
Bryan mengajak Zena kesebuah restauran di sebuah hotel milik sahabatnya yang ingin dia kenalkan padanya. Zena melihat-lihat sekitar dengan hati senang.
"Tempat ini sangat bagus, sesuai seleraku," kata Zena teringat tempat kerjanya dulu di hotel Zaka.
"Benarkah? Kata temanku, kekasihnya dulu sangat menyukai dekorasi dan tata letak seperti ini. Sayang sekali,saat dia memutuskan untuk melamarnya, kekasihnya malah minta putus tanpa penjelasan apapun."
Zena agak familiar dengan cerita Bryan. Namun belum sempat Zena berpikir, seseorang sudah datang dan langsung memeluk Bryan.
"Apa kabar kawan. Makin ganteng aja," kata orang itu.
"Baik-baik. Kamu sendiri, kelihatannya sudah move on dari mantan," canda Bryan.
"Belum. Kenalkan dong calon istrimu padaku."
"Tenang saja. Aku sudah bawa dia untuk khusus bertemu kamu. Ini dia..."
Zena terkejut melihat siapa sahabat Bryan. Dia adalah Zaka. Demikian juga dengan Zaka,dia tak kalah terkejutnya seperti Zena. Mereka berdua sama-sama berusaha menyembunyikan bahwa mereka sudah saling kenal. Dan bahwa mantan kekasih Zaka adalah Zena.
"Zaka."
"Zena."
Zaka dan Zena saling berjabat tangan. Zaka yang sudah sangat merindukan Zena serasa tidak ingin melepaskan tangannya. Zena merasa canggung karena Zaka terus saja menatap wajahnya dan seolah tidak ingin melepaskan tangannya. Bryan yang melihat hal itu, langsung melepaskan tangan mereka.
"Zaka, jangan coba-coba membuat aku cemburu. Pasti Zena tidak secantik mantanmu," kata Bryan pada Zaka.
"Sama cantiknya, aku paling nggak bisa tahan sama lembut bibirnya," kata Zaka sambil melihat kearah Zena.
"Dasar mesum. Zee ngga usah dengerin dia. Sejak ditinggal ceweknya, otaknya rada miring. Setiap ada cewek cantik yang dikira mantan ceweknya," kata Bryan sambil tertawa.
"Mbak Zee ya, kapan kenal Bryan. Maksudku kapan pertama kali kalian bertemu? Aku penasaran kok cepet amat langsung mau nikah."
Zena tampak bingung mau menjawab apa. Hal itu membuat Bryan membantu Zena untuk menjawab pertanyaan Zaka.
"Biar aku yang bantu jawab. Ehm...Kita baru ketemu dua Minggu yang lalu. Dia penyelamatku saat aku mengalami kecelakaan motor. Aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama," jawab Bryan.
"Benar-benar calon suami ideal membantu calon istrinya menjawab. Aku hanya ingin tahu, kapan mbak Zee jatuh cinta pada temen saya yang tampan ini?!" tanya Zaka mencoba mencari tahu perasaan Zee.
__ADS_1
"Sama. Saat aku menolongnya," jawab Zena gugup.
"Setahuku, kalian dijodohkan. Tapi syukurlah jika kalian sama-sama saling jatuh cinta," kata Zaka memendam kekesalan karena wanita yang dicintainya lebih memilih sahabatnya.
"Itu hanya kebetulan saja atau bisa di bilang takdir juga. Kami saling jatuh cinta sebelum kami tahu dijodohkan," kata Bryan sambil tersenyum kearah Zena.
"Selamat untuk hubungan kalian. Semoga kalian selalu bahagia. Bersulang untuk kalian," kata Zaka berat.
"Terimakasih sobat. Semoga kamu segera bisa menemukan mantan kamu dan bisa balikkan lagi."
"Semoga dia tahu aku masih sangat mencintainya."
Zena hanya diam dan tidak banyak berkata-kata. Dia sudah tidak bisa lagi berpikir dan pikirannya kacau balau.
Zaka, kenapa kamu harus muncul saat aku sudah mulai bisa melepaskan masa lalu.
Zena menarik nafas berat, dadanya terasa sesak seolah terhimpit beban berat.
