Cinta Zena

Cinta Zena
Bertemu ayah dan ibu


__ADS_3

Suasana tegang antara Zaka dan Zaedan membuat Zena bingung. Tidak mungkin membiarkan keributan ini berlanjut. Zena meraih tangan Zaedan dan membawanya pergi meninggalkan Zaka yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan.


Zena sudah tidak peduli dengan perasaan Zaka saat ini. Entah itu sedih, kecewa, marah atau bahkan mulai membencinya. Semua itu sudah tidak ada artinya lagi. Zena hanya tahu saatnya pergi sudah tiba.


Zaka tidak patah semangat, dia berlari mengejar Zena dan Zaedan untuk mendapatkan penjelasan seperti yang dia inginkan. Langkahnya terhenti ketika secara tiba-tiba muncul 2 orang dengan tampang tegap menghadangnya.


Ternyata mereka adalah orang-orang suruhan ayah Zena yang khusus untuk menjemput Zena. Zaka tak bisa lagi berbuat apa-apa selain melihat kepergian Zena dengan hati yang hancur berkeping-keping.


Beribu pertanyaan yang tidak terjawab bermain di pikirannya yang semakin membuatnya terpuruk. Zena, gadis yang dicintainya ternyata memiliki beberapa wajah dan karakter yang berbeda. Dan Zaka sama sekali tidak bisa mengenalinya, entah yang mana yang asli.


***


Zena, mencoba melepaskan semua beban yang terasa sesak di dadanya. Matanya terasa basah oleh airmata yang tiba-tiba menetes pelan di pipinya yang halus. Tidak ada yang harus disesali dari semua yang terjadi padanya, sejak meninggalkan rumah hingga kini dia akan kembali.


Semua seperti mimpi buruk yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Orang-orang yang dia kenal mungkin tidak akan bertemu kembali dimasa depan.


Sebelum berangkat, Zena berpamitan pada nenek Warti yang ternyata juga adalah bagian dari orang-orang suruhan ayahnya. Ternyata selama ini meskipun Zena merasa telah jauh meninggalkan rumah, tapi tetap saja dia tidak bisa lepas dari pengawasan ayahnya.


Nenek Warti meminta maaf pada Zena karena tidak berterus-terang tentang siapa dirinya. Semua karena rasa khawatir yang berlebihan dari orangtua Zena karena Zena selama ini tidak pernah hidup di luar rumah dan hidup kesusahan.


Tidak lupa, dia juga pamit pada Maya dan Dodi yang sebentar lagi akan menikah. Zena minta maaf mungkin Zena tidak akan bisa hadir di acara pernikahan mereka. Zena dan Maya berpelukan erat sebelum Zena akhirnya melangkah pergi meninggalkan semua hal yang terjadi di kota B.


Mobil mewah Zena melaju kencang dijalanan yang agak sepi. Sebentar lagi Zena akan kembali menjadi anak kesayangan ayah ibunya. Untuk bisa kembali, Zena harus bisa melupakan semua yang menjadi masa lalunya di kota B. Menatap masa depan baru tanpa Zaka, Sinta, Samuel, dan rekan-rekan kerjanya dulu. Selamat tinggal masa lalu.


Zena dan Zaedan memilih naik pesawat agar lebih cepat sampai di rumah Zena sedangkan mobilnya dibawa orang-orang bawahan ayahnya.


Ketika sampai di rumah, ayah Zena sudah bersiap dengan sorot matanya yang tajam. Sedangkan sang ibu menantinya dengan penuh rasa rindu. Zena masuk dengan hati cemas dan khawatir, kedua orangtuanya akan menjadikannya berada dalam ruang sidang sebagai tersangka.

__ADS_1


Langkahnya terasa berat dan tidak ada siapapun yang bisa membantunya Zena duduk tepat di depan ayah dan ibunya.


"Selamat datang, putriku," kata ayah Zena membuat Zena kaget.


Beliau tidak marah bahkan tampak senyum yang merekah di wajah yang sudah tidak muda lagi.


"Zena, bagaimana kabarmu sayang. Ibu kangen banget sama kamu. Sini peluk ibu," ucap ibunya sambil mengangkat kedua tangannya menunggu Zena memeluknya.


