
Rencana Zena menggagalkan perjodohan akhirnya gagal total. Dia malah terjebak dengan jerat cinta Bryan. Lelaki yang pernah ditolongnya dan telah menjadi temannya, kini malah menjadi calon tunangannya.
Zena dan Bryan belum lama saling mengenal, masih banyak hal yang harus mereka ketahui lebih jauh lagi sebelum pertunangan. Bryan juga menyadari hal itu. Karenanya, Bryan sengaja mengajak Zena pergi ke suatu tempat yang nyaman. Sebuah taman yang penuh bunga warna warni yang indah.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang di tengah taman. Sesekali Bryan menatap wajah cantik didepannya yang tersenyum melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Zee, sebenarnya aku tak yakin membawamu kesini. Aku pikir kamu tidak akan suka tempat seperti," kata Bryan sambil tersenyum.
Karena kamu terlihat bukan gadis feminin. Gadis yang suka memaunya, tak suka diatur dan memiliki sifat pemberontak. Tapi dibalik itu ternyata kamu memiliki kelembutan dan sifat peduli pada sesama. Aku jatuh cinta padamu, Zee. Sejak pertama kali bertemu denganmu di rumah sakit.
"Bukan tidak suka, aku memang belum pernah melihatnya. Makanya aku kagum sekali ada tempat yang indah seperti ini. Terimakasih sudah membawaku ke tempat ini," jawab Zena.
"Aku yang harus berterima kasih padamu, karena kamu menyukai tempat yang aku pilihkan untukmu."
"Kenapa harus saling berterimakasih. Tapi lain kali aku tidak mau kesini lagi," kata Zena cemberut.
"Kenapa, Zee?"
"Soalnya aku takut ketagihan."
"Oh kirain apa," kata Bryan sambil tertawa mendengar jawaban Zena.
"Udah puas tertawanya? Lagian kamu ajak aku kesini, bukannya ada yang ingin kamu katakan?!" tanya Zena kesal ditertawakan Bryan.
"Maaf, Zee. Aku terlalu bersemangat kalau sedang bersama kamu. Baik saat kamu kesal maupun senang, aku sangat menyukainya." Bryan diam sesaat. "Setelah menikah, aku akan membawamu ke Amerika."
Zena kaget mendengar ucapan Bryan.
"Kamu tidak salah dengar, Kita akan tinggal di Amerika setelah menikah. Kamu tahu, pekerjaanku ada di sana dan semua keluargaku juga di sana. Bagaimana menurutmu?" tanya Bryan penuh harap.
"Aku... jika aku setuju, apakah ayah dan ibuku akan setuju aku ikut denganmu ke luar negeri?! Aku ini anak satu-satunya."
"Sebenarnya kami sudah membicarakan semua ini dengan orangtuamu. Mereka setuju karena aku berjanji setelah kita memiliki banyak anak, salah satu anak kita akan ikut dengan mereka. Katanya mereka mau anak laki-laki untuk mereka didik menjadi pewaris perusahaan mereka. Bukankah itu jalan yang terbaik?!"
"Oh...kamu berbicara sudah sampai memiliki anak? Kenapa aku jadi geli?!" kata Zena sambil tertawa.
"Bukannya kita menikah selain menjalankan Sunnah rosul juga ingin mengembangkan populasi kan? Jadi menurutku wajar saja memikirkan hal seperti itu," kata Bryan sambil menatap Zena yang masih tertawa.
__ADS_1
"Iya juga. Tapi biarkan aku tertawa dulu."
Zena membayangkan dia menggendong bayi dan di samping kanan kirinya ada 2 anak-anak yang memegangi tangannya.
"Aaaa... tidak-tidak, jangan banyak anak," kata Zena membuat Bryan yang sekarang tertawa mendengar kata-kata Zena.
Zena menjadi malu sendiri menyadari ucapannya. Kali ini Bryan harus menghentikan tertawanya jika tidak ingin Zena semakin kesal padanya. Bryan akhirnya bersikap serius.
"Zee, menurutmu apakah kita bisa saling mencintai? Tapi aku bisa pastikan jika aku mencintaimu, bagaimana dengan kamu?" tanya Bryan.
"Bagaimana aku tahu, kamu mencintaiku? Dan bagaimana aku tahu aku jatuh cinta padamu?" tanya Zena sok polos padahal dia sudah ada rasa dengan Bryan.
"Bagaimana kalau kita coba."
"Coba? Coba apa?!" tanya Zena cemas.
Itu pasti ada sesuatu hal yang tidak baik.
