
Semua karyawan kantor sudah pulang kecuali Zena dan Zaka. Zena harus menyelesaikan banyak tugas hari ini. Walaupun rasanya sudah capek, Zena tetap berusaha bertahan.
Saat Zena sedang sibuk, datanglah Zaka dengan segelas minuman.
" Minumlah dulu, kamu pasti haus kan?!" tanya Zaka.
Zena tidak menjawab pertanyaan Zaka tapi dia segera meraih minuman yang ada ditangan Zaka tanpa basa-basi. Zaka hanya tersenyum karena Zena tidak menolak minuman darinya. Zena minum tanpa melihat Zaka. Setelah minuman habis, diberikannya gelas kosong itu pada Zaka.
Zaka langsung pergi kembali ke ruangannya. Zaka tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan tentang ciuman kemarin. Dan akhirnya rencananya gagal untuk meminta maaf pada Zena.
***
Pagi akhir pekan memang terasa menyegarkan. Kali ini Zena tidak lari pagi melainkan pergi ke lapangan basket untuk berlatih basket. Tetapi ketika sampai di lapangan basket, Zena melihat seorang lelaki dengan postur tubuh yang mirip dengan sahabatnya, Zaedan. Tapi itu bukan dia.
Zena mendekati orang tersebut dan berniat untuk meminta izin berlatih di tempat itu.
" Permisi, bolehkah saya berlatih basket disini?" tanya Zena.
Lelaki itu menoleh ke arah Zena. Dia tampak masih muda sekitar 23 tahun.
" Silahkan saja. Atau bagaimana kalau kita berlatih bersama?" tanya pemuda itu.
" Boleh..."jawab Zena.
" Perkenalkan, namaku Samuel. Tinggal disekitar daerah sini," kata Samuel sambil mengulurkan tangannya.
" Aku Zena. Aku juga tinggal didekat sini," kata Zena sambil menjabat tangan Samuel.
" Baiklah, mari berlatih bersama," kata Samuel.
Zena dan Samuel mulai berlatih bersama. Mereka sama-sama hebat. Zena mendapatkan lawan yang seimbang. Mereka berlatih sambil bertanding selama hampir satu jam.
Setelah lelah mereka duduk di bangku di pinggir lapangan. Samuel memberi Zena sebotol air mineral yang baru. Zena menerimanya sambil berucap "Terimakasih" pada Samuel.
Zena minum dan teringat pada Zaka dan ciuman itu. Zena tertegun sesaat.
" Zena, bolehkah kita berteman?" tanya Samuel.
" Tentu saja. Kamu mulai sekarang kita adalah teman," jawab Zena.
" Kalau kamu butuh teman berlatih, hubungi aku. Ini kartu namaku," kata Samuel.
" Aku tidak punya kartu nama. Aku hanya karyawan biasa," kata Zena sambil meraih kartu nama dari tangan Samuel.
" Nanti kamu misscall saja aku," kata Samuel.
Sejak itu hubungan Zena dan Samuel semakin dekat. Hingga suatu hari Samuel menyatakan perasaan cintanya pada Zena mereka selesai berlatih.
__ADS_1
" Zena, sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah mulai suka dan jatuh cinta padamu. Maukah kamu jadi pacarku?!" ucap Samuel sambil memberikan Zena sebuah bunga mawar yang sudah sedari tadi disiapkannya.
Zena terdiam dan bingung harus bagaimana menjawabnya.
" Maaf Samuel. Aku masih belum terpikirkan untuk menjalin suatu hubungan," jawab Zena sedikit canggung.
" Apakah kamu sudah mencintai orang lain?" tanya Samuel kecewa.
" Benar. Tapi, dia tidak pernah menganggapku ada," kenang Zena saat Zaka menganggapnya lebih rendah dari kucingnya.
" Siapa dia? Siapa lelaki yang memperlakukan kamu seperti itu? Dia pasti buta mata dan hatinya," ucap Samuel kesal.
" Sudahlah, sekarang aku ingin sendiri untuk sementara," kata Zena sambil menghela nafas.
" Bolehkah aku mengejarmu?!" tanya Samuel lagi.
" Bagaimana, kamu pasti akan sangat lelah," jawab Zena.
" Mungkin aku akan lelah, tapi aku ingin berusaha membuatmu jatuh cinta. Itu saja," kata Samuel yakin bisa membuat Zena jatuh cinta.
" Terserah kamu saja. Walaupun aku selalu berharap kita bisa jadi teman saja," kata Zena.
" Biarkan aku mencintaimu."
Zena hanya bisa mengangguk pelan. Karena dia juga tidak bisa memaksa seseorang jatuh cinta atau sebaliknya.