"Ibu," Zena berdiri dan segera memeluk ibunya.


Dia tak kuasa menahan air matanya yang mengalir deras di pipinya. Ibu dan anak itu melepas kangen karena lama mereka tidak bertemu. Hampir 5 bulan.


"Sudah puas melepas kangen? sekarang giliran ayah." kata ayah Zena ambil tersenyum.


Zena melepaskan pelukannya lalu berganti memeluk sang ayah. setelah selesai melepas kangen, ayah dan ibu Zena kembali tampak serius. Zena menarik nafas dalam-dalam.


"Terimakasih ayah, ayah tidak marah pada Zena," kata Zena pelan.


"Ayah tidak akan marah kepada anak ayah, karena ayah berharap kamu akan melupakan semua yang terjadi selama kamu pergi. Jangan mengingat hal yang hanya akan membuatmu sedih," kata ayah Juna lagi.


"Betul Zena. Anggap saja semua itu tidak pernah terjadi. Ibu tidak mau kamu trauma dengan kejadian di luar sana tanpa ayah dan ibu," tambah ibu Mina.


"Iya ayah, ibu. Zena akan melupakan semuanya. Zena tidak akan kembali ke kota B lagi dan tidak akan bertemu mereka," kata Zena sambil menghela nafas panjang.


"Mulai sekarang, berbahagialah hidup sebagai putri ayah dan ibu. Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi. Apa yang ayah lakukan, juga adalah untuk kebaikanmu," kata ayah Juna.


"Zena, diluar sana banyak orang-orang jahat. Ibu takut kamu bertemu mereka," ucap ibu Mina sedih.

__ADS_1


"Ibu, Zena memang bertemu mereka, tapi Zena senang sekarang Zena tidak akan pernah bertemu mereka lagi. Jadi ibu tidak perlu khawatir," kata Zena menenangkan ibunya.


"Ya sudah. Masuk dan bersihkan badanmu. Kamu pasti sudah kangen kamarmu kan? Kamarmu masih sama seperti sebelum kamu pergi," kata ibunya sambil melihat tubuh putrinya yang tampak bertambah kurus.


"Zena mandi dulu, ayah ibu," kata Zena sambil berlalu pergi.


Zena melangkah pelan menuju kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan. Saat pintu kamar terbuka, semua terlihat masih sama seperti dulu. Zena sangat kangen sekali dengan ranjang hangat di kamarnya. Bau harum ruangan yang paling dia sukai mulai terasa membuatnya nyaman.


" Memang lebih nyaman tinggal dirumahnya sendiri," gumamnya dalam hati.


Zena bergegas mandi dan setelah itu dia melihat lemari pakaiannya yang penuh. Berbagai model baju kesukaannya yang kini akan bisa dia pakai kembali. Dia hari ini ingin memakai pakaian santai, kaos dan celana pendek saja sudah cukup.


Tiba-tiba dering ponsel berbunyi memecah keheningan kamar Zena. Sudah lama tidak punya ponsel. Zena mencari arah suara, ternyata ponsel miliknya dulu masih dijaga oleh ayah dan ibunya. Ponsel yang dulu pernah disita mereka, masih terlihat bagus di atas meja riasnya. Zena segera melihat siapa yang menghubunginya, padahal dia baru saja kembali. Disitu tertulis, Mery.


Zena hampir melupakan teman-temannya setelah beberapa bulan pergi. Mery adalah sahabat karibnya yang sudah seperti saudara baginya.


"Hey Zee, apa kabar?! kau sudah kembali?!" tanya Mery.


"Hey Mery, baik. Kamu juga apa kabar?!"


"Baik juga. Tapi kamu jahat Zee, kamu sudah melupakan aku," kata Mery kesal.


"Bukan begitu Mery, aku hanya mengalami banyak hal yang tidak pernah aku bayangkan sama sekali. Tapi sekarang aku sudah kembali," kata Zena.


"Okey, besok sore kita ketemuan ditempat biasa, jangan telat seperti biasanya," kata Mery.


"Okey, Sampai jumpa besok ya, bye-bye," kata Zena kemudian menutup panggilan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2