
Sejak pertemuan dengan orangtua Zaka, hubungan Zaka dan Zena mulai dekat. Walaupun selama di kantor, Zaka dan Zena tetap bersikap biasa saja.
Akhir pekan, mereka melakukan kencan agar tidak membuat orangtua Zaka curiga. Mereka pergi nonton film dan pergi ke taman bermain. Mereka menikmati semua ini seolah mereka benar-benar sedang pacaran.
Kedekatan Zaka dan Zena membuat Sinta marah dan cemburu. Sinta menemui Samuel untuk meminta penjelasan.
"Samuel, bagaimana hubunganmu dengan Zena? Kenapa malah mereka semakin dekat dan kamu, apa yang kamu lakukan? Kamu di sini diam saja tak melakukan apapun," tanya Sinta sambil marah-marah.
"Aku rasa, aku tidak bisa membantumu lagi," kata Samuel.
"Kenapa?" tanya Sinta.
"Sinta, entah kenapa aku merasa bersalah pada Zena. Apa salahnya mencintai seseorang? Seperti kamu mencintai Zaka dan aku yang selalu mencintai kamu," kata Samuel.
"Tapi, bukankah kemarin kamu bersedia membantuku menjauhkan Zaka dari Zena? Kenapa bisa berubah?" tanya Sinta.
"Karena aku juga tidak bisa memaksakan Zena mencintai aku seperti aku juga tidak bisa memaksamu mencintai aku," jawab Samuel sedih.
"Jadi kamu menyerah begitu saja? Samuel kamu itu harapan aku satu-satunya. Hanya kamu yang bisa membantuku,” kata Sinta penuh harap.
Tapi Samuel hanya menghela nafas. Hatinya berkecamuk antara kasihan dan kesal. Bagaimana tidak, wanita yang dia cintai memintanya untuk membantunya mengejar pria lain. Bahkan kini memintanya menghancurkan saingan cintanya.
"Sinta, aku benar-benar menyerah. Menyerah membantumu dan juga menyerah mencintaimu. Akhirnya, aku ikhlas melepaskan dirimu. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi," kata Samuel lega.
Samuel telah mengucapkan apa yang seharusnya sejak lama dia katakan pada Sinta.
Sinta tampak lesu mendengarkan ucapan Samuel. Kini tidak ada yang mendukungnya lagi. Namun semangatnya berjuang untuk mendapatkan Zaka, tak pernah padam.
"Samuel, kalau memang itu yang kamu inginkan, aku tak akan mempersulit mu. Aku akan tetap berjuang sendiri tanpamu," kata Sinta kesal.
Kini Sinta dan Samuel menjalani hidup masing-masing. Tidak saling menggangu.
***
Samuel sengaja pergi menemui Zena saat jam pulang kerja. Zena sempat kaget melihat Samuel seperti orang yang patah hati.
"Zena, apa kabar?" sapa Samuel sambil tersenyum.
"Baik, kamu sendiri kenapa seperti abis patah hati?" tanya Zena.
" Benar aku sedang patah hati. Zena, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," kata Samuel serius.
"Katakan saja, aku akan mendengarkan," kata Zena.
__ADS_1
"Sebelumnya aku minta maaf," kata Samuel.
"Oke, dimaafin," kata Zena sambil senyum.
"Aku mendekati kamu, karena aku memiliki tujuan lain," kata Samuel ragu.
"Terus..." kata Zena mengganggu.
"Ada yang tidak suka kamu dan Zaka dekat. Dan dia memintaku menjauhkan kamu darinya," kata Samuel sambil menunduk.
"Terus apa lagi. Apa masih ada yang kamu sembunyikan?" tanya Zena.
"Aku menyesal telah melakukan ini padamu. Dan pernyataan cinta yang..." kata Samuel malu pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, aku lihat kamu benar-benar menyesal. Jadi aku tidak akan mempersoalkannya lagi," kata Zena.
"Kamu tidak ingin tahu siapa yang menyuruhku?" tanya Samuel.
"Aku sudah tahu siapa yang tidak suka hubunganku dengan Zaka. Pasti dia kan?" tanya Zena.
