Cinta Zena

Cinta Zena
Merawat Bryan


__ADS_3

Zee membuka pintu kamar rawat inap nomor 352 tempat korban yang ditolongnya kemarin. Di atas tempat tidur, pemuda itu terlihat sudah mulai membuka matanya ketika mendengar ada yang datang. Zee melangkah mendekatinya dan berusaha menyapanya.


"Hai, bagaimana keadaan kamu saat ini?" tanya Zena penuh perhatian.


"Aku memiliki nama, bukan hai."


Pemuda itu mengulurkan tangannya seolah Inging berkenalan. Zena membalas menjabat tangannya.


"Bryan, Bryan Danamon," katanya sambil tersenyum.


"Zena, Zena Asara," jawab Zena pelan.


"Terimakasih sudah menolongku."


"Bagaimana kamu tahu aku yang menolongku? Kita baru saja bertemu," kata Zena kaget.


"Suster semalam bilang, kalau penyelamatku akan datang pagi ini. Aku hanya asal menebak, karena kamu yang pertama datang menjengukku," jawab Bryan sambil tersenyum.


"Oh begitu. Saya memang yang telah menolongku dan masih ada beberapa orang lagi. Tapi, mereka tidak bisa datang lagi karena sibuk."


"Sekali kali terimakasih."


"Iya, sama-sama. Sudah menghubungi keluargamu?" tanya Zena sambil meletakkan rantang bubur di atas meja.


"Semua keluargaku ada di luar negeri. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Lagipula sekarang aku baik-baik saja. Atau kamu takut aku merepotkan kamu?" tanya Bryan sambil memandang Zena sendu.


"Bukan begitu. Aku ini pengangguran, tidak ada kegiatan apapun selain bermain saja."


"Mau kerja?"


"Mau sih, tapi kerja apa? Aku tidak memiliki pengalaman kerja apa-apa. Siapa yang mau menerima?"


"Di Amerika aku ada bisnis kecil-kecilan, cocok untuk kamu," kata Bryan.


"Kayaknya kalau kerja di luar negeri, aku mkasih aja," kata Zena sambil mengambil bubur untuk Bryan.


"Kenapa? Kalau bukan kamu aku juga nggak bakal aku kasih tawaran."


"Tahu. Sekarang makan dulu, nanti harus minum obat," kata Zena sambil menyuapi Bryan.


Bryan menurut saja apa kata Zena. Dia menikmati dirawat gadis cantik seperti Zena. Rasanya dia malah tak ingin sembuh karena berharap Zena akan selalu datang menemaninya.


"Zena..."

__ADS_1


"Panggil Zee saja."


"Zee, apakah kamu juga sudah sarapan?"


"Belum, nanti aja."


"Tidak bisa gitu, kamu harus sarapan." Bryan mengambil ponselnya yang sudah ketemu semalam.


Tak lama, makanan datang. Rupanya dia memesan makanan online untuk Zee.


"Bryan, kenapa mesti pesan makanan. Aku juga bisa makan bubur ini kan."


"Kalau kamu tidak mau, buang saja ke tempat sampah. Gampang kan?!" kata Bryan agak kesal.


"Jangan dibuang, sudah terlanjur dibeli. Pikir gampang apa cari uang, susah tau?!" kata Zena sambil membuka makanan yang di pesan Bryan.


Zena makan sambil terus bergumam tak jelas. Dia berhenti ketika melihat Bryan terus memperhatikannya.


Selesai makan, Zena membereskan sisa-sisa makanan dan barang-barang yang tidak diperlukan untuk dibuang.


"Zee, aku mau ke kamar mandi, bagaimana ini?! Dari semalam aku belum ke kamar mandi sama sekali." teriak Bryan.


Zena kebingungan, tidak tahu harus bagaimana cara membantu Bryan ke kamar mandi. Zena segera memanggil suster untuk meminta bantuan. Tapi jawaban suster membuat Zena malu.


"Sus, tolong bantuannya. Pasien kamar 352 ingin ke kamar mandi," kata Zena agak merajuk.


"Tapi sus, saya bukan pacarnya. Tolonglah sus."


"Pacar lagi sakit masih jual mahal. Masih gengsi-gengsian. Aku banyak pekerjaan lain yang lebih penting. Urus saja masalah ke kamar mandi pacarmu. Kalau infusnya habis, nanti aku ke sana untuk menggantinya," kata suster sambil berlalu pergi membawa infus untuk pasien lain.