***
Pertemuan dengan zaka, membuat Zena bingung. Apakah dia harus jujur pada Bryan tentang masa lalunya. Wanita yang telah meninggalkan sahabatnya, dan membuat Zaka patah hati adalah dirinya.
Lamunannya terhenti, ketika ponselnya berdering. Tak ada nama, hanya sebuah nomor yang tidak dikenalnya. Tapi rasa penasarannya membuatnya mengangkat penggilan tersebut.
"Hallo, Zee. Apa kabar?" terdengar suara laki-laki yang rasanya tidak asing.
"Hallo, kamu siapa?" jawab Zena penasaran. "Kamu ternyata sudah benar-benar melupakan aku. Ini Zaka... sekarang ingat padaku?" tanya Zaka sedih.
"Untuk apa kamu menghubungi aku? Darimana kamu tahu nomor teleponku?" tanya Zena kesal.
"Tentu saja dari tunangan kamu, Bryan. Apakah dia tahu kita pernah pacaran? Tapi aku rasa belum. Kenapa kamu tidak memberitahu masa lalumu padanya? Kamu tidak berani, atau aku saja yang akan mengatakan padanya." tanya Zaka seolah mengancam Zena.
"Tunggu Zaka, mungkin kita perlu bicara."
"Baik datanglah ke hotelku nanti sore. Aku juga memiliki banyak pertanyaan yang harus kamu jawab. Kalau begitu sampai jumpa besok," kata Zaka lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Zena kesal dengan ulah Zaka yang seolah mengancamnya. Mengapa sudah cukup lama Zaka masih saja mencarinya.
__ADS_1
***
Sore harinya, Zena datang ke hotel milik Zaka. Meski dengan hati cemas dan khawatir bahwa Bryan akan mengetahui kebenaran tentang hubungan Zaka dan Zena. Akan tetapi bukankah itu adalah masa lalu yang tidak ingin Zena ingat.
"Mau bertemu siapa nona?" tanya resepsionis hotel dengan ramah.
"Saya ingin bertemu Presdir hotel ini."
"Maksud nona, pak Zaka? Apakah nona yang bernama Zena?" tanya resepsionis lagi.
"Benar."
"Kalau begitu, silahkan nona langsung keruang pak Zaka disebelah sana. Pak Zaka sudah menunggu."
"Terimakasih," jawab Zena pelan.
Zena berjalan perlahan menuju ruang Presdir untuk menemui Zaka. Sesampai didepan pintu Zena berhenti sejenak untuk menata hatinya agar tidak gugup. Setelah beberapa saat, Zena mengetuk pintu ruang Presdir pelan namun cukup didengar oleh Zaka.
"Masuk," suara Zaka terdengar lembut.
Zena membuka pintu dan disana duduk Presdir dingin yang pernah dikenalnya, Zaka. Zaka tampak berwajah dingin seperti saat pertama Zena mengenalnya. Sorot mata tajam dan bengis itulah yang
"Duduklah," kata Zaka dingin.
"Terimakasih."
Zena duduk dihadapan Zaka dan berusaha untuk tidak gugup. Namun tetap saja Zena tidak bisa sepenuhnya menghilangkannya.
"Kamu duluan lah yang bicara, karena kamu yang pertama minta bertemu," kata Zaka masih dengan nada dingin.
"Baiklah. Aku minta kamu untuk tidak memberitahukan pada Bryan bahwa kita saling kenal sebelumnya. Aku akan mencari waktu untuk memberitahunya sendiri," kata Zena setengah memohon.
"Kamu yakin akan memberitahu Bryan tentang hubungan kita? Walaupun itu sudah berlalu, tapi Bryan tahu aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Apakah kau tidak khawatir jika dia kecewa denganmu?" tanya Zaka dengan sikap dingin tapi sok perhatian.
"Itu adalah urusanmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Baik, aku tidak akan memberitahu Bryan. Sekarang giliran aku yang akan bertanya padamu." Zaka diam sesaat sambil menatap Zena. "Mengapa kamu meninggalkan aku dengan cara seperti itu, cara yang sangat menyakitiku?!"
__ADS_1
Zaka akan mendengar jawaban Zena di episode selanjutnya.