"Benar. Aku dulu sangat mencintainya, tapi entah sejak kapan, aku mulai menyadari bahwa cinta ini tidak pernah ada harganya dimatanya. Dan aku mulai jatuh cinta pada orang lain," kata Samuel.
"Kok bisa. Bukankah dia cinta pertamamu?" tanya Zena.
"Samuel, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu," kata Zena.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Sejak mengenalmu, aku mulai kagum dan simpati padamu. Jika terus seperti ini, aku pasti akan jatuh cinta padamu" kata Samuel sambil tersenyum.
"Jangan, jangan jatuh cinta padaku. Kamu tidak tahu sisi gelap hidupku. Jangan sampai menyesal nanti," kata Zena panik.
"Kenapa kamu panik, mendengar perkataan ku? Bukankah ada yang mencintai itu anugerah?" tanya Samuel.
"Iya sih. Maaf..." kata Zena sambil memohon.
"Aku mengerti. Kamu sekarang pacaran sama Zaka kan? Jadi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan lagi mengganggu hubungan kalian," kata Samuel tenang.
"Terimakasih Samuel," kata Zena.
Zena berharap Samuel bisa menemukan wanita yang baik yang bisa mencintai dan dicintainya.
***
Hari itu Zena sengaja mendatangi Dodi ketika jam pulang kerja. Zena berniat membantu Maya untuk berbicara secar terbuka dengan Dodi.
__ADS_1
"Apakah kamu yang bernama Dodi?" tanya Zena ketika Dodi mendekat.
"Kamu siapa, kenapa mencariku?" tanya Dodi heran, karena Dodi memang belum kenal Zena.
"Aku Zena, sahabatnya Maya," kata Zena memperkenalkan diri."Bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu. Mari, silahkan duduk," kata Dodi sambil duduk.
"Terimakasih. Apa kamu tahu Maya akan dijodohkan?" tanya Zena yang di sambut anggukan oleh Dodi.
"Darimana kamu tahu, bukankah Maya tidak pernah bilang padamu?" tanya Zena lagi.
Dodi terdiam dan hanya bisa menunduk. Dia masih bingung apakah harus berterus terang atau tidak pada Zena sahabat Maya.
"Apakah Maya yang menyuruhmu menemuiku? Bagaiman keadaan dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Dodi.
"Sayangnya tidak. Setelah hari itu kamu menolaknya dan dia kembali ke rumah orangtuanya, kami sama sekali belum bertemu lagi. Saat dia pergi, keadaannya tidak baik. Sebenarnya hubungan kalian apa sih?!" tanya Zena penasaran.
"Kami hanya bersahabat," jawab Dodi.
"Tapi yang aku lihat tidak seperti itu. Kamu sangat mengkhawatirkan dia. Apakah kamu tidak ingin melihat keadaan dia sekarang?" tanya Zena.
" Aku tidak tahu."
"Ayo kita sama-sama melihatnya," ajak Zena.
"Tapi, aku tidak tahu apa yang akan aku katakan padanya. Pasti akan sangat canggung sekali," kata Dodi.
"Nanti kamu diam saja, biar aku yang bicara," kata Zena sambil menarik tangan Dodi.
Zena dan Dodi berjalan menuju tempat kerja Maya. Ternyata Maya memang belum pulang dan Zena segera menemuinya.
Zena mengajak Maya pulang bersama. Saat mereka sampai di depan tempat kerja Dodi, Dodi pura-pura baru akan pulang. Dan bertemulah mereka berdua.
"Maya kenapa pemuda itu melihatmu terus? Apa kamu kenal dia?" Tanya Zena pura-pura tidak kenal Dodi.
"Dia itu yang namanya Dodi. Ah...kenapa aku melihatnya," kata Maya panik.
"Dodi..." panggil Zena membuat Maya kaget.
"Zena, kenapa kamu panggil dia?!" kata Maya setengah berteriak.
" Sengaja..." kata Zena sambil tersenyum.
__ADS_1
Maya memukul bahu Zena pelan. Maya terlihat malu, walaupun Dodi pernah menolaknya tapi cinta tidak bisa segampang itu pergi. Maya juga tidak mungkin terus menghindari Dodi, karena itu bukan solusi jangka panjang.