"Kamu tampak cemas Zee. Jangan terlalu berpikiran negatif. Tapi emang yang akan aku minta agak ..." Bryan tampak malu membuat Zena malah semakin berpikir buruk.
Nah, nah...apaan yang bakal dicoba?
"Siapa takut."
Zena lega, ternyata yang Bryan maksud adalah saling berpandangan. Zena yang terlalu berpikir berlebihan. Zena mulai menatap tajam mata Bryan begitupun sebaliknya. Bryan mendekatkan wajahnya hingga jaraknya tak lebih dari sepuluh centi. Untuk beberapa lama mereka masih kuat bertahan, tapi Bryan merasa tidak bisa lagi bertahan. Hatinya berdebar-debar dan jantungnya berdetak lebih cepat. Zena juga merasakan hal yang sama, namun dia lebih bisa menguasai dirinya untuk tetap bertahan.
Bryan mulai tak kuasa saat melihat bibir merah Zena. Dia lalu berbisik di telinga Zena menyudahi tantangannya.
"Aku mengaku kalah Zee. Aku mengaku jatuh cinta padamu terlebih dulu. Tapi apakah hatimu berdebar seperti aku Zee?"
Bryan berkata dengan lembut dan mencium rambut Zena yang memiliki aroma wangi shampoo yang dia sukai. Walupun itu hanya kebetulan saja. Zena merasakan hembusan nafas Bryan yang berhembus kelehernya. Cinta datang ada waktu dan saat yang tepat bagi keduanya. Karena mereka akan segera bertunangan.
Pertunangan Zena dan Bryan diadakan secara sederhana dan hanya dihadiri anggota keluarga saja. Bahkan teman dekat Zena dan Bryan tidak ada yang diundang. Jadi nanti baik Zena maupun Bryan bisa mengadakan pesta kecil untuk memperkenalkan calon tunangan masing-masing pada teman-temannya.
Kali ini Zena mengumpulkan teman-temannya, di sebuah restauran untuk memperkenalkan Bryan sebagai tunangannya.
" Zee, cakep banget tunangan kamu," kata Mery.
__ADS_1
"Iya Zee. Menyesal nggak dulu pernah kabur?" tanya Sean sambil tersenyum.
"Sttt, jangan keras-keras. Nanti dia dengar," kata Keyla pelan kepada kedua sahabatnya.
"Sorry sorry. Zee nggak di kenalin sekarang?" tanya Sean.
"Namanya Bryan bekerja dan tinggal di Amerika," kata Zena sambil meminta Bryan berdiri untuk memperkenalkan diri.
"Hallo, Bryan."
"Sean."
"Hallo, Bryan."
"Mery."
"Hallo Bryan."
"Keyla."
Mereka berkenalan satu persatu dan Zena hanya tersenyum melihat ketiga sahabatnya terlihat senang dengan hubungan dia dan Bryan.
"Sejak kapan tinggal di Amerika?" tanya Sean penasaran.
"Sudah lama sih, sejak kuliah. Karena semua keluarga ada disana," jawab Bryan.
"Kalian baru beberapa waktu bertemu. Kapan kamu jatuh cinta pada Zee?" tanya Mery.
"Saat pertama kali bertemu. Dia gadis yang cantik dan baik," jawab Bryan sambil tersenyum kepada Zee.
"So sweet. Aku tahu sekarang, jadi teman barunya yang bisa membuat Zee tidak bisa ngumpul-ngumpul sama kita dulu itu kamu kan?!" tanya Mery curiga.
"Bisa jadi. Tanya yang bersangkutan saja," jawab Bryan.
"Iya, kalian puas?! Bisa nggak kita sudahi perkenalannya lalu kita makan dulu. Oke?!" jawab Zena agak kesal dengan ketiga sahabatnya yang terus menggodanya.
Akhirnya mereka makan dengan tenang tanpa banyak berbicara. Takut Zena marah. Kalau sudah marah, bisa seminggu tidak mau bertemu mereka.
__ADS_1
Meskipun disini Bryan berkata tidak memiliki teman, namun dia mengatakan juga ingin mengenalkannya pada sahabatnya yang baru memulai usaha di kota ini. Zena sebenarnya sama sekali tidak penasaran dengan sahabat Bryan, akan tetapi ada satu hal yang membuatnya gelisah. Sahabatnya sedang mencari kekasihnya yang pergi ke kota ini dan meninggalkannya tanpa tahu alasannya. Dan Bryan meminta Zena untuk membantu sahabatnya karena Zena lebih tahu seluk beluk kota ini dengan baik.
Semoga tidak seperti yang Zena bayangkan.