
Bryan dan Zena akhirnya pergi ke dokter. Dokter mengatakan bahwa Zee saat ini sedang hamil enam Minggu. Tentu saja hal itu membuat Bryan sangat bahagia dan dia langsung memeluk istrinya.
Namun Zena tidak tampak senang dengan berita kehamilannya. Bryan menyadari jika sang istri kurang suka atas kehamilannya. Dia memberanikan diri bertanya pada Zena ketika sudah sampai di rumah. Selama perjalanan pulang, tidak terlihat senyum manis Zena yang selalu tersirat di bibirnya saat melihatnya.
"Zee, kamu kenapa? Sepertinya kamu tidak begitu suka dengan kehamilanmu?" tanya Bryan lembut.
"Aku senang. Tapi saat nanti aku hamil, badanku akan tampak gendut dan tidak menarik lagi. Setahuku, laki-laki paling benci tubuh gendut dan tidak seksi. Apa nanti mas Bryan benci lihat aku jelek," ucap Zena kesal.
Mungkin karena dulu saat penampilannya jelek, semua orang, terutama laki-laki pada jijik melihat dia.
"Zee sayang. Orang hamil itu seksi menurutku. Apalagi yang hamil istriku yang cantik ini. Bagaimanapun kondisi kamu, mas tetep sayang dan cinta sama kamu."
"Janji ya mas, mas tidak akan menertawakan aku," kata Zena cemberut.
"Janji. Udah, jangan cemberut aja. Ayo, kita mandi bareng. Aku akan manjain kamu," goda Bryan.
"Nggak mau, mas aja mandi duluan. Aku masih mau berusaha menerima semua ini," jawab Zena sedih.
"Zee, jangan sedih gitu. Sini mas peluk," kata Bryan.
Zee memang tidak terlalu senang dengan kehamilannya, namun setelah suaminya memberinya pengertian dan dukungan, Zena akhirnya merasa senang dan tidak lagi bersedih. Apalagi sang suami sudah berjanji tidak akan pernah berpaling saat perutnya membesar.
Zena mulai menikmati sebagai calon ibu muda dan Bryan mencoba memberi kenyamanan pada istrinya agar selalu merasa diperhatikan.
"Zee, Aku berhutang bulan madu padamu. Tapi kamu sudah hamil dan aku tidak ingin membuatmu kelelahan."
"Mas, tidak apa-apa. Lagipula di rumah juga sudah seperti bulan madu, tidak ada pengganngu. Hanya beda suasana saja," ucap Zena.
__ADS_1
"Tidak samalah Zee. Minggu depan, aku ambil cuti tiga hari. Kita pergi ke Bali, bagaimana?" tanya Bryan sambil tersenyum.
"Terserah mas saja. Mas, bolehkah setelah melahirkan aku bekerja?" tanya Zee pelan pada suaminya.
Pertanyaaan yang membuat Bryan terdiam. Melihat reaksi suaminya, Zee hanya bisa menduga-duga. Tetapi kali ini dia ingin memastikan jawaban dari suaminya.
"Mas, kenapa mas diam saja. Apa keinginanku ini terlalu berlebihan?" tanya Zena lagi.
"Tidak Zee, bukan begitu. Apa sebaiknya dibicarakan setelah anak kita lahir saja?" tanya Bryan.
"Nggak mau. Aku mau jawabannya sekarang mas."
"Iya iya. Jangan ngambek. Kayak lagi ngidam aja istriku sayang."
"Makanya jawab sekarang ya?!" kata Zee tambah manja
"Tentu mas, semua itu akan jadi prioritas ku. Mas tidak perlu khawatir."
Terlihat senyum manis Zena saat keinginannya untuk bekerja dikabulkan suaminya. Bryan juga turut senang walau dalam hatinya dia berharap Zena akan menjadi ratu di rumahnya tanpa harus bersusah payah. Zena cukup menyambutnya dengan senyuman saat dia pulang bekerja.
Namun ternyata Zena memiliki keinginan lain yang lebih membuat hatinya bahagia dan sebagai suami, Bryan menghargai keinginan sang istri.
*******
Malam sudah semakin larut dan entah kenapa Zena sulit untuk memejamkan mata. Matanya seolah tidak ingin berkompromi dengan keadaannya yang harus banyak istirahat. Sementara Bryan terbangun dari tidurnya dan dia cemas karena tidak mendapati istrinya disampingnya.
Bryan bergegas keluar, mungkin dia lapar. Dan benar saja, Zena tampak asyik makan mi. Bryan tersenyum sambil mendekati Zena.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkan aku jika lapar. Aku bisa membuatkan kamu makanan bergizi, jangan kebanyakan makan makanan instan," kata Bryan sambil duduk di dekat istrinya.
"Mas tadi tidurnya pules banget. Aku takut membangunkan mas Bryan. Lagipula aku ingin makan mi," jawab Zena sambil terus makan.
"Ya udah, dilanjut saja makannya. Aku temani dari pada dikamar sendirian."
Zena tersenyum dan mengabiskan satu mangkuk mi instan buatannya. Perutnya terasa kenyang dan rasa kantung mulai datang.
"Udah selesai makannya? Tapi tuh lihat ada mi yang nempel di pojok bibir kamu," kata Bryan sambil memegang wajah Zee.
"Benarkah?"
Bryan tersenyum sambil mengangguk. Tiba-tiba bibir suaminya dengan cepat mengambil sisa mi yang ada di pojok bibir Zena. Mata Zena membulat lebar mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Zena ikut memprovokasi suaminya dengan membalas ciuman itu yang akhirnya malah menjadi gairah malam.
Bryan melepaskan ciumannya dan menggendong tubuh istrinya sambil memandangi wajah istrinya yang tersenyum menggodanya. Sementara mangkuk bekas mi yang dimakan Zena masih berantakan diatas meja makan.
Setelah sampai didalam kamar, Bryan merebahkan tubuh istrinya dengan lembut. Dia takut terjadi apa-apa dengan bayi yang Zena kandung, makanya dia memperlakukan Zena lebih lembut daripada waktu-waktu sebelumnya.
Bryan mulai mencumbui istrinya, dan menaikkan hasrat sang istri. Bryan ingin memuaskan istrinya meski sekarang dia sedang hamil. Demikian juga Zena, ingin memuaskan sang suami meski dirinya sedang hamil. Zena masih bisa melakukan gerakan-gerakan kecil yang bisa memacu birahi suaminya.
Pernikahan memang bukan hanya terbatas pada hubungan intim suami istri. Akan tetapi kepuasan saat berhubungan intim juga menjadi salah satu rahasia awet dalam berumah tangga. Jadi kedua belah pihak harus bisa memuaskan gairah pasangannya agar tidak mencari kepuasan di luar.
Terkadang pemicu perselingkuhan adalah ketika tidak merasa puas dengan pasangan.
Kisah Zena dan Bryan berakhir bahagia.
End
__ADS_1