Cinta Zena

Cinta Zena
Mari putus


__ADS_3

Zena mulai merasa tidak nyaman karena hubungannya dengan Zaka bukan hanya persoalan cinta, tetapi lebih pada perasaan balas dendam. Cinta dan dendam yang yang bercampur menjadi satu membuat Zena dilema.


Disaat itulah Zaedan datang dan berusaha membantunya untuk menjadi pendengar yang baik. Zena menceritakan dari awal bekerja hingga perlakuan buruk rekan-rekan kerjanya dan Zaka.


Zaedan mendengarkan cerita Zena sambil menghela nafas berat. Memang bagi Zena yang tidak pernah merasakan cacian apalagi hinaan pasti akan sangat terpukul sekali.


"Maafkan dia atau matikan cintamu untuknya," kata Zaedan.


"Mungkin aku bisa memaafkan dia, tapi aku masih tidak bisa melupakan kata-katanya waktu itu. Aku akan lebih memilih menghapus cinta dari hatiku," kata Zena yakin.


"Kalau begitu, lakukan yang seharusnya kamu lakukan dan jangan ragu sedikitpun," kata Zaedan memberi semangat Zena.


"Semangat. Semua harus berjalan sesuai rencana. Dan harus segera berakhir," kata Zena memberi semangat dirinya sendiri.


***


Zena menemui Zaka untuk membahas rencana makan bersama karyawan untuk mengumumkan bahwa Zaka dan Zena adalah sepasang kekasih. Zena menyadari bahwa Zaka sudah sangat dalam mencintainya.


"Apa tidak sebaiknya kita batalkan saja, kenapa terasa begitu naif?" tanya Zena.


"Aku hanya ingin memberitahukan pada mereka bahwa kamu milikku dan agar mereka tidak pernah berpikir macam-macam tentangmu. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan mentraktir mereka makan," jawab Zaka penuh semangat.


Zaka ternyata sudah banyak berubah. Dulu dia begitu dingin dan mudah marah. Kini dia begitu kekanak-kanakan dan terlihat murah senyum. Andai Zena bertemu Zaka di kondisi yang berbeda, mungkin Zena akan mempertahankan cinta Zaka.


Dan malam pun tiba. Seluruh karyawan datang ke restauran yang sudah Zaka pesan. Zaka dengan penuh semangat mengajak Zena berdiri untuk mengumumkan hubungan mereka.


"Selamat semuanya. Malam ini aku akan mengumumkan sesuatu yang sangat penting. Aku dan Zena sekarang adalah sepasang kekasih," Zaka berhenti sejenak dan tersenyum pada Zena yang tertunduk malu.


Mereka yang hadir mulai berbisik-bisik tentang hubungan Zaka dan Zena. Tetapi Zaka sama sekali tidak peduli pandangan mereka.

__ADS_1


"Acara makan malam ini adalah traktiran dari kami berdua," lanjut Zaka.


Tepuk tangan mereka terdengar memecah kesunyian suasana malam itu. Zaka semakin yakin dengan perasaannya sendiri maupun perasaan Zena. Terbersit keinginan dihatinya untuk segera melamar Zena menjadi istrinya. Zaka merasa tidak akan bisa hidup tanpa Zena disisinya.


Sepanjang acara itu Zaka tiada hentinya menatap wajah ayu di depannya. Walaupun jika saat ini Zena masih seperti beberapa waktu lalu, berpenampilan sederhana, Zaka pasti masih tetap menyukainya.


Namun perasaan Zaka tak kan mungkin Zena bisa mengetahuinya. Sesungguhnya kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka mungkin sudah menjadi garis hidup yang harus mereka jalani.


Setelah malam itu Zaka sudah menetapkan hati untuk melamar Zena. Dia mulai membuat rencana lamaran yang akan berkesan untuk Zena. Zaka memesan sebuah restauran mewah untuk mewujudkan keinginannya.


Malam ini, Zaka bersiap dengan semua hal yang baginya sudah sempurna. Makan malam romantis dan bunga serta sebuah cincin lamaran sudah disiapkannya. Semuanya begitu sempurna.