Zena terdiam sesaat dan dia menghela nafas berat. Dia tidak pernah merawat orang sakit di rumah sakit, rupanya harus menemaninya ke kamar mandi juga.


Zena masuk ke ruang perawatan Bryan dengan wajah lesu.


"Bagaimana, aku sudah tidak tahan lagi," kata Bryan setengah berteriak.


"Aku yang akan membantumu ke kamar mandi," jawab Zena tidak ikhlas.


Zena memegangi botol infus, lalu membantu memapah Bryan hingga ke kamar mandi. Setelah sampai dikamar mandi, Zena menunggu di luar sambil tetap memegangi botol infus. Karena agak lama, Zena mulai gelisah.


"Bryan, sudah selesai apa belum?" teriak Zena.


"Bentar lagi Zee, tanggung."

__ADS_1


Zena menghela nafas kesal.


"Udah. Sudah boleh masuk," teriak Bryan.


Zena kembali membantu Bryan ke tempat tidurnya.


"Ah, lega sekali. Akhirnya, terimakasih ya Zee. Sudah susah payah merawat aku," kata Bryan sambil tersenyum.


Tak berapa lama suster yang tadi dimintai bantuan datang memeriksa kondisi pasien.


"Sudah pergi ke kamar mandi?" tanya suster pada Bryan.


"Sudah sus. Kan aku ada yang merawat," jawab Bryan pamer.


"Memang harus begitu, kewajiban seorang pacar ya harus bisa merawat pacarnya saat sakit. Ku doakan Kalian segera menikah, biar nggak malu-malu lagi," kata suster terlihat sambil tersenyum meski pake masker.


"Aamiin, terimakasih doanya sus," kata Bryan tanpa bantahan.


"Ada keluhan apa, pusing atau yang lain?!"


"Hanya masih agak pusing sedikit sus. Sama kakiku rasanya masih nyeri," jawab Bryan sambil memegangi kakinya.


Zena sejak tadi ingin bicara, tapi Bryan memberi kode agar Zena diam saja.


"Semua bagus. Nanti siang ada pemeriksaan dari dokter, jadi keluhannya akan ditanggapi. Nanti akan dijelaskan sekalian di berikan resep baru."


Suster bergegas pergi meninggalkan ruang 352 yang segera membuat Zee memprotes ucapan Bryan pada suster tadi.


"Bryan, kenapa kamu tidak membantah sama sekali? Harusnya tadi jujur saja," bentak Zee.


"Kenapa galak banget, hanya soal begitu saja udah marah. Kalau aku ngebantah omongannya, malah jadi rame. Kalau nurut aja kan dianya juga tenang, terus pergi," kata Bryan membenarkan tindakannya.


"Tapi, ada doa cepat nikah. Siapa yang mau cepat menikah?" tanya Zee.


"Hmm, kamu marah soal itu. Hanya doa, belum tentu terkabul kan? Jadi tenang saja, nggak usah dipikirin," kata Bryan sambil tertawa.


Zena kesal, akan tetapi mau bagaimana lagi. Mungkin yang dikatakan Bryan ada benarnya juga. Hanya doa, belum tentu terkabul. Zena hanya ingat bahwa tak lama lagi dia harus bertemu seseorang yang akan dijodohkan dengannya.


Pertemuan dua keluarga besar yang tidak mungkin bagi Zena untuk menghindarinya lagi karena janjinya pada ayahnya. Jelek atau baik dia harus bisa menerima. Namun Zena masih memikirkan cara untuk menghindari perjodohan itu.


Jika dia tidak bisa menolak, dia harus bisa membuat orang itu yang menolaknya. Otak Zena sulit untuk berpikir. Mungkin dia harus memikirkan serius agar berhasil dengan baik tanpa melibatkan orangtuanya.


"Zee..."

__ADS_1


Sebuah panggilan membuatnya kaget. Dia menatap Bryan yang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa melihat Zena melamun serta melihat Zena yang kaget karena panggilannya.


Zena memukul kaki Bryan pelan karena kesal Bryan menertawakannya. Hubungan yang tercipta hanya beberapa saat saja, membuat mereka dekat. Lebih dekat daripada sahabat yang kenal lama. Mereka merasa nyaman satu sama lain.


__ADS_2