Cinta Zena

Cinta Zena
Ingin sekarang


__ADS_3

Malam itu juga, bryan pergi ke rumah sakit untuk menemui sahabatnya. Disana, disebuah kamar VIP tergolek lemah tubu Zaka yang penuh luka. Bryan hampir tidak mengerti mengapa sahabatnya bisa berubah sejauh itu sejak berpisah dengan Zena yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.


Zaka pemuda modern,lalu mengapa dia begitu terobsesi dengan Zena? Andai saja, wanita yang dia cintai bukan Zena, pasti semua akan baik-baik saja. Bryan juga sadar, dia juga tidak akan bisa menyerahkan Zena pada Zaka. Apalagi sekarang Zena adalah istrinya lebih tidak mungkin lagi.


Akhirnya Zaka sadar juga meski dia masih merasa pusing dan merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit karena terluka.


"Zaka..."


"Bryan, kenapa kamu ada di sini? Bukankah ini malam pernikahan kamu?"


"Kamu memang jahat Zaka. Kamu yang mengacaukan malam pertamaku dengan Zee," gumam Bryan.


"Bryan, aku tidak mendengar apa yang kau katakan."


"Zaka, istirahatlah agar kau cepat sembuh. Aku jaga kau malam ini."


Bryan mengambil tempat duduk yang agak nyaman untuk menemani zaka malam ini. Sementara Zee tidur sendirian di malam pengantinnya.


Pagi yang cerah. Ayah dan ibu Zaka baru saja datang dari luar negeri dan segera mencari ruang rawat inap Zaka. Tidak disangka mereka bertemu Bryan yang baru saja ketiduran menjaga Zaka.


Bryan terbangun ketika mendengar bunyi pintu terbuka.


"Pagi om Tante. Karena om dan Tante sudah datang, Bryan pamit dulu."


"Ya Bryan, terimakasih sudah bersedia menjaga Zaka semalaman," kata sang ibu.


"Zaka, aku pergi dulu. Segeralah sembuh."


Bryan melangkah pergi meninggalkan Zaka dan kedua orang tuanya .


"Zaka, kenapa Bryan sampai menginap disini. Bukannya semalam harusnya dia sedang malam pengantin. Apa yang kamu lakukan, Zaka?" tanya ibunya Zaka kaget.

__ADS_1


"Itu tidak benar Zaka. Kamu sudah mengganggu privasi orang lain. meski itu sahabat kamu sendiri," sambung ayahnya.


Zaka hanya terdiam. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa melakukan itu pada Bryan dan Zena.


"Zaka, demi kamu, Bryan rela meninggalkan malam pertamanya. Jadi relakan mereka bahagia nak. Suatu saat kamu juga akan menemukan kebahagiaan kamu sendiri," ibunya terus menasehatinya.


"Apa kau mencintai Zena?" tanya sang ibu.


"Sangat," jawab Zaka singkat.


"Jika kau mencintainya pasti kamu juga ingin melihatnya bahagia bukan?"


"Tentu saja. Saat dia sedih, aku yang lebih sedih dari dia."


"Saat ini hanya Bryan yang bisa membuat Zena bahagia. Jadi biarkan mereka bahagia demi Zena?!" kata sang ibu.


Zaka hanya terdiam. Rasanya dia ingin menangis tetapi memang benar kata ibunya, kebahagiaan Zena diatas segalanya. Mencintai tidak selamanya harus memiliki.


Sementara Zena menahan rasa kecewanya Karena malam pertamanya yang gagal karena Zaka. Bukan karena dia marah pada Bryan tapi kecewa karena Zaka mampu mempengaruhi pernikahan mereka. Untung saja kedua mertuanya segera balik ke luar negeri setelah acara pernikahan selesai.


Esoknya, Bryan datang dengan kondisi lusuh sehabis menjaga Zaka.


"Mas, sana mandi dulu. Aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu," ucap Zena pelan.


"Iya. Kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak marah padaku kan?!" tanya Bryan ketika melihat Zena agak cemberut.


"Nggak lah mas, untuk apa aku marah. Nanti langsung turun ya, aku udah menyiapkan sarapan untuk kita," jawab Zena sambil tersenyum.


"Oke."


Bryan bergegas mandi dan berganti pakaian. Entah kenapa dia merasa tidak ingin sarapan pagi ini. Dia bersandar di tepi ranjang dan teringat semalam. Malam pertamanya yang gagal di detik-detik terakhir. Sungguh membuat hatinya kecewa.

__ADS_1


Zena menunggu Bryan dengan sabar dimeja makan. Setelah lama menunggu, pikiran Zena tidak enak karena Bryan tidak juga turun. Zena segera naik untuk melihat apa yang terjadi.


Saat membuka pintu kamar, Zena kaget melihat Bryan malah duduk bersandar di tepi ranjang sambil melamun Zena mendekati Bryan pelan-pelan karena takut membuat Bryan kaget.


"Mas, ada apa?" tanya Zena mengagetkan Bryan.


"Ada apa, ada apa?!" kata Bryan reflek.


"Mas ini, ditunggu dibawah untuk sarapan kok malah melamun di sini."


Zena tersenyum sedangkan Bryan tertunduk malu.


"Aku ingat yang semalam," katanya malu.


Mendengar perkataan suaminya, Zena juga tersipu malu.


"Aduh mas, kenapa mesti di ingatkan sih."


"Zee, duduk sini bentar. Ada yang mau aku bicarakan," kata Bryan modus.


Zena menurut saja duduk di samping Bryan yang segera memeluknya dari samping. Nafasnya memburu tak beraturan. Gairahnya mulai naik setelah mencium aroma wangi rambut dan leher Zena. Debaran jantung Bryan membuat Zena ikut terbawa suasana.


Ciuman Bryan mengawali aksinya yang lebih berani. Tangannya tak bisa diam di satu tempat. Namun ketika sampai pada sebuah bukit kenyal milik Zena, tangannya berhenti seolah menemukan mainan baru. Setelah puas bermain dengan bukit kenyal istrinya, Bryan merebahkan tubuh Zena dan membantunya membuka pakaian Zena. Zena spontan menghentikan kegiatan Bryan.


"Tunggu, ini masih pagi. Apa tidak menunggu malam saja?" tanya Zena sambil memegang tangan Bryan yang sudah membuka beberapa kancing bajunya.


"Apa bedanya pagi atau malam. Asal tidak ada yang mengganggu, bagiku sama saja," jawab Bryan tersenyum.


Zena menyadari bahwa hasrat Bryan sudah tertunda sejak semalam dan pagi ini mungkin dia sudah tidak sabar ingin melakukannya. Zena bingung harus bersikap bagaimana.


Apakah salah jika dia menolak berhubungan dengan sang suami di pagi hari?

__ADS_1


__ADS_2