
Sinta terdiam mendengar pertanyaan Samuel. Lelaki yang dulu tidak pernah dianggapnya itu entah kenapa kini begitu menarik perhatiannya. Matanya sesekali melihat kearah Samuel yang baginya sudah berubah tampan dan mempesona.
"Hei, kok diem sih." Kata-kata Samuel membuyarkan lamunannya.
"Aku ingin segera menemukan jodohku. Ayah ibuku sudah mendesak ku untuk segera menikah. Tapi aku masih bingung, karena menemukan yang sehati itu susah," jawab Sinta sambil menghela nafas.
Samuel tersenyum. Cintanya yang pernah dia lepaskan, kini sedang mencari sandaran.
"Sinta, sayangnya aku bukan termasuk sehati itu," jawab Samuel sedikit menyesal.
"Apa aku masih ada kesempatan?!" tanya Sinta.
"Maksudmu, kesempatan apa?" tanya Samuel ragu mendengar perkataan Sinta.
"Kesempatan menjadi makmum mu," jawab Sinta malu.
Samuel tersenyum. Matanya berkaca-kaca karena bahagia. 'Namun mengapa cinta itu datang setelah dia meninggalkannya. Mungkin karena dia tidak terbiasa tanpa aku,' batin Samuel.
"Jika kamu bersedia, aku akan dengan senang hati menjadi imammu," kata Samuel penuh semangat.
"Benarkah, kamu..." kata Sinta gugup.
"Kita sekarang pasangan. Aku akan segera ke rumah orangtuamu untuk melamarmu, bagaimana?" kata Samuel.
__ADS_1
"Secepat itu?!" tanya Sinta.
"Aku takut kamu akan berubah pikiran. Setelah aku melamarmu, kau tidak akan bisa pergi dariku," jawab Samuel sambil tersenyum.
"Ada-ada saja. Emangnya aku mau pergi kemana?!" kata Sinta tersenyum tipis.
"Jaga-jaga saja," kata Samuel.
"Kayaknya sudah larut malam, aku harus segera pulang."
"Aku akan mengantarmu."
"Mengantarku? Kalau begitu bawa mobilku saja," kata Sinta.
"Apa kamu tidak malu menjemputku?!"
"Lho kenapa memangnya?! Kau kan calon istriku, mana mungkin aku malu. Biar saja semua orang tahu, kalau aku bisa mendapatkan gadis impianku yang pernah aku kejar-kejar hingga jatuh bangun," jawab Samuel bangga.
"Baiklah, terserah kamu saja," kata Sinta.
Samuel mengantarkan Sinta Hinga sampai kerumahnya. Sinta turun dari mobilnya diikuti Samuel. Sinta berhenti dan berbalik badan mendekati Samuel yang terus menatapnya.
Cup.
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di pipi Samuel. Samuel tidak menyangka akan mendapat hadiah istimewa dari Sinta di hari pertama mereka menjadi pasangan. Sebelum Samuel sempat berkata apa-apa, Sinta sudah berlari masuk kedalam rumah karena malu. Sinta selama ini memang belum pernah berciuman apalagi mencium seorang lelaki.
Setelah beberapa saat, Samuel melangkah pergi menuju mobil Sinta dan segera pergi mengendarai mobil Sinta kembali ke hotel.
Esoknya, Samuel bangun pagi untuk menjemput Sinta tanpa diketahui teman sekantornya. Samuel dengan setia menunggu Sinta di depan rumahnya. Tak lama Sinta datang dengan senyum manisnya.
"Kenapa tidak masuk," tanya Sinta.
"Masih terlalu pagi untuk bertamu. Aku ingin secara resmi datang tapi bukan sekarang. Lagi pula nanti aku ada kegiatan dengan teman-teman sekantorku."
"Ya sudah, nanti sore saja aku temui kamu untuk membantumu menghilangkan lelah," kata Sinta.
"Benarkah kamu bisa menghilangkan lelahku? Baiklah, nanti aku buktikan," kata Samuel sambil tersenyum.
"Buktikan saja. Kamu pasti nggak bakalan lupa," kata Sinta tertawa.
"Kenapa aku jadi takut, melihat kamu tertawa seperti itu sepertinya bukan hal yang baik," kata Samuel.
"Jangan berburuk sangka sayang."
"Nah sebutan ini aku suka. Sayangku."
Mereka tertawa bahagia mendengar gurauan masing-masing.
__ADS_1
Samuel kemudian membukakan pintu mobil untuk Sinta. Sinta bergegas masuk dan berangkatlah mereka menuju hotel tempat kerja Sinta.