Cinta Zena

Cinta Zena
Dendam yang tertunda


__ADS_3

Menikmati masa pacaran bagi Zaka dan Zena adalah hal yang baru. Karena selama ini mereka hanya berpura-pura saja. Kini Zaka sudah memberi lampu hijau untuk Zena menunjukkan cintanya dihadapan semua orang.


Itulah yang sebenarnya Zena harapkan. Balas dendam yang baru Zena mulai dari Sinta dan kemudian kini giliran rekan kerjanya yang dulu sering menghinanya dengan menyebutnya 'maak Zen'.


Zena berusaha membuat Zaka setuju untuk mengumumkan tentang hubungan mereka pada anak buahnya. Zaka tidak bisa menolak keinginan Zena karena dia sudah terlanjur bucin dengan Zena.


Malam Minggu mereka pergi nonton film romantis dan bikin baper. Tak disangka di sana Zena bertemu dengan Maya dan Dodi yang juga akan menonton film.


"Hei, Maya. Ada apa nih kok bisa nonton sama Dodi? tanya Zena penasaran.


"Dodi melamarku sebelum aku ditunangkan," jawab Maya agak malu.


"Benarkah,iiih seneng sekali aku mendengarnya. Berarti sekarang kalian..." tanya Zena.


"Dia calon suamiku," kata Maya sambil tertawa.


Zena dan Maya tertawa bersama membuat Zaka dan Dodi menggelengkan kepala.


"Kamu dan pak Zaka, jadian ya?" tanya Maya.


"Jangan bilang orang-orang dulu ya. Kami baru mulai dan tunggu Zaka siap mengumumkan hubungan kami," kata Zena.


Maya memberi isyarat tanda diam dan menjaga rahasia Zena dan Zaka.


"Kalian ini mau nonton film atau berbincang di sini?" tanya Zaka.


"Masuk, ayo," jawab Zena sambil menggandeng tangan Zaka.


Mereka berempat nonton film yang sama walau duduk di kursi yang berjauhan. Zaka dan Zena menahan nafas melihat film romantis yang belum pernah mereka tonton. Adegan demi adegan membuat mereka saling berpandangan.


Tapi Zaka berpikir untuk mempraktekkan satu adegan yang sangat membuatnya ketagihan. Sebuah ciuman mesra untuk pasangan kekasih seperti Zena. Zaka tidak peduli jika nantinya dia dibilang mesum oleh Zena, dia ingin meneruskan ciuman yang belum selesai ketika di kantor kemarin.


Setelah nonton film mereka pergi kesebuah wahana bermain yang banyak permainannya. Zena ingin naik kincir angin seperti pasangan yang lain. Walaupun agak takut, bukankah ada Zaka?

__ADS_1


Mereka akhirnya naik kincir angin. Zaka duduk dihadapan Zena. Saat kincir angin mulai berputar, Zena berpegangan pada pinggir tempat duduknya. Melihat hal itu Zaka pindah tempat duduk di samping Zena.


Zaka melepaskan pegangan Zena, dan memindahkannya ke ke pinggangnya. Zaka agak geli juga, tapi itu lebih baik dan dia terlihat seperti kekasih yang baik.


Zena memegang erat pinggang Zaka, hingga membuat Zaka semakin dekat dengan tubuh Zena. Zaka memandangi wajah Zena yang sedang terpejam.


Zaka tidak dapat menahan lagi untuk tidak menciumnya. Dipegangnya kepala Zena dan mendongakkan ke atas tepat dibawah hidungnya. Zena sempat kaget dengan yang dilakukan Zaka. Belum sempat Zena bertanya, bibir Zaka sudah menempel di bibirnya.


Mata Zena terbelalak menerima ciuman dari Zaka. Dengan lembut Zaka memainkan bibir Zena dengan bibirnya. Bibir Zena memang seperti ada sesuatu yang membuat Zaka sulit untuk melepaskannya.


Zaka tidak melepaskan ciumannya hingga kincir angin berhenti. Zaka melepaskan ciumannya dan membuat lipstik Zena pindah ke bibirnya. Tapi kali ini Zaka puas sudah membuat Zena tidak ketakutan naik kincir angin karena Zena pasti fokus dengan ciumannya.


Zena tampak malu-malu ketika turun dari kincir angin. Zaka memeganginya karena sepertinya Zena agak mabuk ketinggian. Zaka mengajaknya duduk di sebuah bangku panjang di dekat wahana. Zaka memeluk Zena dan menyuruhnya istirahat sebentar sebelum mereka makan malam dan pulang.


