
Maya pulang sambil menangis membuat Zena kaget. Ide kemarin yang dia berikan apakah sudah dikerjakannya dan dia ... ditolak.
Zena merasa bersalah sudah membuat Maya patah hati. Zena berusaha mendekati Maya untuk meminta maaf.
" Maya, aku minta maaf udah memberi solusi yang malah membuat kamu sedih," kata Zena pelan.
" Tidak Zena, mungkin lebih baik memang seperti ini. Jadi aku tahu kalau dia tidak menyukaiku. Aku ingin pulang saja dan menerima pilihan orang tuaku," kata Maya sambil menangis.
" Maya, kamu pikirkan lagi," kata Zena.
" Zena, jika kamu adalah aku apa yang akan kamu lakukan?" tanya Maya.
Zena terdiam.
" Kenapa kamu diam?" tanya Maya.
" Mungkin aku akan menerima pilihan orangtuaku. Jika melarikan diri justru akan bertemu banyak orang-orang yang lebih jahat dan menjadikan kita jahat pula," kata Zena.
" Zena, aku ikuti kamu," kata Maya.
" Maksudmu?!" tanya Zena.
" Aku akan menerima seperti kamu," kata Maya.
" Aku... besok aku pulang," kata Maya.
Zena tak dapat berkata-kata lagi. Semua seolah sudah digariskan oleh Tuhan. Baik dirinya maupun Maya tidak sanggup berlari dan menghindarinya.
***
Esoknya Maya benar-benar pulang ke rumah orangtuanya. Dan rumah nenek kembali sepi.
Pagi ini, Zaka menghubungi Zena dan memintanya untuk bersiap. Siang ini orang tua Zaka ingin bertemu Zena. Zena menjadi panik, bukan masalah penampilan akan tetapi jawaban apa yang harus dia berikan atas pertanyaan dari orang tua Zaka agar jawaban dia dan Zaka bisa sama. Sedangkan dia tidak tahu apa-apa tentang Zaka.
Sampai di kantor, Ternyata Zaka sudah datang lebih pagi dari Zena. Zaka bermaksud memberikan pelatihan sederhana untuk Zena. Zaka membuka pintu kantornya dan memberi isyarat pada Zena untuk ke ruangannya.
" Duduklah. Sebelum menemui orangtuaku, ada baiknya kita berlatih membangun chemistry agar tidak terlihat canggung nantinya," kata Zaka.
" Apa, harus latihan. Yang aku butuhkan adalah jawaban apa yang harus dicocokkan, agar tidak berbeda diantara pak Zaka dan saya," kata Zena.
" Kenapa mesti bingung, jawab saja sesuai kenyataan. Kamu kerja sebagai asistenku dan seperti itulah. Ngerti kan. Asal jangan sebut kita pura-pura pacaran saja," kata Zaka.
__ADS_1
" Baiklah...Saya ngerti," jawab Zena.
" Satu lagi, bicaramu jangan terlalu formal. Jangan saya atau kamu. Dan kita harus punya nama panggilan yang terlihat mesra," kata Zaka.
" Ternyata pak Zaka lebih berpengalaman dari yang saya duga," gumam Zena.
" Apa kamu ada ide nama panggilan yang bagus?" tanya Zaka.
" Sayang atau 'yang' juga bisa," jawab Zena.
" Boleh saja, walaupun itu sepertinya biasa saja. Banyak yang menggunakan. Apa benar tidak perlu berlatih lagi?" kata Zaka.
" Tidak perlu. Pak Zaka tidak perlu khawatir, saya akan berakting sebaik mungkin sebagai pasangan pak Zaka. Sesuai situasi kan?" tanya Zena.
Zaka hanya tersenyum disudut bibirnya saklja seolah meremehkan akting Zena. Zena yang merasa Zaka masih meragukannya, dia segera berdiri dan memutar tempat duduk Zaka hingga mereka berhadap-hadapan. Kedua tangan Zena memegang kursi yang diduduki Zaka.
Zena menatap tajam mata Zaka yang gugup karena tidak menduga Zena akan melakukan itu. Setelah itu Wajah Zena berubah lembut dan tersenyum menggoda.
" Sayang, apakah harus bersikap seperti ini?" tanya Zena sambil menggenggam tangan Zaka.
Jantung Zaka berdetak kencang dan hatinya berdebar. Sungguh, sentuhan gadis ini telah membuat seluruh tubuhnya seperti ada aliran listrik yang mengalir melewati aliran darahnya.