Zaka gelisah menunggu Zena yang dijemput sopir pribadinya. Tak berapa lama, datanglah Zena dengan dandanan yang tidak seperti biasanya. Zena memakai celana pendek dengan atasan kaos dan memakai rompi. Sepatu yang dikenakan juga bukan sepatu Hells tapi sepatu boots.


Zaka sempat curiga dengan penampilan Zena, tetapi dia mencoba berpikir positif bahwa mungkin saja Zena ingin sesuatu yang berbeda. Apalagi rambut Zena yang bisanya terikat rapi, kini terurai hitam dan panjang. Sekilas dilihat, Zena tidak seperti Zena yang dia kenal selama ini.


Semua hal yang telah disiapkan Zaka mulai berjalan sesuai rencana.Dan hal terakhir yang ingin dia lakukan adalah melamar wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.


Dengan alunan musik lembut, Zaka mengajak Zena berdiri. Zaka kemudian berjongkok seperti yang dilakukan pemeran utama di drama-drama cina untuk melamar kekasihnya.


"Bersediakah kamu menjadi istriku?" tanya Zaka dengan penuh keyakinan.


Zena terdiam, sorot matanya mulai tajam dan penuh misteri. Zaka menunggu hingga kakinya merasa pegal. Sementara Zena dalam hatinya tersenyum bak gadis tak berperasaan. Itulah mungkin yang akan terjadi kemudian.


"Maaf, aku tidak bisa menerima lamaranmu. Aku tidak pernah mencintaimu," jawab Zena dengan wajah datar.


Zaka sangat kaget mendengar jawaban Mala yang sama sekali tak pernah dia bayangkan. Matanya menatap tajam mata wanita dihadapannya. Berharap bahwa apa yang dia dengar hanyalah fatamorgana.


"Zena katakan sekali lagi?!" pinta Zaka.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa menerima lamaranmu. Aku tidak pernah mencintaimu," ulang Zena masih dengan wajah datarnya.


"Zena, bukankah kita selama ini saling mencintai? Kita sudah banyak melewati masa-masa indah bersama. Tidakkah itu cinta?" tanya Zaka dengan nada bergetar dan setengah berteriak dan cincin yang ada di tangan Zaka jatuh entah dimana.


Beberapa orang pelayan segera mencari cincin yang hilang tersebut.


"Semua itu tidak pernah berarti bagiku. Dan sudah kukatakan aku tidak pernah mencintaimu. Jadi mari kita putus," jawab Zena sambil tersenyum sinis.


"Tidak aku tidak ingin putus darimu. Kamu bohong padaku kan? Kamu sebenarnya mencintai aku. Apakah kamu ada kesulitan? Katakan padaku, aku pasti akan membantumu," tanya Zaka setengah histeris dan marah. Matanya merah menahan sesak di dadanya.


"Aku juga akan berhenti bekerja. Besok, surat pengunduran diriku akan ada dimeja kerjamu," jawab Zena.


"Zena, atau mungkin kamu bukan Zena. Kamu siapa?! Dimana Zena?!" bentak Zaka.


"Terserah kau anggap aku Zena atau siapapun. Apa yang ingin aku katakan sudah aku katakan dengan jelas. Aku pergi, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi," kata Zena sambil melangkah pergi.


Zaka yang masih dalam keadaan emosi, menarik tangan Zena dan menahannya agar tidak pergi.


"Jangan pergi Zena," ucap Zaka pelan.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang," kata Zena berusaha melepas pegangan Zaka.


"Tidak, aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi," kata Zaka lagi.


Saat itulah Zaedan datang dan menarik tangan Zena dengan kuat. Zaka terkejut melihat Zaedan dengan tampang dingin menarik Zena dari genggamannya.


"Apakah karena dia Zena meninggalkan dia?" tanyanya dalam hati.


Mata mereka beradu seolah ingin membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Tangan Zaka dan Zaedan saling mengepal membuat Zena merasa khawatir mereka akan berkelahi di tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2