
Bryan mengajak Zena pergi membeli cincin pernikahan namun sebelum itu, Zena mengajak Bryan untuk mampir dulu ke sebuah rumah makan sederhana yang sering Zena kunjungi akhir-akhir ini. Bryan pun tidak menolak karena dia juga membawa kabar yang ingin disampaikannya pada Zee. Demikian juga dengan Zee.
Selesai makan, Zee meminta Bryan untuk bicara duluan.
"Mulai hari ini, aku sudah pindah kerja ke kota ini. Jadi kamu tidak perlu pergi keluar negeri. Kamu senang?" tanya Bryan sambil tersenyum.
"Iya, aku senang," jawab Zee agak gugup.
"Terus, kamu katakan apa yang ingin kamu katakan padaku. Aku jadi penasaran."
Zena terdiam sejenak mengatur ritme nafasnya.
"Bryan, sebenarnya aku dan Zaka saling kenal."
Zena berhenti bicara dan menatap Bryan yang menanti ucapan Zena selanjutnya.
"Kami pernah berpacaran. Dia mantan pacarku," kata Zena ragu sambil menunduk dan tidak berani melihat reaksi Bryan.
Bryan sempat kaget mendengar pengakuan Zena. Namun dia juga tidak bisa marah pada Zee karena dengan beraninya dia berterus terang sudah membuat Bryan tersentuh.
"Kenapa tidak bilang dari awal? Saat aku memarahi kekasih Zaka dan mengatainya, kamu pasti sedih. Maafkan aku," kata Bryan.
"Itu wajar, kamu sedang marah. kenapa kamu tidak marah padaku?" tanya Zee heran.
"Untuk apa aku marah. Tapi Zaka selalu bilang kalau dia tidak tahu alasan kamu meninggalkan dia. Tapi mungkin saja dia tahu tapi sengaja sok tidak tahu. Mungkin agar hatinya tenang dan dia masih bisa berharap padamu," kata Bryan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Dia memang masih saja mendekati aku, tapi aku sudah berusaha menghindarinya. Tetapi kemaren karena pekerjaan, jadi tidak bisa dihindari," jawab Zena.
"Sulit memang. Seseorang yang sudah jatuh cinta padamu pasti dia tidak akan mudah untuk melepaskannya. Zee, aku percaya padamu. Zaka adalah masa lalumu dan aku adalah masa depanmu. Aku tidak akan menoleh kebelakang selagi bersamamu."
"Terimakasih Bryan."
Zena tersenyum manis membuat Bryan tak berkedip memandangnya. Setelah pembicaraan berakhir, Bryan mengajak Zena pergi ke toko perhiasan. Zena tak bisa memilih karena dia memang tidak terlalu suka dengan perhiasan.
Bryan memilih sepasang cincin kawin yang sangat indah. Seindah cinta Bryan yang ditawarkan untuk Zena.
****
Hari pernikahan telah tiba. Dengan mengenakan kebaya berwarna putih, Zee tampak anggun dan cantik. Zee duduk di samping Bryan yang akhirnya mengucapkan ijab Kabul. Doa dari pak penghulu mengiringi hubungan baru mereka setelah mereka dinyatakan sah sebagai suami istri.
Sementara Zee dan Bryan menjalani ritual malam pertama. Mereka masih tampak malu-malu, secara mereka tidak pacaran tapi langsung menikah. Ada sedikit rasa canggung diantara mereka.
Bryan menyentuh dan menggenggam tangan Zena yang tengah duduk disampingnya diatas ranjang pengantin. Sentuhan Bryan membuat jantung keduanya berdetak kencang dan nafas Bryan terdengar tak beraturan seperti tengah berlari.
Bryan mulai memandu Zena tanpa malu lagi. Keduanya mulai tahap pemanasan dan suasana mulai hangat. Tiba-tiba terdengar suara ponsel Bryan berdering berkali-kali dan sangat mengganggu kegiatan mereka. Bryan merijeck panggilan yang entah dari siapa karena setelah dilihat Bryan tidak mengenali nomor ponsel tersebut.
Bryan meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Lalu dia mulai beraksi kembali melanjutkan pemanasan yang sempat terhenti. Lagi-lagi ponsel Bryan berbunyi membuat Bryan emosi. Padahal sedikit lagi Bryan akan berhasil membobol gawang keperawanan sang istri.
"Angkat dulu mas, mungkin saja penting," kata Zena sambil menarik selimut.
"Hal penting apa tengah malam begini. Tidak tahu apa orang lagi melakukan hal penting di ganggu," gumam Bryan kecewa.
__ADS_1
Namun karena permintaan Zena, akhirnya Bryan mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Hallo..."
"Apakah benar ini tua Bryan?" terdengar suara seorang pria dari sebrang sana.
"Benar, ada apa?"
"Pak Zaka mengalami kecelakaan dan sekarang dia ada di rumah sakit. Dan dia terus menyebut nama anda pak."
Bryan memandang kearah Zena yang ikut mendengarkan pembicaraan Bryan dan penelepon. Mala hanya mengangguk untuk memberi Bryan kesempatan bertemu sahabatnya, Zaka.
"Baik, kirim saja alamatnya saya akan segera pergi ke sana."
Bryan mengakhiri percakapan di telepon. Dia menghela nafas panjang. Malam pertamanya akhirnya gagal oleh sahabatnya sendiri. Bryan bergegas berganti pakaian lalu mendekati Zena dengan wajah kecewa.
"Zee, maafkan aku. Kita akan melakukannya lain waktu," kata Bryan sambil mencium kening Zena.
"Pergilah, jangan sampai kamu menyesal. Bagaimanapun dia sahabatmu," kata Zena membuat hati Bryan tenang.
"Nanti pasti aku akan menggantinya dua kali lipat," goda Bryan.
"Apa sih mas. Udah sana pergi."
Bryan pergi meninggalkan Zena yang hanya bisa tersenyum getir melihat Zaka bisa mempengaruhi hubungannya dengan Bryan.
__ADS_1