Cinta Zena

Cinta Zena
Kecurigaan Sinta


__ADS_3

Dodi mendekati Zena dan Maya yang masih saling menggoda. Zena pun mengajak Maya dan Dodi untuk mampir kesebuah warung bakso untuk makan sambil berbincang.


Sejak Zena pergi dari rumah, dia sudah banyak berubah. Selera makan, gaya berpakaian dan berteman juga berubah.


Dulu dia tidak suka melihat warung pinggir jalan apalagi makan di dalamnya. Dia paling alergi pakai pakaian murah tapi kini semua pakaiannya dari toko pakaian murah. Berteman pun dia memilih yang bergaya sosialita dan cantik, kini dia bisa berteman dengan siapa saja dan dari berbagai kalangan.


Zena tampak tersenyum sendiri melihat tingkah dua orang yang saling jatuh cinta tapi merasa tak bisa bersama.


"Maya, kapan rencana pertunangan kamu, atau kamu akan langsung menikah?" tanya Zena.


Dodi terkejut tapi dia berusaha menyembunyikannya dari Zena dan Maya.


"Zena, entahlah. Mungkin satu Minggu lagi akan di gelar acara pertunangannya. Tapi..." kata Maya.


"Kenapa, masih belum bisa mencintai calon tunangan. Maya, kamu harus berusaha mencintai dia. Lupakan masa lalu, lebih baik hidup dengan pria yang mencintai kamu daripada pria yang kamu cintai. Terus punya anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Uh... senangnya," kata Zena sambil melihat Dodi yang tertunduk.


"Mungkin memang harusnya seperti itu," kata Maya sedih.


"Bulan madu ke puncak juga bagus," kata Zena sambil tersenyum.


Namun suara benda jatuh kelantai membuat senyum Zena terhenti. Maya dan Zena saling berpandangan.


"Maaf, nggak sengaja jatuh," kata Dodi gugup.


"Nggak papa kok, ya kan Maya?" tanya Zena sambil melihat Maya.


Maya hanya tersenyum malu. Tak ada yang bisa Zena lakukan lagi. Dodi benar-benar sulit untuk bisa maju dan mengakui perasaannya pada Maya.


***


Zaka dan Zena tidak pernah menunjukkan kemesraan mereka di tempat kerja.Hal itu membuat Sinta mulai curiga dengan hubungan mereka.


Sinta berusaha berbicara dengan Zaka tentang hubungannya dengan Zena. Saat Zaka sedang tidak sibuk, Sinta datang keruangannya dan mulai menginterogasi Zaka.


"Zaka, Apakah kamu dan Zena benar-benar pacaran?" tanya Sinta.


"Benar, kenapa?" tanya Zaka.


"Tapi aku merasa kalian ada yang aneh. Sepertinya ada yang kalian sembunyikan dari kami semua," kata Sinta membuat Zaka menghentikan pekerjaannya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Zaka agak kesal.


"Maksudku, apa kalian pura-pura pacaran untuk membatalkan rencana pertunangan yang direncanakan orangtuamu? Kalau hanya untuk itu, kamu bisa minta bantuan dariku. Aku pasti akan membantumu dengan senang hati. Tapi kenapa mesti Zena?!" kata Sinta berapi-api.

__ADS_1


"Sinta, siapa yang pura-pura? Aku dan Zena memang sedang pacaran, Zena tidak ingin semua orang tahu hubungan kami. Jadi aku menuruti saja maunya dia," jawab Zaka.


"Benarkah?" tanya Sinta tak percaya.


"Terserah kamu saja, percaya atau tidak tak masalah buatku," jawab Zaka sambil tersenyum sinis.


Sinta melangkah pergi dengan hati masih diliputi ketidakpercayaan atas hubungan Zaka dan Zena. Dan sejak itu, Sinta berusaha mencari bukti jika mereka hanya berpura-pura.


Zaka mulai khawatir dengan kecurigaan Sinta. Dia segera meminta Zena datang keruangannya untuk membicarakan hal itu.


"Loh, bukannya hanya sampai orangtua pak Zaka kembali keluar negeri?" tanya Zena.


"Awalnya seperti itu. Tapi, Sinta mulai curiga dengan hubungan kita. Kalau sampai dia tahu kita hanya pura-pura, dan dia memberitahu orang tuaku semua bisa berantakan," jawab Zaka.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Zena juga ikutan panik.


"Setidaknya, kita harus membuat dia percaya kalau kita benar-benar sedang berpacaran," jawab Zaka.


"Caranya?" tanya Zena lagi.


