
Sampai di rumah, Sinta bergegas Mandi dengan senyum ceria nya karena dia sudah bertemu kembali dengan Samuel. Lelaki yang pernah mencintainya walaupun sekarang dia sudah melepaskan dirinya. Kini Sinta yang ingin mengejarnya.
Dengan penuh harapan, Sinta berganti pakaian yang dia rasa paling bagus untuk makan malam dengan Samuel. Sinta merasa jika Samuel masih menyimpan rasa padanya.
Sinta kembali ke hotel, bukan untuk bekerja tetapi untuk kencan. Di loby hotel, Samuel sudah menunggu dengan penuh gelisah. Dahinya berkerut dan tangannya agak gemetaran. Matanya sesekali melihat pintu loby hotel.
Tak lama, yang dinanti akhirnya datang juga. Tadinya Samuel mengira, Sinta tidak akan mau datang untuknya yang selama ini tidak pernah di anggap olehnya. Tetapi wanita yang pernah membuatnya lama menjadi pengikutnya yang selalu tunduk pada keinginan dan permintaannya, kini dia bersedia diajaknya kencan dengan mudahnya.
Samuel melambaikan tangannya untuk menyambut kedatangan Sinta. Sinta tersenyum malu. Dulu dia sama sekali tidak pernah sebahagia ini jika bertemu Samuel, bahkan dia merasa kesal karena Samuel selalu mengejar-ngejar dirinya. Setelah Samuel pergi, Sinta baru merasakan rasa kehilangan.
Jantungnya berdetak kencang dan hatinya berdebar ketika melihat Samuel yang terlihat bertambah tampan.
"Hai Sinta, apa kabar?" tanya Samuel setelah Sinta duduk didepannya.
"Baik, kamu sendiri?" tanya Sinta berusaha santai.
"Baik juga. Apa kita langsung makan saja?"
__ADS_1
"Terserah kamu. Kamu kan yang ngajak, aku sih oke saja."
"Kelihatannya kamu juga belum makan malam. Jadi kita langsung saja ke resto."
Samuel berdiri diikuti Sinta. Mereka berjalan bersama namun terlihat canggung. Sesekali mereka saling curi pandang seolah anak remaja yang baru jatuh cinta.
Sampailah mereka di restauran hotel. Seorang pelayan mendekati mereka dan kaget melihat bosnya sedang makan malam dengan seorang laki-laki tampan. Tentu saja ini bisa menjadi bahan gosip bagi mereka.
Sinta hanya tersenyum dan meminta Samuel memesan makanan. Tak berapa lama datanglah pesanan mereka. Samuel dan Sinta menikmati makanan yang ada dan sesekali mereka mencuri pandang lagi. Setiap mereka beradu pandang mereka saling tersenyum malu-malu.
Mereka berjalan santai diantara bunga-bunga di taman hotel. Lalu Samuel mengajak Sinta duduk di bangku dekat taman.
"Malam yang cerah ya. Coba lihat ke langit. Bulan dan bintang sama-sama bersinar terang. Mereka saling menemani satu sama lain. Sebenarnya aku juga ingin seperti itu dengan kamu, Sinta," ucap Samuel sedikit merayu.
Sinta ikut melihat ke langit malam. Indah dan terlihat bulan dan bintang. Tapi saat mendengar ucapan terakhir Samuel, Sinta jadi melayang dan merasa tersanjung.
"Apaan sih," gumam Sinta malu.
__ADS_1
Samuel merasa Sinta sudah jauh berubah. Dia sekarang memiliki rasa malu-malu yang dulu tidak pernah sama sekali terlihat olehnya. Dia sibuk mengejar Zaka dan Samuel sibuk mengejar Sinta. Ini seolah menjadi cinta segitiga diantara mereka.
Pasti dia sudah menyerah dan lelah mengejar cinta Zaka seperti dirinya yang lelah mengejar cintanya.
"Sinta, boleh tanya sesuatu hal pribadi?" tanya Samuel.
"Boleh, memang mau tanya apa?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Zaka, apakah sudah ada kemajuan? Maaf, aku tidak bisa lagi membantumu," kata Samuel agak ragu.
"Aku sudah menyerah. Meski Zena pergi dan sudah memberinya luka, Zaka masih saja mencintainya dan mengejarnya ke kota A untuk mencarinya. Cinta Zaka terlalu dalam, aku tidak bisa mengambilnya," jawab Sinta agak sedih.
"Oh...maafkan aku yang terlalu ingin tahu urusan pribadimu. Lalu apa rencanamu sekarang?
######
Bersambung...
__ADS_1