaganya tapi hanya sampai pada sore hari saja. Kalau kamu ada waktu, kamu bisa menjaganya. Berbuat baik pasti akan mendapat kebaikan juga," kata bapak itu.


"Saya... akan saya usahakan. Tapi saya mungkin tidak bisa menjaganya 24 jam," kata Zena menghela nafas panjang.


"Tidak apa-apa, kamu gadis yang baik. Semoga Tuhan membalas kebaikan kamu nak," kata orang itu sambil memandang Zena dengan tatapan kagum.


"Aamiin. Saya permisi dulu untuk mengurus prosedur rawat inap dulu. Sekali lagi terimakasih atas doanya," kata Zena lalu berlalu pergi meninggalkan orang itu yang sedang menunggu korban kecelakaan yang sedang ditangani dokter di unit gawat darurat.


Zena membayar seluruh biaya rumah sakit serta biaya rawat inap selama satu Minggu. Uang yang tadinya hendak dia gunakan untuk pergi berbelanja dengan teman-temannya, akhirnya kini digunakannya untuk menolong orang.


Memang rasanya berbeda tergantung dari bagaimana kita menggunakan uang itu. Saat mengabiskan uang untuk berbelanja, kita akan mendapatkan kesenangan sesaat karena bisa membeli semua yang kita mau. Tapi saat kita menggunakan uang itu untuk menolong sesama, rasa puas dan senangnya akan selamanya terasa bukan hanya bagi yang menolong, tapi bagi yang ditolong juga.


Walupun bagi Zena, uang tidaklah berharga tapi bagi orang yang membutuhkan, uang itu mungkin saja bisa sangat berharga. Dan mereka akan melakukan apa saja untuk uang.


Zena menitipkan kartu nama pada suster, jika terjadi sesuatu dengan pemuda itu. Zena pulang dengan perasaan lega telah bisa berbuat baik pada orang lain. Zena tidak menyangka, dirinya bisa berbuat sebaik itu sekarang. Ternyata kepergiannya dari rumah dulu, telah banyak merubah hidupnya. Walaupun ada kenangan pahit didalamnya.


Paginya, Zena bangun pagi-pagi sekali. Pagi ini dia ingin menengok orang yang ditolongnya kemarin untuk melihat keadaannya. Ibunya heran dengan kelakuan putrinya akhir-akhir ini. Zena sudah banyak berubah.


"Zee, mau pergi kemana pagi-pagi begini?" tanya bu Mina sambil tersenyum.


"Ibu, aku mau pergi menengok temen di rumah sakit," jawab Zena agak malu.


"Siapa yang sakit? Ibu tidak dengar ada teman kamu yang sedang sakit? Teman yang mana lagi?" tanya bu Mina lagi.

__ADS_1


"Begini Bu. Kemarin, Zee menolong korban kecelakaan. Sekarang dia masih dirawat, jadi Zee mau menengoknya untuk memberi semangat," jelas Zee membuat ibunya tersenyum senang.


"Putri ibu sekarang sudah dewasa, tidak lagi suka bermain-main seperti dulu," kata Bu Mina. "Pergilah, Zee. Beri temanmu semangat."


"Zee, berangkat dulu Bu?" kata Zena sambil mencium tangan ibunya.


Ibu Mina tersenyum senang melihat perubahan pada diri Zena. Dia sekarang berubah 180 derajat. Lebih perhatian dengan sesama dan menghormati orang yang lebih tua, itu yang penting.


Pak Juna sangat penasaran dengan istrinya yang sejak tadi tersenyum tiada henti bahkan hingga sampai di meja makan.


"Ibu, senyam senyum sendiri di pagi hari. Memang ada apa?" tanya pak Juna.


"Ayah, ibu sangat senang sekali karena ternyata putri kita sudah semakin dewasa," kata Bu Mina sambil mengambilkan roti untuk sarapan suaminya.


"Bagaimana ibu tahu?!" tanya pak Juna.


"Tahu nggak, tadi dia sudah pergi. Kemarin dia menolong seseorang, korban kecelakaan tunggal. Katanya lagi dia pergi pagi-pagi mau jenguk dia di rumah sakit. Padahal, biasanya dia tidak peduli dengan apapau selain urusannya sendiri," kata Bu Mina bangga pada Zee.


"Bagus kalau begitu, dia kabur dari rumah juga hal yang baik. Karena bisa merubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Bukan begitu, Bu?" tanya pak Juna.


"Iya pak. Tapi apa sebenarnya yang terjadi, sepertinya setelah kembali dia agak pendiam. Apa disana dia menemui banyak kesulitan? Apakah ada yang membuatnya sakit hati?" tanya bu Mina bertubi-tubi.


"Ayah tidak akan menjawab pertanyaan ibu. Yang terpenting sekarang dia sudah kembali. Masalah apa yang Zee alami disana biar Zee saja yang tahu. Ayah juga tidak ingin mengungkitnya lagi. Ayah tidak mau dia mengingat peristiwa yang seharusnya dia lupakan," jawab pak Juna sambil minum teh hangat.


"Ayah... Apa itu terlalu sakit buat Zee?" tanya bu Mina penasaran.

__ADS_1


"Sudah ayah bilang, Zee sudah melupakan semuanya. Jadi, mari jangan bahas lagi untuk kedepannya. Biarkan Zee tumbuh dewasa tanpa beban," kata sang suami yang segera pergi kekantor.


__ADS_2