"Zena, istirahat sebentar nanti baru kita cari makan," kata Zaka penuh perhatian.


"Ya, tapi kamu tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Tadi hanya merasa kaget dengan kelakuan kamu," kata Zena malu.


"Oh kenapa bisa kaget? Kita ini pasangan. Saat naik kincir angin itu yang mereka lakukan," kata Zaka masih memeluk Zena.


"Iya, tadi aku lihat sekilas seperti itu. Aku bukan modus ya hanya ingin seperti mereka saja," jawab Zaka sambil tersenyum.


Melihat Zena agak seperti itu membuat Zaka makin gemes saja.


"Cantik, ayo kita cari makan. Di sekitar sini ada rumah makan biasa yang enak. Tak perlu ke restauran mewah, senang?" tanya Zaka sambil memegang kedua pipi Zena.


Zena merasa sangat bahagia menjadi kekasih Zaka. Zaka memperlakukan Zena dengan sangat baik dan Zaka memanjakannya serta perlakuan Zaka yang begitu mesra.


Selesai makan, Zaka mengantar Zena pulang. Tapi Zaka tak juga kunjung pergi meski Zena sudah turun dari mobilnya.


"Kenapa belum pergi juga?" teriak Zena pelan.


Zaka hanya menggeleng pelan membuat Zena kembali mendekatinya.

__ADS_1


"Pulanglah, nanti kemalaman," kata Zena.


"Kamu belum memberiku ucapan selamat malam," jawab Zaka.


Zena tertawa kecil mendengar ucapan Zaka. Orang pacaran memang terlalu banyak aturan. Untung saja aku dulu tidak pernah jatuh cinta dan pacaran, merepotkan saja.


Zena lalu mencium pipi Zaka sebagai ucapan selamat malam. Dengan agak malu Zena segera berlari menuju rumah nenek. Zaka tersipu malu dan menikmati masa pacaran dengan wanita yang paling dicintainya.


Ternyata bisa bersama dengan orang yang dicintai lebih berharga dari apapun.


***


Keesokan harinya, Zaka menjemput Zena untuk berangkat kerja bersama. Ini saatnya melakukan pertunjukan untuk membuat orang-orang yang pernah meremehkannya diam.


Zena turun dari mobil Zaka yang otomatis membuat orang-orang kaget. Mereka saling berbisik dan bergosip. Zena mulai beraksi untuk lebih menambah bumbu gosip mereka.


Zena memegang tangan Zaka dan mencium pipinya dihadapan orang-orang yang sedang mengawasi mereka. Zaka hanya tersenyum. Orang-orang itu terkejut dengan reaksi bos mereka yang hanya tersenyum dan mencubit mesra pipi Zena seperti sepasang muda mudi yang sedang kasmaran.


"Sayang, masuklah terlebih dulu. Ada sesuatu yang ketinggalan yang harus aku ambil dulu. Berikan kunci mobilnya padaku," kata Zena.


"Baiklah, aku masuk dulu. Jangan lupa nanti langsung menemuiku," kata Zaka sambil memberikan kunci mobilnya pada Zena.


Zena tersenyum manis pada Zaka sebagai tanda setuju. Zena bukan ingin mengambil sesuatu tapi sengaja ingin menyapa rekan-rekan kerjanya.


"Selamat pagi kakak-kakak semua?" sapa Zena yang membuat mereka langsung melihat kearahnya.


"Selamat pagi Bu Zena" jawab mereka hampir bersamaan.


Dengan sombong Zena berlalu meninggalkan mereka yang kemudian bergosip tentangnya dan Zaka. Zena sangat puas mereka tidak lagi berani berkata buruk tentangnya. Dan mereka sudah merubah panggilan Zena dengan 'bu Zena'.


Zena melangkah menuju ruang kerja Zaka. Dia berhenti didepan pintu dan teringat bahwa balas dendamnya tidak hanya untuk Sinta, rekan kerjanya tapi juga ...Zaka.


Beberapa hari ini, Zena hampir melupakan bahwa Zaka juga bagian dari misi balasdendamnya yang tertunda karena Zena malah terbuai dengan cinta yang diberikan Zaka padanya.

__ADS_1


Zena kembali teringat ucapan Zaka" jika di dunia hanya tinggal dia dan Zena maka Zaka akan memilih Mimi kucing piaraannya untuk hidup bersamanya bukan Zena".


Amarah dan dendam Zena kembali tersulut. Matanya merah dan berkaca-kaca.


__ADS_2