***
Zaka tampak kesal dan marah mendengar gosip kedekatan Zena dan Samuel. Semua orang terkena imbasnya. Demikian juga terhadap Zena. Tapi Zena pura-pura tidak peduli dengan sikap Zaka yang terlihat cemburu.
Sore itu, Samuel datang menjemput Zena seperti biasanya. Zena segera keluar kantor begitu jam pulang tiba. Melihat tingkah Zena, Zaka juga ikutan bergegas pulang membuat Sinta heran dengan tingkah Zaka akhir-akhir ini.
Zena menemui Samuel yang sejak tadi sudah menunggunya.
" Hai, sudah lama menunggu? Maaf ya padahal aku tadi udah sesegera mungkin turun lho," kata Zena sambil tersenyum.
" Nggak kok, aku tadi yang kecepatan datengnya. Eh... tunggu, rambutmu ada sesuatu. Sini aku bantu buang," kata Samuel menawarkan bantuan.
" Iyakah, ada apa?" tanya Zena penasaran.
" Cuman daun kok, dah sini," kata Samuel.
Zena mendekat ke depan Samuel dan Samuel segera mengambil daun yang nyangkut di rambut Zena dengan mesra.
Zaka melihat apa yang di lakukan Samuel dengan kesal dan giginya terdengar gemeretuk menahan cemburu. Zena menyadari keberadaan Zaka, sehingga Zena sengaja bersikap lebih mesra terhadap Samuel.
Zaka semakin terbakar api cemburu dan dia ingin menghentikan adegan mesra itu.
__ADS_1
" Zena, belum pulang?" tanya Zaka saat dekat dengan Zena dan Samuel.
" Pak Zaka, mau pulang juga?" Zena balik bertanya.
" Iya. Ini siapa, pacarmu? Kenapa tak kau kenalkan padaku?" tanya Zaka.
" Perkenalkan ini Samuel ," kata Zena.
Samuel mengulurkan tangannya yang segera di sambut Zaka.
" Samuel."
" Zaka."
" Atasannya Zena?" tanya Samuel.
" Benar, silahkan kalian lanjutkan saya harus pulang dulu," kata Zaka menahan rasa cemburu dan amarah karena Zena sama sekali tidak membantah jika Samuel adalah pacarnya.
Zena tersenyum puas dalam hatinya melihat Zaka yang terlihat cemburu dan marah.
" Ini belum seberapa Zaka," ucap Zena dalam hati.
" Zena, bosmu terlalu perhatian sama kamu. Apa jangan-jangan dia suka sama kamu?!" tanya Samuel.
" Tidak. Tidak usah pedulikan di ia. Ini bukan jam kerja. Lebih baik kita lanjut sesuai rencana. Aku sudah lapar," jawab Zena mengalihkan pertanyaan Samuel.
Samuel hanya mengangguk pelan dan mereka segera pergi naik mobil Samuel.
Mereka makan disebuah restauran yang sederhana. Dan saat Samuel pergi ke toilet, ponselnya berdering dan Zena melihat peneleponnya namanya Sinta. Timbul rasa penasaran di hati Zena.
" Samuel, ponselmu berdering sedari tadi, angkat saja dulu," kata Zena ketika ponsel Samuel berdering kembali.
" Baiklah, aku pergi angkat telepon dulu ya?" kata Samuel setelah melihat peneleponnya, Sinta.
Zena mengikuti secara diam-diam untuk mendengarkan percakapan Samuel- dan Sinta.
" Hallo Sinta, ada apa kamu menghubungi aku?" tanya Samuel.
" Bagaimana tugas yang aku berikan padamu untuk mendekati Zena?" tanya Sinta.
" Kamu tenang saja. Zena sudah ada dalam genggamanku. Sekarang aku sedang makan bersama dengannya," jawab Samuel.
" Pastikan Zena akan jatuh cinta padamu," kata Sinta.
" Kamu tenang saja sayang, Zena pasti tidak akan menjadi penghalang mu," kata Samuel sambil tersenyum." Tugasmu akan aku laksanakan dengan baik."
Zena merasa kaget dengan percakapan Samuel dengan Sinta. Jadi Samuel adalah orang suruhan Sinta. Jadi kali ini Zena dan Samuel saling memanfaatkan.
__ADS_1
Samuel mendekati Zena untuk menjauhkannya dari Zaka sedangkan Zena memanfaatkan Samuel untuk membuat Zaka cemburu.
Sinta benar-benar membuat Zena marah. Suatu saat Zena pasti akan membuat Sinta menyesal telah meremehkannya.