***
Didalam mobil, Zena tampak tegang dan gelisah karena ini pertama kalinya dia bertemu calon mertuanya walaupun hanya pura-pura.
Zena menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan-lahan lewat mulutnya. Ternyata ini bisa membantu mengurangi perasaan tegang dan gelisah dalam dirinya.
Setelah sampai di restauran, Zaka memarkir mobilnya dengan perasaan gelisah. Meskipun semua sudah dia rencanakan dengan baik, tapi Zaka masih belum bisa percaya Zena bisa melakukan tugasnya dengan baik pula.
Zaka turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zena. Zaka memberi isyarat pada Zena untuk menggandeng tangannya. Zena merasa agak canggung, tapi jika seperti ini pasti lebih cepat ketahuan jika mereka berbohong.
Zena menggandeng tangan Zaka dengan mesra dan tersenyum manis. Zaka juga ikutan tersenyum melihat Zena berusaha romantis.
" Ayah, ibu. Zaka sudah datang sesuai janji Zaka," kata Zaka saat sampai di hadapan ayah dan ibunya.
" Selamat siang om dan Tante," sapa Zena.
Ayah dan ibu Zaka saling berpandangan dan tersenyum melihat kekasih anaknya begitu cantik dan terlihat anak orang kaya.
" Selamat siang. Silahkan duduk. Siapa nama kamu?" tanya ibunya Zaka ramah.
__ADS_1
" Zena Tante. Tante cantik sekali dan tampak muda, pasti rutin melakukan perawatan kecantikan. Zena jadi iri sama tante," kata Zena dengan manis.
" Ah... Kamu bisa aja, Zena. Tante jadi malu," kata ibunya Zaka malu.
Zaka dan ayahnya hanya tersenyum mendengar ucapan Zena. Zaka senang melihat ibunya juga menyukai Zena.
" Jangan memujinya seperti itu, nanti sampai rumah, dia pasti langsung melihat cermin," kata ayahnya Zaka sambil tertawa.
" Kamu kerja atau masih kuliah?" tanya ibu Zaka.
" Saya bekerja sebagai asistennya pak Zaka. Maksud saya asisten Zaka," jawab Zena agak gugup.
" Asisten Zaka. Berarti kalian belum lama kenal. Karena setahuku Zaka dulu tidak memakai asisten," kata ibu Zaka.
" Benar..." jawab Zena.
" Ibu, aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya. Sebelum jadi asistenku. Biasalah, strategi untuk mendekatinya, menjadikannya asisten. Dan begini hasilnya..." kata Zaka di sambut tawa ayah ibunya.
Zena hanya tersenyum tipis.
Makanan yang sudah dipesan, akhirnya datang. Zaka memberi isyarat pada Zena untuk lebih terlihat mesra padanya.
" Sayang, ini makanlah lebih banyak dan tidak perlu malu. Ayah dan ibuku lebih suka yang tidak terlalu pilih-pilih makanan," kata Zaka.
" Benar nak Zena. Apa kamu takut gemuk? Nanti kalau berat badan naik, biar Zaka mengajak kamu olahraga. Biar tambah romantis," kata ibunya.
" Iya," jawab Zena.
Zaka menyuapi Zena makanan dan Zena mengerti kode Zaka. Dia juga segera mengikuti perbuatan Zaka dan menyuapi Zaka dengan lebih mesra.
Ayah dan ibu Zaka merasa sangat senang dengan kemesraan Zaka dan Zena. Tapi hati Zena masih tidak tenang, dia ingin segera pergi dari tempat ini tanpa kecurigaan.
Selesai makan, Ayah dan ibu Zaka pamit untuk segera pulang dan meminta Zaka dan Zena untuk makan. Tapi ternyata mereka mengintai Zaka dan Zena merasa mereka ada yang aneh.
Zaka menyadari situasi itu dan dia langsung mendekati Zena dan mencium pipi Zena. Zena hampir saja memukul Zaka tapi Zaka segera memberitahu jika sejak tadi ayah dan ibu Zaka sedang mengawasi mereka.
" Dasar Zaka cari kesempatan," gumam Zena menahan marah.
Zaka berusaha membuat Zena mengerti.
" Bukankah sudah sesuai situasi?" tanya Zaka membuat Zena diam.
__ADS_1