"Bersikaplah manja padaku jika ada dia." kata Zaka.


"Tapi itu akan sangat canggung sekali pak Zaka," kata Zena menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu saya tidak akan sungkan lagi sama pak Zaka. Akting saya akan lebih berani," kata Zena.


"Zena, jangan berlebihan, ingat itu," kata Zaka memperingatkan Zena.


"Sesuai situasi kan pak, saya masih ingat," kata Zena sambil tersenyum.


Zena mulai menyadari bahwa dia tidak hanya bisa diam saja untuk segera memulai aksi balas dendamnya. Zena harus agresif agar cepat membuat Zaka jatuh cinta padanya.


Saat itulah, seseorang mengetuk pintu ruangan Zaka. Zaka dan Zena saling berpandangan.


"Siapa?" teriak Zaka.


"Sinta," jawab Sinta didepan pintu.


Zena dan Zaka panik, karena ini saatnya menunjukan bahwa mereka benar-benar pacaran.


Tanpa izin Zaka, Zena bergegas mendekati Zaka lalu duduk di pangkuan Zaka. Hal itu membuat Zaka kaget, tapi Zaka hanya bisa tersenyum sambil menatap Zena yang segera mengalungkan kedua tangannya dileher Zaka.


Jantung Zaka berdegup kencang,dan hatinya bergetar hebat. Suara ketuk pintu kembali membuat Zaka kaget.

__ADS_1


"Masuk," teriak Zaka.


Sinta terkejut melihat Zena duduk dipangkuan Zaka sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Zaka. Rasa cemburu dan marah bercampur menjadi satu. Sinta ingin rasanya menjambak rambut Zena dan melemparkannya keluar.


Melihat Sinta, Zena pura-pura kaget lalu dia melepaskan tangannya dari leher Zaka dan segera berdiri.


"Maaf, jika aku mengganggu kalian. Tapi ada sesuatu hal penting yang harus saya diskusikan dengan pak Zaka," kata Sinta menahan marah.


"Oh baik, sayang aku keluar dulu ya?" kata Zena membuat Sinta makin geram.


Sebelum keluar, Zena memegang bahu Zaka dan Zaka membalas dengan tangan yang satunya.


"Pergilah, nanti kembali ke sini setelah urusanku selesai," kata Zaka


"Siap..." jawab Zena sambil tersenyum.


Sinta semakin panas dingin melihat sikap mereka berdua. Tapi dia harus bersikap baik di depan Zaka.


Saat Zaka dan Sinta membahas masalah pekerjaan, Zena menerima telepon dari Zaedan. Dan mereka berjanji untuk bertemu di cafe dekat tempat kerja Zena.


Zena bergegas pergi untuk menemui Zaedan agar Zaka tidak mencurigainya. Sebelum Zaka selesai, dia sudah harus kembali ke kantor.


Di sana Zaedan sudah menunggunya dengan sabar.


"Zaedan," panggil Zena.


"Duduklah. Ada hal yang ingin aku katakan padamu," kata Zaedan sambil menarik kursi untuk Zena.


"Terimakasih. Apa yang ingin kamu katakan. Apakah ayah dan ibuku baik-baik saja?" tanya Zena penasaran.


"Mereka baik-baik saja. Zena, ayahmu memintaku mengawasi kamu selama disini. Apa kamu akan marah padaku? Tidakkah kamu ingin menghubungi mereka, agar mereka bisa tenang?" tanya Zaedan.


" Untuk apa aku marah padamu. Dari dulu aku sudah tahu bahwa kamu adalah orang kepercayaan ayah, jadi aku tidak kaget dengan hal itu. Aku sebenarnya kangen sekali, tapi jika aku menghubungi mereka, aku takut aku akan sangat sedih dan tidak bisa melanjutkan rencana balas dendam yang sudah aku rencanakan," jawab Zena.


"Sebenarnya siapa yang sudah membuatmu harus mengalami hal ini. Katakan saja padaku, aku yang akan membalasnya untukmu," kata Zaedan dengan nada marah.


"Tidak Zaedan. Aku akan lebih puas jika aku sendiri yang membalasnya," kata Zena.


"Jika butuh bantuanku katakan saja. Aku akan ada untukmu 24 jam," kata Zaedan.


"Terimakasih Zaedan, saat ini aku masih bisa melakukannya sendiri," jawab Zena .


Mungkin memang harus secepatnya bertindak. Dan harus dengan hati yang dingin dan kejam baru bisa melaksanakan dendamnya.

__ADS_1


__ADS_2